Home » tanamduit Outlook 5 Juli 2021 – Menunggu Stimulus Pemerintah Lagi

tanamduit Outlook 5 Juli 2021 – Menunggu Stimulus Pemerintah Lagi

oleh | Jul 7, 2021

Indonesia masih terus berkabung seiring dengan kondisi pandemi Covid-19 yang belum juga membaik. Media sosial dipenuhi dengan berita duka dari kerabat terdekat yang terjangkit Covid-19, sebaran jarkom kebutuhan oksigen, donor plasma darah, hingga kematian. Covid-19 menjadi momok bagi kita bersama. Kondisi pasar masih bergejolak di situ-situ saja, tanpa ada perubahan yang signifikan akibat lonjakan kasus Covid-19 dua minggu belakangan.

PPKM darurat selama dua minggu ke depan (dan mungkin akan diperpanjang), jadi salah satu upaya pemerintah RI untuk menekan laju pertambahan kasus Covid-19 di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa—Bali. Seiring dengan berlakunya kebijakan tersebut, perekonomian negara tentu saja akan kembali distimulus oleh pemerintah. Topik ini menjadi bahasan hangat pada tanamduit Outlook kali ini. Berikut sentimen perekonomian yang mempengaruhi kondisi pasar seminggu belakangan.

 

1. Ekonomi sedikit terdampak kebijakan PPKM

Pertumbuhan ekonomi akan terpangkas 0,1% sepanjang tahun ini dari target awal 4,5—5% dikarenakan kebijakan PPKM darurat pada kuartal kedua. Perekonomian sepanjang kuartal kedua ini juga diproyeksikan akan terpangkas pertumbuhannya dari yang ditargetkan; awalnya 7—8% menjadi 6,5%.

PPKM Darurat jelas mempengaruhi perekonomian nasional, mengingat kontribusi Pulau Jawa dan Bali dalam perekonomian nasional mencapai 60%. Meskipun begitu, sektor esensial dan UMKM tetap diizinkan untuk tetap beroperasi. Rupiah dinilai masih cukup terkendali, meskipun harga komoditas masih mengalami kenaikan. Sektor ekspor-impor juga masih berjalan sebagaimana mestinya.

 

2. BI Rate masih akan berpotensi diturunkan

BI 7 Days Repo Rate masih berpotensi akan diturunkan kembali sebagai dampak dari kebijakan PPKM yang kembali diperketat. Penurunan suku bunga kredit BI diharapkan dapat mendorong perbankan untuk menurunkan suku bunga kreditnya juga yang dapat mendorong pemulihan perekonomian nasional.

Di sisi lain, kebijakan penurunan suku bunga acuan BI tidak akan bisa diterapkan terlalu lama. Kalau sewaktu-waktu The Fed menaikkan suku bunga dan suku bunga kita masih rendah, maka akan terjadi efek sentripetal; yaitu dolar akan pulang kampung ke negaranya, karena Cost of Fund dolar bertambah. Hal ini merupakan dampak dari tapering off yang akan dilakukan pada tahun 2022—2023.

 

3. Stimulus pemerintah jadi harapan pelaku pasar

Dilansir dari Kompas, pemerintah kembali menaikkan stimulus anggaran penanganan Covid-19 hingga 225,4 Triliun. Stimulus ekonomi ini diharapkan dapat membantu pertumbuhan ekonomi Q2 agar tetap on track sesuai dengan ekspektasi. Kalau perekonomian Q2 mampu melebihi ekspektasi pasar, otomatis indeks akan kembali melesat.

Awalnya, sangat memungkinkan angka pertumbuhan ekonomi terus menanjak, karena adanya pent-up demand. Terlebih lagi, sentimen dari AS dan beberapa negara maju lainnnya yang sudah mulai memperbolehkan warganya untuk tidak menggunakan masker. Namun, lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia yang sangat pesat beberapa minggu belakangan membuat Chief Economist tanamduit, Ferry Latuhihin dengan berat hati menurunkan ekspektasinya terhadap kondisi pasar tahun ini. Ekspektasi pada pertumbuhan IHSG tahun ini yang awalnya diprediksi dapat mencapai angka 7.000 akhirnya diturunkan menjadi 6.700.

 

Varian delta Covid-19 yang semakin mengganas dan sangat mudah penularannya memang membuat kita semua kelimpungan. Tetap jaga protokol kesehatan, patuhi anjuran pemerintah, dan jaga kesehatan dirimu dan orang-orang di sekeliling kita. Meskipun begitu, tetaplah menaruh harap pada pasar yang diproyeksikan akan bullish hingga akhir tahun 2021 ini.

 

 

Berdasarkan ulasan Ferry Latuhihin (Chief Economist tanamduit)

Kontributor: Syafira Maulida

banner-download-mobile