Home » tanamduit Market Outlook 31 Mei – Recovery Ekonomi Cantik, Kenapa Market Tertekan?

tanamduit Market Outlook 31 Mei – Recovery Ekonomi Cantik, Kenapa Market Tertekan?

oleh | Jun 2, 2021

Halo, temanduit!

Pemulihan ekonomi semakin terlihat jelas dan bisa kita rasakan dalam keseharian. Meskipun data makro ekonomi menunjukkan trend yang positif tetapi market masih terus dipenuhi tekanan. Apa saja faktor yang mempengaruhi market yang terus galau di bulan Mei kemarin? Bagaimana outlook IHSG masih mungkin ga sih ke 7000? Yuk kita simak sentiment yang mempengaruhi pasar.

 

1. Tekanan COVID-19 masih menjadi faktor pemberat utama

Peningkatan kasus Covid-19 di berbagai negara Asia terus menjadi sorotan. Pelaku pasar masih khawatir dengan situasi perkembangan Covid-19 yang mulai mengganggu rantai pasok dunia. Dikutip dari CNBC kenaikan kasus Covid-19 menghambat pemulihan ekonomi dan terjadi penurunan PMI Manufaktur banyak negara di Asia seperti Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Malaysia mulai 1 Juni 2021 melakukan penguncian penuh alias full lockdown hingga 14 Juni 2021. Bahkan singapura memberikan sinyal untuk penerapan lockdown.

 

2. PMI Manufaktur Indonesia REKOR! Tertinggi sepanjang sejarah. Fundamental ekonomi kuat

IHS Markit mencatat PMI Manufaktur Indonesia menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan angka PMI berada di level 55,3 pada Mei 2021 dibandingkan 54,6 bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan kegiatan ekonomi Indonesia kuat.

Hal ini semakin menguatkan keyakinan pertumbuhan ekonomi kuartal-II 2021 mampu tumbuh hingga 8,3% didorong baseline yang rendah dari kuartal-II 2020. Ditambah dengan nilai tukar yang menguat, harga komoditas andalan Indonesia juga terus terdorong menguat. Tanamduit meyakini bahwa faktor ini menunjukkan Fundamental Rebound yang akan mampu mendorong kenaikan IHSG hingga ke 7000 di akhir tahun.

 

 

3. Momentum V Shaped ekonomi dijaga oleh pemerintah

Momentum pemulihan ekonomi yang semakin nyata terkonfirmasi membentuk pola V terus dijaga oleh pemerintah. Bank Indonesia 7 Days Repo Rate dijaga tetap di 3,5%. Keputusan BI juga mempertimbangkan hasil keputusan Bank Sentral Amerika Serika untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan tetap rendah. Hal ini berguna untuk menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia yang terbukti dengan terjaganya nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Pemberian stimulus pajak juga mampu mendorong pemulihan ekonomi nasional. Kebijakan Bank Indonesia yang melonggarkan ratio Loan to Value (LtV) untuk kredit property berhasil memunculkan daya dorong pada konsumsi masyarakat. Serta kebijakan pemerintah dengan pengurangan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk mobil mampu mendorong rekor baru PMI Manufaktur Indonesia tertinggi sepanjang sejarah.

Meskipun pasar dibayangi berita seperti penutupan bisnis ritel Giant. Namun hal ini tidak menunjukkan lesunya ekonomi nasional. Melainkan faktor perubahan peta persaingan bisnis dari pola konsumsi yang terjadi di masyarakat. Sehingga momentum V-Shaped yang diharapkan masih sangat mungkin untuk terealisasi.

 

 

Jangan lewatkan kesempatan pemulihan ekonomi ini! Tekanan pada market yang terjadi bukanlah hal yang buruk, melainkan kesempatan emas untuk kita membeli risky asset dengan harga murah. Yuk, tambah portofolio reksa dana saham kamu di tanamduit~

 

 

Berdasarkan ulasan Ferry Latuhihin (Chief Economist tanamduit)

Kontributor: Syafira Maulida

banner-download-mobile