Home » tanamduit Outlook 23 November 2020 – Don’t Miss the Boat

tanamduit Outlook 23 November 2020 – Don’t Miss the Boat

oleh | Nov 24, 2020

Halo #temanduit!

Sudah 3 minggu sejak pasar saham kita mengalami kenaikan yang cukup cepat, sejak di-trigger oleh kemenangan Joe Biden di Pemilu AS. IHSG sudah mencapai level 5.500 di pekan lalu. Jika kita sedikit kilas balik di momen ketika fear sangat tinggi akibat pandemi Covid-19. IHSG turun sampai ke level terdalamnya di akhir Maret 2020 mencapai level 3.800-an.

“Market are always ruled by fear and greed”

Pasar saham selalu melakukan overshooting, dimana bergerak keatas yang signifikan karena greed yang menyebabkan bubble dan sebaliknya turun drastic ke bawah karena fear. Tidak lama setelah itu, tanamduit melihat saat itu fear sangat tinggi dimana seharusnya investor justru melakukan buy atau masuk ke pasar saham melalui reksa dana saham (bisa dilihat di video Youtube ini).

Pandangan tanamduit tidak berubah dimana cepat atau lambat vaksin Covid-19 akan datang dan pasti akan diikuti dengan recovery ekonomi. Sekarang kita sudah semakin dekat kesana. tanamduit melihat pasar saham kita masih terus bertumbuh, sesuai yang sudah dikatakan sebelumnya, IHSG diharapkan mencapai level 5.500 – 6.000 di akhir tahun 2020.

Tema minggu ini adalah ‘Don’t Miss the Boat’ yang artinya sudah sangat jelas yaitu agar kita jangan sampai ketinggalan kesempatan karena potensinya yang masih sangat besar. Kita simak bersama beberapa ulasan yang menjadi highlight tanamduit, di bawah ini.

Pandemi yang Menjadi Game Changer

tanamduit melihat seluruh dunia akan melewati proses yang panjang dalam perbaikan ekonominya. Belajar dari kasus 2008, dimana Amerika Serikat menerapkan suku bunga rendah sebagai stimulus dalam waktu yang sangat lama. Sekarang ini suku bunga AS sudah di level 0,00-0,25% dan ini dilihat oleh market akan berlangsung lama pula, sehingga akan memicu aliran dana dari AS ke negara-negara Asia termasuk Indonesia. Market akan melihat investasi di negara-negara Asia lebih menarik ketimbang ditempatkan di Surat Utang AS yang hanya menghasilkan 0 – 0,25%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di Q3 tercatat sebesar -3,49%, masih negatif, tetapi sudah mengalami perbaikan dari kuartal sebelumnya sebesar -5,32% akibat besarnya dampak pandemi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali ke level normalnya di sekitar 5%-an kemudian akibat pent-up demand akan membuat pertumbuhan Indonesia bisa melesat lebih tinggi lagi. Hal ini tentunya berjalan cukup panjang sehingga di posisi sekarang, potensi pasar saham juga masih sangat panjang ke depannya untuk terus tumbuh.

 

Terbentuknya Kesepakatan Kerjasama Ekonomi Negara Asia Pasifik

Regional Comprehensive Economic Parnership (RCEP) dibentuk oleh 10 negara Asia Pasifik, Indonesia salah satunya, beberapa negara lain adalah China, Korea Selatan, Jepang dan Australia. RCEP merupakan kerja sama ekonomi secara komprehensif di regional Asia. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas perdagangan di negara-negara Asia Pasifik. Ini merupakan salah satu hal yang dapat meningkatkan pertumbuhan Indonesia agar lebih cepat lagi.

Selain hal ini, untuk jangka waktu yang panjang ke depannya, Indonesia dilihat akan termasuk ke dalam negara produsen baterai terbesar, guna pemakaiannya di industri mobil listrik dan green energy. Sebelumnya terdapat kabar bahwa Tesla akan membangun pabrik baterai di Indonesia dan kemudian China juga telah menyiapkan pembangunan pabrik baterai di Indonesia yang dananya mencapai 5,1 Milliar Dollar. tanamduit melihat hal ini berpotensi kuat untuk meningkatkan FDI / foreign direct investment bagi Indonesia.

 

Suku Bunga BI Turun ke 3,75%

Pekan lalu, Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan (BI 7-Day RR) sebesar 25 bps menjadi 3,75%. Pertimbangan BI antara lain inflasi yang tetap rendah dan juga sebagai langkah untuk mempercepat pemulihan ekonomi akibat Covid-19. Dampak dari penurunan ini antara lain: dalam jangka pendek akan sedikit berpengaruh ke nilai tukar Rupiah dimana Rupiah juga sudah sangat menguat selama sebulan terakhir akibat besarnya inflow dana asing ke pasar saham dan obligasi Indonesia; jangka panjangnya adalah masih tetap besarnya potensi dana asing karena yield Surat Utang di negara-negara maju yang sudah di level 0% bahkan beberapa sudah negatif seperti AS, Inggris, Jerman, dan Perancis dimana yield Surat Utang di negara Asia masih menarik contohnya Indonesia yang masih ada di level 6%. Ini merupakan indikasi kuat bahwa investasi di negara Indonesia masih sangat menarik.

 

Dont Miss the Boat adalah pernyataan tanamduit yang nyata karena memang potensi yang masih besar untuk berinvestasi di pasar saham melalui reksa dana saham. Sesuai dengan pandangan tanamduit, IHSG menuju level 6.000 di akhir tahun ini dan diharapkan bisa mencapai ke 7.000 di tahun 2021.

Jangan sampai ketinggalan! Masuk ke reksa dana saham sekarang ini kian mudah dengan tanamduit dengan adanya fitur switching karena membuat investor dapat mudah dah cepat mengalihkan dana investasinya.

 

Berdasarkan ulasan Ferry Latuhihin (Chief Economist tanamduit)

Kontributor: Pajar Huzaifah 

banner-download-mobile