Home » tanamduit Outlook 28 Juni 2021 – Market Masih Dibayangi Covid

tanamduit Outlook 28 Juni 2021 – Market Masih Dibayangi Covid

oleh | Jun 30, 2021

Badai seolah tidak pernah jera menghantam pasar beberapa minggu belakangan. Pertambahan kasus positif Covid-19 terus menanjak. Masyarakat dan pasar didera kekhawatiran tak berujung, dua minggu belakangan. Sejalan dengan hal tersebut, tanamduit Outlook kali ini membahas topik menarik mengenai bayang-bayang Covid-19 di tengah huru-hara pasar yang masih volatile. Berikut sentimen perekonomian yang mempengaruhi pasar seminggu belakangan.

 

1. PPKM Mikro Diperketat

Melonjaknya kasus Covid-19 beberapa minggu belakangan, terutama di DKI Jakarta membuat pemerintah kembali menarik rem atas mobilitas masyarakat dengan menerapkan kembali kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro untuk mengendalikan kasus Covid-19. Kebijakan PPKM ini berlaku per tanggal 22 Juni—5 Juli 2021. Pada kebijakan PPKM kali ini, wilayah yang termasuk ke dalam zona oranye dan merah diwajibkan untuk WFH 75% dan kapasitas maksimal karyawan yang WFO hanya 25%. Selain itu, tempat-tempat umum seperti restoran, mall, pusat perbelanjaan, dan pasar juga dibatasi kapasitasnya, yaitu hanya 25% dari kapasitas maksimum.

 

2. Pengendalian Covid-19 Jadi Prioritas Untuk Kembali Hidup Normal

Lonjakan kasus Covid-19 dan penerapan PPKM skala mikro dinilai peneliti Core (Center of Reform on Economics) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet sebagaimana dilansir dari harian Bisnis akan mengganggu ritme pemulihan ekonomi. Meskipun begitu, distribusi vaksin menembus angka 1,3 juta dosis/harinya menjadi satu-satunya titik terang di tengah huru-hara pasar belakangan ini.

 

3. Utang Pemerintah akankah menjadi bom waktu?

Pasar tengah dibuat khawatir dengan utang pemerintah yang terus bertambah. Kita bisa menjadikan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar sebagai salah satu tolok ukur mengkhawatirkan atau tidaknya kondisi pasar akibat bertambahnya utang pemerintah. Meskipun begitu, utang pemerintah RI dinilai Ferry Latuhihin, selaku Chief Economist tanamduit masih dalam rasio yang wajar, yaitu 40% dari batas maksimum 60%. Terlebih lagi, lonjakan utang menjadi suatu hal yang lumrah terjadi di tengah memburuknya situasi negara akibat peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia yang cukup signifikan. Lonjakan utang yang signifikan juga terjadi karena shortfall penerimaan pajak, tetapi di sisi lain pengeluaran pemerintah untuk menstimulus ekonomi dan penanganan Covid-19 membuat pengeluaran pemerintah membludak.

Well, selama rating utang RI tidak didowngrade oleh lembaga dunia seperti S&P, Fitch Rating, maupun Moodys, Indonesia masih dinilai sanggup membayar utangnya.

 

 

Untuk pertama kalinya, tanamduit merevisi outlook IHSG tahun ini dari yang awalnya 7.000 menjadi 6.700, karena ada varian delta yang tidak terduga dan menjadi hantu populer di pasar. Meskipun begitu, kesempatan cuan tahun ini tetap terjaga, selama kondisi terus membaik dan pemulihan ekonomi kembali on track lagi. Jadi, tetaplah rutin berinvestasi reksa dana saham untuk menjemput peluang cuan tahun 2021 ini!

 

 

Berdasarkan ulasan Ferry Latuhihin (Chief Economist tanamduit)

Kontributor: Syafira Maulida

banner-download-mobile