Home » tanamduit Outlook 14 Juni 2021 – Jangan Takut Inflasi!

tanamduit Outlook 14 Juni 2021 – Jangan Takut Inflasi!

oleh | Jun 15, 2021

Berbeda dengan dua pekan lalu, IHSG seminggu belakangan masih bergerak di situ-situ aja, berada di sekitaran 5.900—6.000an rendah. Isu Covid-19 belum benar-benar usai, sekarang market juga dibayang-bayangi isu inflasi yang cukup tinggi di Amerika. Seirama dengan topik bahasan tanamduit Outlook kali ini yang mengangkat judul “Jangan Takut Inflasi!”

Yuk, kita simak beberapa sentimen perekonomian seminggu belakangan berikut yang mempengaruhi kondisi market!

 

1. Inflasi AS jadi penentu perekonomian global

Indeks harga konsumen Amerika Serikat melanjutkan kenaikan sebesar 5% pada bulan Mei, dari bulan sebelumnya sebesar 4,2%. Ini menjadi kenaikan tertinggi sejak 2008. Meskipun begitu, tampaknya inflasi yang tinggi ini sifatnya hanya sementara dan akan mereda seiring pemulihan ekonomi. Lonjakan inflasi disebabkan oleh gangguan dari sisi kapasitas produksi (supply), padahal pemerintah Amerika gencar menggelontorkan stimulus untuk meningkatkan permintaan pasar (demand). Perlu diingat di awal2 pandemi demand turun dan memaksa penggunaan kapasitas produksi juga ikut turun.

Ferry Latuhihin, Chief Economist tanamduit melihat kenaikan harga sebagai suatu hal baik, karena hal ini menandakan daya beli masyarakat meningkat. Justru, hal yang lebih mengkhawatirkan adalah deflasi.

Permintaan pasar yang belum kuat bisa dilihat dari beberapa indikator seperti yield obligasi yang turun dari 1,9% menjadi 1,46% dan angka pengangguran yang masih tinggi dari 9% menjadi 5.8%. Pemerintah Amerika menargetkan angka pengangguran di angka 3.5%.

Angka partisipasi tenaga kerja Amerika terkendala oleh angkatan kerja yang tidak aktif mencari kerja karena merasa sudah terpenuhi oleh stimulus pengangguran pemerintah.

Saat ini, kita masih menantikan apakah The Fed akan menanggapi kenaikan inflasi yang terjadi. Ada kekhawatiran dari pelaku pasar jika inflasi AS meroket, maka The Fed perlu menaikkan suku bunga acuan untuk mengantisipasi kenaikan inflasi dan mengakhiri stimulus ekonomi. Nah, hal inilah yang bisa menyebabkan taper tantrum.

 

2. Inflasi domestik Indonesia meningkat, salah satu side effect Pent-up Demand

Inflasi bulan Mei di Indonesia sesuai dengan perkiraan (konsensus) sebesar 1.68% (YoY), meningkat dari inflasi bulan lalu sebesar 1,42% (YoY) terdorong dari momentum bulan puasa yang secara historis memang mengalami kenaikan. Namun perlu di ingat, inflasi yang berlangsung sekarang, baik di AS mau pun di Indonesia sifatnya sementara, karena saat supply sudah bisa memenuhi angka permintaan masyarakat, inflasi pasti bisa dikurangi dan harga-harga dapat kembali normal. Sejauh ini, Ferry Latuhihin melihat masih ada gap antara potensi ekonomi di masa mendatang dengan kondisi perekonomian sekarang.

Meskipun begitu, inflasi kita nggak setinggi saat kondisi normal pra-Covid-19. Inflasi justru bisa lebih dikendalikan saat masa pandemi seperti sekarang. Mengenai kondisi pasar nantinya, kita masih menunggu angka-angka perekonomian kuartal kedua yang akan keluar di bulan Juli nanti. Jika angka-angka tersebut sesuai dengan ekspektasi, indeks diprediksi akan tumbuh layaknya kuda liar yang dilepas dari kandangnya. Jadi, tunggu tanggal mainnya ya~

 

3. Pajak sebagai instrumen pemerintah untuk mengendalikan inflasi

Isu penyesuaian tarif PPN barang sempat menghebohkan Indonesia beberapa waktu belakangan. Dilansir dari artikel Medcom.id, Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan membeberkan alasan penyesuaian tarif PPN untuk sektor-sektor tertentu. Ia menyebut, penyesuaian ini dilakukan demi memberi rasa keadilan bagi wajib pajak. Nantinya, akan ada sektor yang dikenakan PPn dan sektor yang tidak dikenakan PPN. Ada sektor barang/jasa tertentu yang tarif PPNnya lebih rendah dan barang-barang yang dianggap mewah akan dikenakan tarif PPN lebih besar.

Kebijakan penyesuaian tarif PPN sedikit banyak menuai pro dan kontra di masyarakat. Meskipun begitu, penyesuaian tarif pajak dapat meredam angka permintaan barang/jasa yang begitu tinggi sekarang, sebagai salah satu strategi untuk mengendalikan inflasi. Isu PPN multitarif sebenarnya merupakan hal baik, sebagai bagian dari perwujudan keadilan sosial dengan meningkatkan tarif untuk kelas menengah atas dan mengurangi tarif untuk kelompok kelas menengah bawah. Namun, terkait hal ini kita masih menunggu pemerintah untuk memberikan penjelasan atau klarifikasi atas isu tersebut, terutama PPN pada barang Sembilan Bahan Pokok (Sembako).

 

 

Isu inflasi memang selalu jadi topik hangat yang diperbincangkan pelaku pasar. Meskipun begitu, nggak perlu takut sama inflasi yang terjadi belakangan, karena sifatnya hanya sementara dan membawa pengaruh baik pada pemulihan ekonomi suatu negara. Just wait & keep buying, kalau ada dana nganggur. Tetap semangat berinvestasi reksa dana saham dan nantikan momentum terbaik tahun ini, temanduit!

 

 

Berdasarkan ulasan Ferry Latuhihin (Chief Economist tanamduit)

Kontributor: Alvin Darari

banner-download-mobile