Home » Kredit Macet Mengganjal Market

Kredit Macet Mengganjal Market

oleh | Sep 13, 2021

Halo, temanduit!

Isu akan diberlakukannya tapering atau pengurangan likuiditas keuangan di pasar oleh The Fed sudah mereda. Hal ini ditandai dengan USD 10 Year Bond Yield yang masih stabil di level 1,3 persenan. Sama halnya dengan Indonesia IDR 10 Year Bond Yield yang masih stabil di level 6,2 persenan dan suku bunga acuan Bank Indonesia (7 Days Reverse Repo Rate Bank Indonesia) yang bertahan sejak awal tahun di level 3,5 persen.

Sentimen positif lain datang dari jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia yang terus menunjukkan penurunan yang signifikan dari level 70.000-an kasus pada pertengahan Juli lalu, menjadi di bawah 6.000 kasus sejak beberapa hari terakhir. 

Berikut ulasan tanamduit Outlook minggu ini.

1. Loan at Risk (LAR) perbankan menghambat pertumbuhan IHSG

Isu tapering yang mereda serta menurunnya kasus harian Covid-19 tidak beriringan dengan membaiknya angka IHSG. IHSG masih terus bergerak naik turun pada level 6.000-6.200-an. Berbeda halnya dengan indeks harga saham di negara tetangga seperti India yang sudah naik >20% year to date dan Singapura naik sekitar 7% year to date.

IHSG yang masih gitu-gitu aja, terutama di sektor perbankan dipengaruhi oleh kenaikan angka kredit bermasalah. Pada akhir Juli 2021, rasio kredit macet alami kenaikan dari 3,06% di akhir 2020 menjadi 3,35%. Dilansir dari Info Bank News, posisi Loan at Risk (LAR) juga sudah mencapai angka 25%, sedangkan rasio kecukupan modal berada di sekitaran 23–24% Loan at risk (LAR) merupakan indikator risiko gagal bayar atas kredit yang disalurkan. 

Angka-angka tersebut menunjukkan situasi yang tidak baik bagi perbankan. Secara terpisah bankir-bankir dan para pengusaha besar telah menyampaikan situasi yang sedang mereka hadapi kepada Presiden RI minggu lalu, namun hingga sekarang belum ada jawaban pasti yang bsia jadi pegangan pelaku pasar. Akhirnya, pelaku pasar memilih untuk wait and see solusi atas permasalahan kredit macet di perbankan ini.

2. Apakah IHSG Berpeluang Menguat Sampai Akhir Tahun 2021?

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi menguat atau tidaknya IHSG akhir tahun 2021 antara lain adalah naiknya Indeks PMI, naiknya tingkat inflasi dibandingkan bulan sebelumnya, meningkatnya angka ekspor impor, peningkatan angka penjualan kendaraan bermotor, serta meningkatnya Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Kalau secara keseluruhan indikator tersebut dapat terpenuhi, hal ini tentu jadi indikasi baik bahwa ekonomi Indonesia akan menggeliat dan bisnis perusahaan akan meningkat sehingga IHSG berpeluang naik.

3. Apa yang harus dilakukan oleh investor reksa dana saham?

Investasi di reksa dana saham untuk jangka pendek masih sangat berisiko, tetapi bagi kamu yang risk taker, tetaplah alokasikan sebagian dana investasimu pada instrumen reksa dana saham. Namun, jika indikator-indikator perekonomian di atas tidak sesuai ekspektasi dalam jangka pendek, kamu bisa memperpanjang jangka waktu investasimu, setidaknya lebih dari satu tahun. Diharapkan rasio kredit macet tahun depan sudah membaik, vaksinasi Covid-19 semakin bertambah signifikan, dan kasus harian Covid-19 tidak bertambah signifikan.

Kontributor: Muhammad Hanif

 

banner-download-mobile