Home » tanamduit Outlook 12 April 2021 – Rosy Outlook 2021—2030

tanamduit Outlook 12 April 2021 – Rosy Outlook 2021—2030

oleh | Apr 13, 2021

Halo, temanduit!

Indeks pasar saham masih merah merona, seolah menarik-ulur perasaan para investor yang terbagi menjadi dua kubu: penuh kekhawatiran atau jadi kesempatan emas buat terus top-up. Naik turunnya harga saham seminggu belakangan cukup membuat kita deg-degan, sekalipun Ferry Latuhihin, Chief Economist tanamduit tetap optimistis bahwa laju perekonomian akan terus membaik dan IHSG tetap possible menyentuh angka 7.000 pada akhir tahun, bahkan pada kuartal ketiga 2021.

Pada tanamduit Outlook kali ini, tanamduit kedatangan dua tamu spesial dari UOB Asset Management dan Bisnis Indonesia, yaitu Albert Z Budiman (CIO UOB Asset Management) dan Lulu Terianto (Presiden Direktur Bisnis Indonesia). Selain membahas sentimen perekonomian seminggu belakangan serta prospek pasar yang akan bersemi sampai tahun 2030 nanti, kita juga membahas Indeks Bisnis 27, salah satu indeks yang cukup diminati oleh para investor.

Yuk, kita kupas tuntas bersama-sama sentimen perekonomian seminggu belakangan dan Indeks Bisnis 27 ini!

 

1. Volatilitas harga saham menguat akibat keterbatasan vaksin

Beberapa minggu terakhir, IHSG terus alami kenaikan dan penurunan, meskipun sudah memasuki bulan April. Tekanan pada harga saham-saham seminggu belakangan disebabkan oleh naiknya yield obligasi pemerintah AS yang awalnya di bawah 1 persen, menjadi 1,76 persen, meskipun sekarang sudah sedikit turun ke angka 1,6 persen. IHSG semakin tertekan lagi dengan hantaman isu gelombang ketiga Covid-19 di negara produsen vaksin. Hal ini berakibat pada pasokan vaksin di Indonesia yang dikurangi jadi 2/3 dari total vaksin yang seharusnya didistribusikan. Meskipun begitu, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin terus mengusahakan untuk melobi negara-negara produsen untuk tetap menambahkan porsi distribusi vaksin di Indonesia. Selama distribusi vaksin kembali normal, Ferry Latuhihin optimis volatilitas ini akan mereda.

2. Fundamental ekonomi menguat, pasar semakin optimis

Ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2021 diprediksi akan tumbuh tinggi hingga mencapai angka 7—8 persen didorong dari baseline pertumbuhan ekonomi yang rendah pada kuartal kedua tahun 2020 akibat pandemi Covid-19. Di sisi lain, pemerintah memprediksikan bahwa perekonomian berpeluang menguat pada rentang angka 4,7—5,3 persen. Fundamental ekonomi, khususnya kebijakan pemerintah terhadap perbankan mengenai restrukturisasi kredit macet perlu diperhatikan agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.

Selain itu, permasalahan pasokan vaksin bukanlah masalah sistemik sehingga tidak akan jadi masalah besar bagi fundamental ekonomi kita. Ke depannya, tentu akan ada alternatif lain untuk meningkatkan jumlah vaksin di Indonesia.

 

3. Potensi IHSG ke level 7.000 didorong oleh saham cyclical yang pertumbuhannya paling tinggi

Dilansir dari CNBC Indonesia, saham cyclical merupakan saham perusahaan yang pendapatannya dipengaruhi kondisi makro ekonomi dan siklus bisnis. Saham-saham yang masuk kategori cyclical di antaranya saham dari perusahaan properti, konstruksi, tambang, peternakan, perkebunan dan sector komoditas lainnya. Saham-saham cyclical dan perbankan yang terdampak cukup besar saat awal pandemi tahun 2020 diprediksi pertumbuhannya tahun ini paling tinggi dan mampu menyokong pertumbuhan IHSG ke level 7.000. Saham cyclical ini akan terbantu dengan tingginya harga komoditas seiring dengan pulihnya aktivitas perekonomian global.

