Home » tanamduit Outlook 21 Juni 2021 – Market Diserang Corona Lagi!

tanamduit Outlook 21 Juni 2021 – Market Diserang Corona Lagi!

oleh | Jun 23, 2021

Sepertinya angin segar yang sempat berhembus di pasar dua minggu belakangan begitu cepat pergi. Seminggu belakangan, pasar kembali dihantam isu Covid-19 yang kembali melonjak di Indonesia, terutama di Jakarta. Dilansir dari Kontan.co.id, penambahan kasus positif Covid-19 pada Minggu (20/6) kemarin mencapai 5.582 orang. Sebuah angka yang cukup fantastis dan sangat mengkhawatirkan, baik masyarakat umum, mau pun para pelaku pasar modal.

Oleh karena itu, sejalan dengan isu tersebut, tanamduit Outlook kali ini mengangkat tema “Market Diserang Corona Lagi!”. Kali ini kita kedatangan pembicara tamu dari Eastspring Investments Indonesia, yaitu Rio Rinaldi Mulya selaku Senior Equity Fund Manager. Yuk, kita kupas tuntas sentimen-sentimen perekonomian apa saja yang mempengaruhi pasar seminggu belakangan!

 

1. Covid-19 gelombang kedua menghantui pasar

Tekanan pasar sejauh ini tidak lain dan tidak bukan dikarenakan meroketnya lagi kasus Covid-19 di Indonesia. Fundamental ekonomi berpotensi bakal goyah juga, kalau kenaikan kasus Covid-19 terus berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal ini tentu akan memperlambat pemulihan ekonomi nasional.

Meskipun begitu, Chief Economist tanamduit, Ferry Latuhihin belum melihat potensi pemerintah RI akan segera menarik rem untuk kembali menerapkan kebijakan lockdown secara besar-besaran. Kemungkinan pembatasan kegiatan masyarakat yang akan kembali diterapkan skalanya mikro, tergantung dari seberapa kritis daerah atau zona wilayahnya. Kebijakan lockdown skala besar dinilai Ferry Latuhihin akan berdampak besar pada perekonomian masyarakat kelas bawah.

 

2. Tapering off dipastikan tahun 2023

Sebagaimana telah disinggung pada tanamduit Outlook minggu lalu, secara global, ada ketakutan atas inflasi, karena adanya wacana bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dan kekhawatiran taper tantrum ditahun 2013 akan terjadi kembali. Meskipun begitu, Ferry Latuhihin melihat hal ini sifatnya cuma rumor belaka.

The Fed tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu singkat, karena akan menunggu pertumbuhan ekonomi kembali pada jalur yang tepat. Selain itu, unemployment rate di AS masih sangat tinggi di angka 5.8% pada bulan Mei dimana target pemerintah AS adalah 3.5% sehingga belum cukup untuk menggambarkan perbaikan fundamental ekonomi.  

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono Widodo menjelaskan, penurunan IHSG disebabkan oleh sentiment tapering, atau pengurangan nilai program pembelian aset oleh bank sentral AS, The Fed. Ini yang menjadi sentimen utama penyebab penurunan bursa saham domestik.

 

3. Outlook Eastspring Investments Indonesia dari perspektif market dan fundamental

Mengenai kasus Covid-19, kepanikan melanda para investor retail dan domestik. Rio Rinaldi Mulya, tidak melihat investor asing terpengaruh dengan lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia. Varian Covid-19 delta ini datangnya dari India. Lonjakan kasus Covid-19 di India nggak mempengaruhi pasar secara signifikan.

Kalau dilihat dari perspektif investor domestik, terutama perusahaan manajer investasi, mereka tidak akan terlalu panik dan masih bisa cover up untuk tetap berinvestasi pada saham-saham perusahaan di Indonesia. Rio juga memproyeksikan bahwa dalam jangka panjang pasar masih tetap volatile, karena Covid-19.

 

 

Meskipun pasar masih akan volatile tetapi jangan takut ya temanduit. Sekarang adalah tahun yang tepat untuk risky asset seperti reksa dana saham. Outlook dari tanamduit tidak berubah. IHSG masih berpotensi untuk bertumbuh ke level 7.000. Yuk, berinvestasi reksa dana saham di tanamduit!

 

 

Berdasarkan ulasan Ferry Latuhihin (Chief Economist tanamduit)

Kontributor: Syafira Maulida

banner-download-mobile