Home » Jangan Takut Tapering!

Jangan Takut Tapering!

oleh | Agu 24, 2021

Halo, temanduit!

Isu The Fed akan mulai melakukan tapering pada tahun ini kembali menghebohkan pasar. Tapering dapat diartikan sebagaipengehentian stimulus menjadi sosok yang sangat menakutkan bagi pasar. Eits, sebaiknya kamu tahan dulu ketakutanmu, kita kupas tuntas pada pembahasan tanamduit Outlook berikut! Berikut sentimen perekonomian yang mempengaruhi kondisi pasar seminggu belakangan.

1. Tapering off hanya sementara, jangan takut!

Tapering adalah langkah untuk mengurangi likuiditas uang di pasar karena krisis yang terjadi dinilai sudah membaik, dimana angka pengangguran sudah rendah, kapasitas produksi sudah optimal, pertumbuhan ekonomi kembali normal dan inflasi sudah relative tinggi. Dalam hal ini yang ditakutkan dunia adalah kebijakan tapering oleh the Fed selaku bank sentral Amerika Serikat. Ada 2 tahap tapering yang akan dilakukan oleh the Fed, yang pertama adalah dengan mengurangi pembelian obligasi atau surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah Amerika Serikat, sehingga sebagian obligasi yang jatuh tempo tidak diperpanjang, akibatnya likuiditas uang menurun. Tahap kedua adalah dengan menaikkan tingkat suku bunga yang dilakukan jika inflasi sudah terlampau tinggi secara menerus dalam beberapa bulan terakhir.

Chief Economist tanamduit, Ferry Latuhihin mengatakan bahwa belum ada tanda-tanda the Fed akan menaikkan suku bunga. Salah satu indikasinya adalah tiga orang penting dari the Fed belum membuat pernyataan apapun mengenai tapering. Ketiga orang tersebut adalah adalah Jerome H. Powell (Chairman), Richard H. Clarida (Vice Chair) dan Randal K. Quarles (Vice Chair for Supervision). Sejauh ini, tidak ada perubahan pernyataan Powell bahwa tapering diindikasikan baru akan terjadi di Q4 tahun 2023. Informasi terkait tapering untuk saat ini masih hanya berupa rumor saja. Data pasar yang menunjukkan kecilnya kemungkinan tapering dalam waktu dekat adalah US 10 Year Bond Fund tidak naik dan masih bertahan di level 1,2%-an, indikasi lainnya adalah Dow Jones Index masih tetap di level yang tinggi dan telah tumbuh sekitar 25% setahun terakhir. Sementara itu, di IDX terjadi net buy saham oleh investor asing sekitar Rp1,74 triliun rupiah sepanjang minggu lalu.

Dari catatan yang ada, the Fed memiliki data historis yang sangat panjang mengenai pergerakan penyebab inflasi dan tingkat suku bunga untuk menjadi referensi sebelum mengambil keputusan penting, bukan berdasarkan rumor atau desakan pelaku pasar. Saat ini, the Fed menilai bahwa inflasi yang terjadi masih bersifat siklikal dan belum berkelanjutan, sehingga tidak ada alas an yang kuat bagi the Fed untuk melakukan tapering.

2. Pasar khawatir tapering, IHSG drop mendadak

Minggu yang lalu IHSG sempat turun 2,1% dalam sehari, dimana pelaku pasar mendengar rumor the Fed akan menerapkan tapering dengan cara menaikkan suku bunga sebagai konsekuensi naiknya inflasi yang berada di atas ekspektasi pasar.

Turunnya IHSG dan juga Reksa Dana Saham yang cukup dalam di minggu yang lalu adalah karena reaksi yang berlebihan dari investor ritel saham atas berkembangnya isu tapering tanpa memahami mengapa tapering perlu dilakukan. Sementara itu, investor asing masih melakukan pembelian terutama pada saham blue chips dan teknologi.

Faktor utama mendasar yang akan mempengaruhi perkembangan IHSG adalah keberhasilan vaksinasi di Indonesia. Saat ini, ketersediaan vaksin kembali meningkat setelah datangnya sejumlah vaksin dari Amerika dan Tiongkok, di lain pihak jumlah vaksin yang disuntikkan sudah menyentuh 2 juta vaksin per hari dan kesadaran masyarakat untuk melakukan vaksin juga semakin tinggi. Sementara itu, PPKM yang dimulai sejak 3 Juli 2021 yang lalu sudah menunjukkan hasil yang semakin membaik, dimana jumlah kasus baru pernah mencapai 70.000 per hari per tanggal 21 Agustus turun ke level 12.000 per hari dan tingkat keterisian tempat tidur di Rumah Sakit (Bed Occupancy Ratio) untuk pasien covid sudah menurun dari level 90% menjadi di bawah 50%. Jika hal ini terus berlangsung maka kegiatan ekonomi akan semakin menggeliat dan permintaan yang tertunda (pent-up demand) akan mendorong tingkat konsumsi rumah tangga. Faktor ini dapat membuat IHSG akan mengalami peningkatan yang signifikan hingga 6700-6800 sampai dengan akhir tahun 2021 ini.

3. Volatilitas tinggi. risky asset masih menarik?

Di tengah gejolak pasar yang ada, Chief Economist tanamduit memproyeksikan IHSG masih akan baik ke depannya. Oleh karena itu, instrumen risky asset  seperti reksa dana saham dapat menjadi pilihan yang masih relevan bagi investor dengan toleransi risiko yang tinggi, baik yang dikelola dengan aktif maupun pasif seperti reksa dana IDX30. Akan tetapi, buat investor yang memiliki toleransi risiko sedang atau rendah sebaiknya dapat memilih reksa dana pendapatan tetap (RDPT), reksa dana pasar uang (RDPU), ataupun reksa dana campuran (RDC). Produk reksa dana campuran dikelola dengan fleksibel karena dikelola secara adaptif sesuai kondisi pasar sehingga bisa menjadi salah satu instrumen pilihan di tengah volatilitas yang tinggi.

Market masih berpotensi bullish! Fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan pola pemulihan berbentuk V-shaped,  yang menandakan pemulihan berjalan dengan baik. Jangan takut tapering ya temanduit! Yuk, sesuaikan strategi kita untuk menghadapi gejolak pasar yang masih akan tinggi ke depannya.

Berdasarkan ulasan Ferry Latuhihin (Chief Economist tanamduit)

Kontributor: Muhammad Alvin Darari

banner-download-mobile