 

Kenalan dengan Indeks Bisnis 27!

Indeks Bisnis 27 menjadi salah satu indeks yang cukup diminati investor sebagai acuan dalam berinvestasi selain mengacu pada LQ45 ataupun IDX30. Indeks Bisnis 27 pertama kali dirilis pada 27 Januari 2009. Indeks ini merujuk pada IDX30, namun yang spesial dari Indeks Bisnis 27 ini mengandalkan saham-saham bluechip dari masing-masing sektor industri. Lulu Terianto selaku Presiden Direktur Bisnis Indonesia mengatakan bahwa Indeks Bisnis 27 dikelola langsung oleh tim dari harian Bisnis Indonesia yang bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI memberikan fasilitas online melalui sistem JATS (Jakarta Automatic Trading System) yang kemudian dikelola oleh Bisnis Indonesia Intelligence Unit (BIIU).

Untuk tahap evaluasi dari Indeks Bisnis 27 sendiri, faktor fundamental bagi emiten nonbank akan dilihat dari laba usaha, laba bersih, ROA dan ROE atau tingkat imbal hasil aset dan ekuitas, serta rasio utang terhadap ekuitas atau Debt Equity Ratio (DER). Sementara itu, saham perbankan dinilai berdasarkan laba bersih ROA dan ROE, nilai rasio kredit, dan kecukupan modal. Penilaian tersebut juga didasari perhitungan teknikal atau likuiditas transaksi yang akan dilihat melalui data harian transaksi, nilai, volume, frekuensi transaksi, dan kapitalisasi pasar. Emiten-emiten tersebut akan direview berkala tiap enam bulan sekali, yakni pada awal April dan Oktober.

Menurut Albert Z Budiman, CIO UOB Asset Management, perfoma Indeks Bisnis 27 sangat baik ketika kondisi pasar sedang turun (bearish) seperti sekarang. Reksa dana indeks termasuk dalam kategori passive fund. Reksa dana indeks harus mencerminkan performa dari benchmark dan harus mempunyai tracking error maksimum di angka 5 persen sebagaimana diatur oleh OJK. Namun, UOB AM sendiri menetapkan standar maksimum tracking error di angka 1 persen dan sejauh ini tracking error UOB AM selalu di bawah 1 persen. Secara umum, performa dari Indeks Bisnis 27 lebih baik kalau dibandingkan dengan IDX30 dan LQ45. Indeks Bisnis 27 menetapkan target berdasarkan target per sahamnya dengan mengonsentrasikan saham di big cap, sehingga performa Indeks Bisnis 27 lebih baik dibandingkan dengan indeks lain. Selain itu, salah satu alasan menjadian Indeks Bisnis 27 sebagai acuan yang disukai UOB dikarenakan likuiditas dari saham pilihannya terjamin, minimal 10 M per harinya. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau performa dari indeks ini konsisten.

 

 

 

tanamduit masih optimistis bahwa IHSG akan tetap mencapai level 7.000 pada akhir tahun, bahkan mungkin terjadi lebih cepat terlepas volatilitas yang terjadi beberapa waktu belakangan dan hal ini diamini oleh UOB AM. Investor akan mempunyai lebih banyak pilihan pada tahun ini dengan hadirnya holding industry baterai, banyaknya emiten dari sektor teknologi yang akan segera IPO, serta mega merger Gojek x Tokopedia.

Nah, jadikan kondisi pasar sekarang dan proyeksi positif beberapa tahun ke depan sebagai kesempatan kamu untuk terus menambah portofolio kamu di reksa dana saham sekarang. Yuk, tambah portofolio reksa dana saham kamu di tanamduit sekarang!

 

 

Berdasarkan ulasan Ferry Latuhihin (Chief Economist tanamduit)

Kontributor: Syafira Maulida

 

banner-download-mobile