Home » tanamduit Outlook 18 Januari 2021 – The Liquidity Play & Short Term Risk

tanamduit Outlook 18 Januari 2021 – The Liquidity Play & Short Term Risk

oleh | Jan 19, 2021

Halo, temanduit.

Menguatnya level IHSG (sekitar 6%) sejak awal Januari 2021 dipengaruhi oleh stimulus US Fed yang membuat likuiditas keuangan di pasar sangat besar. Meskipun level indeks market mengalami kenaikan, peningkatan kasus Covid-19 di beberapa negara dunia, termasuk beberapa negara maju di Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris membuat kebijakan lockdown akan kembali diterapkan.

tanamduit Outlook kali ini mengangkat tema “The Liquidity Play & Short Term Risk”. Artinya, harga saham dan obligasi masih dipengaruhi strategi “liquidity play” di mana investor masih mengambil sikap untuk berinvestasi jangka pendek. Seandainya rumor yang beredar negatif, maka investor akan pull out dari pasar keuangan dan menukarnya dengan obligasi pemerintah yang berjangka pendek dan pergerakannya relatif tidak volatile. Adanya peningkatan stimulus perekonomian dari US Fed setahun ke depan akan meningkatkan likuiditas market. Likuiditas market di sini memiliki konsekuensi jangka pendek berupa volatilitas market. Sejak awal Januari 2021, rentang permainan indeks ada di angka 100-an setiap harinya. Meskipun volatilitas market sangat tinggi dalam jangka waktu pendek, tanamduit tetap merekomendasikan instrumen risky asset seperti reksa dana saham kepada temanduit yang ingin berinvestasi untuk jangka waktu minimal setahun ke depan, sampai akhir tahun 2021.

Berikut sentimen ekonomi terbaru yang mempengaruhi market seminggu belakangan.

 

Stimulus The Fed berimbas IHSG meningkat sekitar 6% di awal Januari

Stimulus dari US Fed berupa pembelian surat utang pemerintah AS yang sangat besar dan diteruskan ke berbagai sektor membuat likuiditas keuangan di pasar menjadi sangat besar. Hal ini bahkan juga dirasakan oleh emerging market, termasuk Indonesia dengan naiknya nilai pembelian portfolio saham sehingga mendongkrak IHSG sekitar 6% pada sepuluh hari bursa awal Januari 2021.

 

Angka kenaikan Covid-19 yang masih terus bertambah

Kasus positif Covid-19 di berbagai belahan dunia, terutama Eropa membuat negara-negara maju seperti Prancis, Jerman, dan Inggris akan menerapkan kembali kebijakan lockdown. Tentunya, hal ini akan memperlambat roda perekonomian serta pertumbuhannya.

Kondisi market yang sangat volatile dan spekulatif menjadi imbas dari situasi penuh ketidakpastian seperti sekarang, dengan masih berlanjutnya pandemi Covid-19 di dunia. Namun, dalam jangka waktu yang lebih panjang, setidaknya sampai akhir tahun 2021 ini, volatilitas diproyeksikan akan mereda di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pendistribusian dan penyuntikan vaksin Covid-19 pada masyarakat luas dinilai akan dapat mengurangi risiko ketidakpastian akibat pandemi Covid-19 seperti sekarang.

 

Strategi reksa dana saham untuk jangka panjang

IHSG di level 6.400 yang terjadi seperti saat ini dinilai sudah terlalu tinggi (overpriced) dan rentan untuk terjadinya koreksi ke level 6.200-an. Oleh karena itu, disarankan kepada para investor yang baru akan masuk market reksa dana saham atau ingin menambah portfolio reksa dana sahamnya, sebaiknya menunggu bulan Januari selesai, saat ada koreksi market. Sementara itu, bagi investor yang sudah memiliki portofolio di reksa dana saham, baiknya dihold saja, setidaknya sampai akhir tahun 2021. Hal ini dikarenakan, akhir tahun 2021 nanti IHSG diprediksi akan menyentuh level 7.000.

 

Di tengah kondisi ketidakpastian dengan masih meningkatnya angka positif Covid-19 di berbagai belahan dunia, kondisi market dalam jangka waktu pendek akan volatile dan spekulatif. Bagi para investor yang ingin menambah nilai investasinya di reksa dana saham dapat mempertimbangkan untuk menundanya sampai akhir Januari 2021, menunggu volatilitas harga saham mereda. Sementara itu, unit reksa dana yang dimiliki sebaiknya tetap dihold setidaknya sampai akhir tahun 2021, karena IHSG diproyeksikan akan menyentuh angka 7.000 akhir tahun nanti.

 

 

Berdasarkan ulasan Ferry Latuhihin (Chief Economist tanamduit)

Kontributor: Syafira Maulida

 

banner-download-mobile