Home » Tapering Masih Lama

Tapering Masih Lama

oleh | Agu 31, 2021

Halo, temanduit!

Pelaku pasar lagi-lagi digantungin kepastian kapan akan diberlakukannya tapering berdasarkan hasil simposium Jackson Hole. Meskipun begitu, kebijakan tapering diprediksi paling cepat diberlakukan pada akhir tahun 2021. Simak ulasan tanamduit Outlook berikut, yuk, untuk mengetahui sentimen apa saja yang mempengaruhi kondisi market seminggu belakangan.

1. The Fed Dovish, tapering masih lama!

Pasar menunggu kabar dari pertemuan penting pada tanggal 28 Agustus kemarin, yaitu simposium Jackson Hole yang dihadiri oleh pimpinan bank sentral, menteri keuangan, akademisi hingga praktisi pasar finansial dari berbagai negara. Pernyataan Jerome Powel sebagai ketua bank sentral AS sangat dinantikan oleh pasar mengenai kapan dan bagaimana tapering akan dilakukan. Dalam membuat kebijakan, tentunya The Fed tidak hanya memikirkan ekonomi Amerika saja, tetapi juga dunia. Salah satu faktor utama yang dipertimbangkan sebelum melakukan tapering adalah penyebaran virus Covid-19 yang berpotensi dapat mengganggu pemulihan ekonomi dunia.

Chief Economist tanamduit, Ferry Latuhihin mengatakan bahwa The Fed sudah memberikan sinyal bahwa tapering baru dimulai akhir tahun dan tidak akan dilakukan secara mendadak. Melainkan akan bertahan di pasar untuk mematau yield (imbal hasil) obligasi jangka panjang menggunakan skema open market operation. Hal ini dikarenakan ketidakpastian yang timbul akibat dampak dari Covid-19 yang belum terlihat hilalnya kapan pandemi ini dapat berakhir. Bahkan, seluruh dunia mengalami kembali serangan gelombang kedua dan ketiga, sehingga hal ini perlu menjadi perhatian the Fed sebelum memutuskan untuk melakukan tapering. Lebih baik terlambat melakukan tapering dibanding terlalu cepat. Apalagi suku bunga Amerika sudah mendekati 0%, jika situasi semakin memburuk maka akan semakin sulit untuk melakukan kebijakan moneter

Situasi krisis saat ini sangat berbeda dengan tahun 2008 dimana terjadi lokal hanya pada perbankan di Amerika saja dan hanya menulari beberapa negara maju seperti Uni-Eropa dan Jepang. Namun, negara lainnya tidak terlalu terdampak.

2. Vaksinasi Indonesia peringkat 6 dunia

Ferry Latuhihin meyakini bahwa kunci dari pemulihan ekonomi Indonesia terletak pada penanganan pandemi Covid-19. Salah satunya adalah dengan melalui distribusi vaksin dan terus mematuhi protokol Kesehatan untuk bersama-sama saling bahu-membahu menjaga situasi agar tetap kondusif.

Dilansir dari detik.com, Indonesia berhasil menempati peringkat ke-6 dunia untuk jumlah orang yang divaksinasi, sedangkan dari total jumlah suntikan vaksin Covid-19, Indonesia berhasil menempati peringkat ke-7 dunia. Hal ini tentunya merupakan kabar yang positif untuk kita semua

3. Jika tapering dilakukan, Indonesia masih aman?

Tapering cepat atau lambat pasti akan terjadi. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus memanfaatkan momentum sebelum dan setelah kebijakan tapering dilakukan oleh The Fed. Chief Economist tanamduit, Ferry Latuhihin menilai belum ada pertanda dari pemerintah kita untuk mengurangi stimulus, bahkan pemerintah secara agresif masih melakukan penarikan utang untuk pemulihan ekonomi nasional. Hal ini dinilai baik untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan akan mencapai 4.5% pada tahun ini dan +5.2% pada tahun depan.

Selain itu, Ferry Latuhihin juga mengatakan stress test harus diberlakukan secara berkala oleh OJK untuk terus memantau kesehatan perbankan nasional baik secara Capital Adequacy Ratio (Rasio Kecukupan Modal) maupun Non Performing Loan (Kredit Bermasalah). Stress test mejadi penting untuk melihat kesiapan Indonesia dari timbulnya risiko atas restrukturisasi dampak dari pandemi Covid-19 dan juga tekanan tapering secara global.

Posisi Rupiah hingga akhir tahun dinilai masih aman karena tidak ada arus dana asing yang masuk selama ini ke Indonesia tidak besar. Bahkan, porsi asing terhitung kecil dibandingkan dengan saat pada saat tapering dilakukan tahun 2013. Pertumbuhan indeks domestik banyak ditopang oleh investor domestik. Kurs rupiah terhadap dollar diperkirakan akan tertahan di sekitar Rp13.500,00 – 15.000,00.

 

Di tengah ketidakpastian kapan dan bagaimana kebijakan tapering diterapkan, reksa dana saham tetap jadi pilihan produk yang menarik untuk dibeli tahun ini, mengingat pemulihan ekonomi terus berjalan beriringan dengan kelancaran distribusi vaksin Covid-19 di dunia, termasuk Indonesia. Jadi, nggak perlu ragu-ragu untuk tetap rutin berinvestasi di reksa dana saham, karena pemulihan ekonomi pasca Covid-19 masih terus berlangsung.

Berdasarkan ulasan Ferry Latuhihin (Chief Economist tanamduit)

Kontributor: Muhammad Alvin Darari

banner-download-mobile