Home » tanamduit Outlook 4 Januari 2021 – Ekonomi Pasca Corona (A Post-Keynesian View)

tanamduit Outlook 4 Januari 2021 – Ekonomi Pasca Corona (A Post-Keynesian View)

oleh | Jan 5, 2021

Halo #temanduit!

Tahun 2020 telah berakhir dengan manis. Sepanjang tahun 2020, kita dihadapkan pada situasi yang menantang dan dinamis akibat pandemi Covid-19. Akhir tahun berakhir manis dengan hadirnya vaksin Covid-19 di Indonesia, meskipun angka positif Covid-19 masih terus meningkat dari waktu ke waktu.

Mari kita awali tahun 2021 dengan optimisme IHSG akan menyentuh level 7.000 di akhir tahun nanti, sebagaimana diproyeksikan tanamduit sejak akhir tahun 2020. tanamduit outlook kali ini bertemakan Ekonomi Pasca Corona (A Post-Keynesian View) yang berarti pasca pandemi Covid-19 ini bank-bank komersial diprediksi akan berperan untuk kembali aktif mengeluarkan kredit.  Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi oleh IMF dan JP Morgan akan mencapai 6% pada tahun ini. Berikut sentimen perekonomian yang mempengaruhinya.

Bank-bank Besar Akan Mengucurkan Kredit Baru untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Sekitar 5% Pada Tahun 2021

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan negara lainnya mengakibatkan kegiatan perekonomian tersendat, baik supply mau pun demand terhadap barang dan jasa. Bank Indonesia dan pemerintah Indonesia berperan besar untuk menjaga perputaran ekonomi dengan memberikan stimulus ratusan triliun Rupiah likuiditas keuangan ke semua sektor. Sektor yang dimaksud di antaranya Bantuan Layanan Tunai ke masyarakat marginal, bantuan modal kerja ke UMKM, perbankan, dll. Selain itu, Bank Indonesia juga menurunkan tingkat bunga 7 Days Repo Rate dari level 4,50% ke 3,75% dalam waktu beberapa bulan saja untuk menyesuaikan diri dengan turunnya suku bunga US Fed dari level 4% ke 0,25%.

Pada tahun 2020 lalu, dapat dikatakan tidak terjadi pertumbuhan kredit, bahkan terjadi kelebihan dana di perbankan. Hal ini dikarenakan karena bank meningkatkan kehati-hatian dalam mengelola kredit mengingat banyaknya debitur-debitur perusahaan dan individu yang terganggu bisnis dan keuangannya akibat pandemi Covid-19 sehingga mengalami kesulitan dalam membayar bunga pinjaman dan mencicil pokoknya.

Berbeda halnya dengan tahun 2021 ini, bank-bank komersial diharapkan untuk memulai kembali mengucurkan kredit dan menggairahkan kembali kegiatan bisnis. Kalau hal ini terjadi, maka akan terjadi kenaikan inflasi dan bank sentral tidak lagi menurunkan bunga acuan (7 Days Repo Rate Bank Indonesia), bahkan mungkin akan menaikkan sedikit bunga acuan. Namun, kenaikan bunga acuan ini diharapkan tidak dilihat oleh market sebagai bentuk menarik uang dari pasar sehingga likuiditas menjadi ketat.

Beberapa bank besar, di antaranya Bank BCA, Bank Mandiri, dan Bank BRI telah memberi hints akan mengucurkan kredit sebesar 4—6%. Dalam kondisi normal, pertumbuhan kredit perbankan sekitar belasan persen. Pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sekitar 5%. Dalam situasi pasca Covid-19 seperti sekarang, pertumbuhan kredit pada level 4—6% akan mampu membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5%, dengan catatan bahwa Bank Indonesia bersama dengan pemerintah Indonesia tetap memberikan stimulus likuiditas keuangan ke masyarakat yang membutuhkan, yang dalam istilah ekonomi makronya adalah Government Spending.

 

Kelancaran Distribusi Vaksin Covid-19 Turut Menentukan Pertumbuhan Ekonomi

Vaksin Covid-19 yang telah tiba di Indonesia Desember tahun lalu akan didistribusikan mulai Januari 2021 ini. Distribusi vaksin tahap pertama (Januari—April 2021) akan diprioritaskan untuk petugas kesehatan, petugas publik, dan lansia. Kemudian, distribusi vaksin tahap kedua (April 2021—Maret 2022) akan diberikan kepada 63,9 juta masyarakat rentan yang ada di wilayah dengan risiko penularan tinggi dan 77,4 juta masyarakat dengan pendekatan kluster. Pemerintah dinilai siap untuk untuk menjalankannya sehingga memberikan keyakinan dan mendorong masyarakat luas untuk meningkatkan aktivitasnya kembali. Peningkatan aktivitas masyarakat inilah yang akan mempercepat gerak roda perekonomian kita sehingga dapat bertumbuh ke angka 5—6 % di tahun 2021.

 

Prompt Manufacturing Index (PMI) Indonesia Menunjukkan Peningkatan

PMI menjadi suatu indikator yang menggambarkan pergerakan atau kinerja sektor manufaktur. Kalau PMI di atas 50, artinya kinerja sektor manufaktur sangat baik. Kalau di bawah 50, indikasinya buruk.

Pada bulan Desember 2020, PMI Indonesia naik menjadi 51,3. Pada bulan November tahun lalu PMI 50,6 dan di bulan oktober 47,8. Kenaikan PMI Indonesia menandakan sektor manufaktur Indonesia semakin membaik dan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi dan faktor pendorong kinerja saham di bursa efek.

 

 

Volatilitas Harga Saham dalam Jangka Pendek

Peningkatan jumlah kasus terpapar Covid-19 di Eropa, Jepang, dan Amerika membuat investor global bereaksi di bursa saham sehingga harga-harga saham menjadi volatile dari hari ke hari. Meskipun begitu, volatilitas ini akan mereda mengingat vaksin Covid-19 mulai didistribusikan ke masyarakat di seluruh dunia. Harga-harga saham akan naik dan IHSG diproyeksikan akan menyentuh 7.000 di akhir tahun 2021.

 

Untuk investor jangka panjang, saat ini adalah saat yang tepat untuk berinvestasi di risky asset, yaitu reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap. Hal ini dikarenakan harga saham secara keseluruhan dinilai masih undervalued. Tetaplah berinvestasi secara rutin di berbagai pilihan reksa dana di tanamduit untuk mewujudkan tujuan keuanganmu di masa mendatang.

 

Berdasarkan ulasan Ferry Latuhihin (Chief Economist tanamduit)

Kontributor: Syafira Maulida

banner-download-mobile