Home » Beda Investasi Reksa Dana Dulu vs Sekarang

Beda Investasi Reksa Dana Dulu vs Sekarang

oleh | Jul 2, 2021

Pada zaman sekarang reksa dana jadi salah satu produk investasi yang cukup populer di kalangan anak muda, karena kemudahan transaksi dan minimum transaksi yang sangat terjangkau. Nah, kalau bicara soal zaman sekarang, segala sesuatunya, kan, sudah makin gampang, ya, kalau dibandingkan dulu. Apa saja, ya, yang bikin investasi reksa dana zaman sekarang jadi makin gampang dibandingkan dulu? Simak baik-baik perbedaannya berikut ini!

1. Reksa dana dulu produk eksklusif yang nggak bisa dibeli semua orang

Rich man via Freepik

Sekitar dua dekade lalu, produk pasar modal, termasuk reksa dana merupakan produk eksklusif yang bikin nggak semua orang bisa beli. Untuk menjaga eksklusivitasnya, pada awal perilisannya di Indonesia minimum pembelian reksa dana mencapai Rp100 juta. Minimum investasi reksa dana yang sangat besar bikin bank-bank yang dapat lisensi jadi Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) menargetkan investor produk reksa dana dari nasabah-nasabah prioritas saja.

Beda banget dengan investasi reksa dana zaman sekarang yang bisa dibilang investasi receh, karena sudah banyak produk yang minimum pembeliannya mulai dari Rp10 ribu saja. Makanya, asumsi bahwa kalau mau investasi harus nunggu kaya dulu, sepertinya udah nggak relevan lagi, deh. Coba bayangkan, minimum pembelian reksa dana dulu bisa buat beli mobil, sekarang minimum pembeliannya hanya setara dengan harga seblak!

2. Investasi reksa dana dulu kudu ngongkos 

Transport fee via Freepik

Dulu, produk reksa dana hanya dijual melalui cabang bank yang punya izin sebagai Agen Penjual Reksa Dana (APERD), di kantor cabang perusahaan sekuritas, atau langsung di kantor perusahaan Manajer Investasi. Ongkos yang dimaksud di sini adalah biaya transportasi yang harus kamu keluarkan untuk datang ke salah satu tempat tersebut.

Sekarang, semua jadi dipermudah banget, karena untuk investasi reksa dana, kamu nggak perlu lagi buang-buang ongkos untuk datang ke bank, kantor sekuritas, atau perusahaan MI. Investasi reksa dana kini ada di genggamanmu, karena kamu nggak perlu lagi datang ke tempat untuk beli atau jual reksa dana, cukup melalui aplikasi di ponsel pintarmu, salah satunya tanamduit.

3. Proses transaksi butuh waktu lebih lama

Kalau ngomongin waktu, proses transaksi reksa dana zaman dulu itu lama banget. Misalnya kamu beli reksa dananya di bank. Mulai dari antri di customer service sampai isi formulir pembukaan rekening dalam bentuk hard copy bisa memakan waktu 3—4 jam. Belum lagi, proses pembukaan rekening reksa dana bisa memakan waktu 2—3 hari. Baru, deh, setelah pengajuan rekeningmu disetujui, kamu baru bisa mulai investasi reksa dana. Nggak cuma itu, konfirmasi pembelian reksa dana paling cepat kita dapatkan tiga hari setelah tanggal kita beli reksa dananya. Nah, kalau sewaktu-waktu kamu ingin menjual unit reksa dana yang kamu punya, dana hasil penjualan tersebut baru akan masuk ke rekeningmu paling cepat tiga hari bursa untuk produk reksa dana pasar uang (RDPU) hingga tujuh hari bursa, untuk produk reksa dana pendapatan tetap (RDPT), reksa dana saham (RDS), dan reksa dana campuran (RDC).

Waiting via Shutterstock

Berbeda jauh kondisinya dengan sekarang, pembukaan rekening reksa dana melalui aplikasi cukup lima menit saja. Besoknya, kamu langsung bisa memulai transaksi pertama kamu. Transaksi pembelian reksa dana juga jauh lebih cepat dibandingkan dulu. Unit reksa dana yang kamu beli akan masuk ke portofoliomu keesokan harinya, dengan catatan, kamu membelinya di bawah pukul 13.00. Untuk pembelian reksa dana di atas pukul 13.00 akan diproses keesokan harinya dan unit reksa dananya akan masuk ke portofolio kamu lusa. Nah, untuk transaksi jual reksa dana (redemption), secara teknis mirip dengan transaksi beli reksa dana (subscription). Hanya saja, yang membedakan adalah estimasi waktu penerimaan hasil penjualan reksa danamu. Untuk produk RDPU, biasanya keesokan harinya, maksimal pukul 17.00 dana hasil penjualan reksa dana akan masuk ke rekening kamu (kalau dijual di bawah pukul 13.00). Untuk produk reksa dana lainnya, dana hasil penjualan akan masuk rekeningmu 3—5 hari setelah tanggal penjualan.

4. Ada biaya beli (subscription fee) dan biaya jual (redemption fee)

Waiting via Shutterstock

Kalau kamu membeli reksa dana melalui bank yang mendapat lisensi APERD, kamu akan dikenakan biaya pembelian sebesar 1% dari total dana yang kamu investasikan. Nah, kalau sewaktu-waktu mau jual reksa danamu, khususnya RDPT, RDC, dan RDS, kamu juga akan dikenakan biaya penjualan. Biaya penjualan reksa dana yang dikenakan oleh tiap bank berbeda-beda, berkisar 1—3% dari total investasimu, tergantung kebijakan masing-masing bank.

Sekarang, kalau kamu melakukan pembelian reksa dana melalui aplikasi seperti tanamduit, kamu tidak akan dikenakan biaya pembelian dan biaya penjualan. Jauh lebih menguntungkan, kan?

5. Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit reksa dana di-update via koran

Nett Asset Value via Shutterstock

Kamu hobi mantengin portofolio investasimu setiap hari? Investor reksa dana zaman lampau pasti kamu paham banget deh, ribetnya buat memantau portofolio investasi reksa dana kita, karena NAB per unit reksa dana di-updatenya di koran. Belum lagi, untuk menghitung pertumbuhan nilai investasi, kamu harus menghitungnya secara mendiri melalui aplikasi Excel.

Kondisinya tentu sudah jauh berbeda dibandingkan sekarang. Pertumbuhan nilai investasimu akan ter-update setiap harinya di aplikasi. Di aplikasi tanamduit portofoliomu akan update setiap pagi, lho.

Wah, ternyata zaman sudah jauh berubah dan berkembang pesat, ya. Segala aspek, mulai dari minimum pembelian yang terjangkau, efisiensi waktu, proses transaksi, dan update portofolio investasi reksa danamu sekarang sudah ada dalam genggaman tanganmu setiap hari. Informasi mengenai investasi reksa dana juga bisa kamu akses dari mana pun dan kapan pun. Udah nggak ada alasan lagi untuk nggak mulai investasi reksa dana, karena siapa pun, bisa mulai dari sekarang!

 

Penulis: Syafira Maulida

banner-download-mobile