Home » Kesehatan Trump dan Omnibus Law

Kesehatan Trump dan Omnibus Law

oleh | Okt 5, 2020

Indeks dunia seminggu kemarin cukup volatile. IHSG dicatat melemah sebesar -0,39% selama seminggu terakhir sedangkan Dow Jones menguat sebesar 1,84%. Selain faktor yang masih dominan yaitu tingginya ketidakpastian di tengah pandemi Covid-19, ada beberapa poin yang sekiranya bisa diperhatikan para investor selama seminggu ke depan.

 

Kesehatan Presiden AS Donald Trump

Jumat lalu, 2 Oktober 2020, Presiden AS Donald Trump dinyatakan positif Covid-19. Pasar saham dunia dan juga Indonesia sempat terkoreksi akibat kabar ini namun kembali mengalami rebound.

Tim dokter Gedung Putih, melalui briefing di hari Minggu lalu menyatakan telah memberikan pernyataan yang dapat memicu kesalahpahaman (misleading). Dimana pernyataan bahwa Donald Trump sempat diberi treatment suplai Oksigen yang membuat masyarakat menganggap Trump dalam keadaan yang serius dan tidak mendapatkan gambaran menyeluruh terkait kondisi Trump. Tim dokter menyatakan bahwa kondisi kesehatan Trump berjalan baik dan bisa segera beraktivitas kembali. (Sumber: Bloomberg)

Kondisi kesehatan Trump yang berjalan baik, bisa menjadi katalis positif bagi market dunia dan Indonesia.

 

Kelanjutan Omnibus Law

RUU Omnibus Law telah disetujui oleh DPR dan pemerintah, selanjutnya akan disahkan menjadi Undang-Undang dalam rapat paripurna DPR di Kamis esok, 8 Oktober 2020.

Omnibus Law menjadi salah satu isu yang paling dinanti oleh para investor asing dan domestik. Para investor menunggu kepastian ‘ketok palu’ dari RUU ini. Apabila isinya sesuai dengan ekspektasi pasar dimana poin pentingnya adalah untuk meningkatkan kemudahan usaha sehingga diharapkan bisa menarik dana investasi asing (Foreign Direct Investment).

Walau mengundang pro-kontra dari beberapa kelompok masyarakat, dengan berita akan adanya demonstrasi penolakan RUU ini, hal ini bukan merupakan risiko sistematik dan seharusnya tidak akan memberikan gangguan berarti terhadap pergerakan market.

Pandangan dari JP Morgan Indonesia terkait Omnibus Law adalah market akan selalu mengamati perkembangan Omnibus Law ini, dan jika sudah ‘ketok palu’, IHSG dirasa bisa mencapai level 6.000 dalam 6-12 bulan ke depan. (Sumber: CNBC Indonesia)

tanamduit menilai pertumbuhan ekonomi di Q3 2020 tampaknya tidak separah yang diramalkan pemerintah dan di Q4 2020 sudah bisa rebound. Dengan begitu untuk keseluruhan 2020, pertumbuhan ekonomi hanya minus di sekitar 1,6%.

Di tengah volatilitas yang masih akan tinggi dalam waktu pendek dan juga harapan perbaikan ekonomi Indonesia, bagi investor yang memiliki tujuan investasi jangka menengah panjang, bisa menjadi waktu yang baik untuk masuk ke reksa dana pendapatan tetap atau reksa dana saham.

 

Kementerian Keuangan RI menerbitkan SBN Seri ORI018

Pelemahan ekonomi di dunia membuat pemerintah dan Bank Sentral dunia membuat kebijakan untuk membangkitkan kembali ekonomi, melalui peningkatan likuiditas dan penurunan suku bunga. Inflasi juga tercatat sangat rendah dalam kondisi pelemahan seperti ini. Ditambah dengan kondisi suku bunga AS yang sudah hampir 0% dan tetap rendah untuk beberapa tahun ke depan membuat BI masih akan tetap menurunkan suku bunga.

Hal ini bisa dimanfaatkan investor dengan berinvestasi di ORI018 dengan kupon tetap yang ditawarkan sebesar 5,70% per tahun; dimana lebih tinggi dari rata-rata bunga deposito di Bank BUKU IV yang sekarang di sekitar 3,70% per tahun. Sebagai pembanding, yield acuan untuk Surat Utang Negara tenor 3 tahun sekarang berada di angka 5,20% yang artinya investor ORI018 mendapatkan kupon lebih besar sekitar 0,50%. (Sumber: Kontan dan IBPA)

ORI018 juga tergolong instrumen investasi bebas risiko karena pembayaran kupon dan pokoknya dijamin oleh Negara melalui UU Surat Utang Negara dan dialokasikan di APBN.

 

Investor bisa menjaga dana investasinya tetap aman dengan tetap mendapatkan return yang lebih tinggi dari deposito melalui instrumen ORI018 yang bisa didapatkan melalui tanamduit.

 

 

 

 

 

 

 

 

banner-download-mobile