Home » Market Masih Galau dengan Covid

Market Masih Galau dengan Covid

oleh | Jul 14, 2021

Ketakutan masih menghantui hari demi hari. Virus Covid-19 yang terus bermutasi menjadi varian baru makin memperburuk keadaan. Media massa dan media sosial penuh dengan berita duka. Dilansir dari CNBC Indonesia, PPKM Darurat rencananya akan diperpanjang menjadi 4—6 minggu. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan laju penyebaran virus di masyarakat.

Keadaan seperti ini membuat market terus dibuat galau oleh Covid-19. Si kecil satu ini berhasil membuat kondisi pasar seminggu belakangan stagnan di angka 6.000-an awal aja. Berikut sentimen perekonomian yang mempengaruhi kondisi pasar seminggu belakangan.

1. Angka kenaikan kasus Covid-19 yang semakin tinggi jadi tersangka utama

Nilai tukar rupiah terhadap dolar kemarin sempat turun akibat sentimen positif dari terkendalinya gelombang kedua Covid-19. Di sisi lain, gelombang kedua membuat situasi jadi penuh ketidakpastian. Pada gelombang pertama lalu, pemerintah dianggap berhasil menangani pandemi. Hal ini dibuktikan dengan angka penularan virus yang terkendali seiring dengan pemulihan ekonomi yang terlihat V-Shaped. Kalau melihat angka pertambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia yang terus memecahkan rekor (hingga mencapai 40 ribu kasus/hari), Ferry Latuhihin, Chief Economist tanamduit memprediksi bahwa market akan sangat tertekan. Sejauh ini, market masih terus menunggu kepastian upaya pemerintah untuk menangani Covid-19. Jika pemerintah berhasil menunjukkan keseriusan dan hasilnya sesuai dengan ekspektasi pasar, maka tidak menutup kemungkinan indeks akan melesat lagi.

2. Tappering

 Suku bunga The Fed baru bisa diutak-atik mulai tahun 2023 nanti. Jadi, isu bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga masih berupa wacana saja. Tingkat pengangguran di AS masih berada di sekitar 5,5–5,8% dan inflasi masih tinggi, dikarenakan supply bottleneck (kemacetan produksi). Kemacetan produksi ini disebabkan oleh kurangnya pekerja sehingga angka permintaan terhadap suatu barang tidak terpenuhi.

 Kebijakan quantitative easing (pelonggaran kuantitatif) yang diambil masih terfokus pada pencetakan uang seperti helicopter money yang akan dilakukan oleh AS hingga tahun 2030 nanti untuk mendorong pemulihan ekonomi. Bahkan, Ferry Latuhihin meyakin bahwa tidak akan terjadi tapper tantrum seperti yang dikhawatirkan, karena sudah diantisipasi sebelumnya.

Kita hanya bisa berdoa dan menaati semua protokol kesehatan dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah agar kurva Covid-19 semakin turun dan roda perekonomian kembali berputar lagi. So, masih jadi waktu yang tepat untuk buy and hold reksa dana saham dan kita tunggu sampai akhir tahun nanti, saat IHSG diprediksi akan menyentuh angka 6.700. Yuk, tambah portofolio kamu di reksa dana saham sekarang!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

banner-download-mobile