tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui penjelasan berikut.
Ringkasan Market Update:
- IPO CDIA Picu Lonjakan IHSG
- Obligasi Indonesia Stabil di Tengah Ketidakpastian Global
- Tarif Trump 32% Ancam Ekonomi Indonesia
- Emas Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Tarif Trump
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 7 Juli 2025.
IPO CDIA Picu Lonjakan IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,52% ke level 6.900,93 pada Senin, 7 Juli 2025, meskipun banyak saham turun dan transaksi pasar sepi.
Kenaikan ini didorong oleh saham-saham milik Prajogo Pangestu, terutama PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melonjak 7,1%.
Selain itu, saham PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), turut mendorong kenaikan IHSG.
Sektor utilitas, yang naik 2,39%, juga turut mendukung IHSG, berbeda dengan pasar Asia-Pasifik yang mayoritas melemah.
Penyebab utama kenaikan IHSG adalah antusiasme investor terhadap penutupan masa penawaran umum saham (IPO) PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), anak usaha Grup Chandra Asri, pada hari yang sama.
CDIA, yang bergerak di bidang infrastruktur seperti energi, logistik, dan pelabuhan, melepas 12,48 miliar saham dengan harga Rp190 per saham, mengumpulkan Rp2,37 triliun.
IPO ini dinilai strategis karena mendukung ekspansi Grup Chandra Asri di sektor hilir dan logistik, sehingga memicu kenaikan saham-saham terkait seperti BRPT.
Kenaikan IHSG ini lebih bersifat sentimen pasar daripada fundamental. Meskipun saham Grup Barito Pacific menguat, mayoritas saham (328 emiten) justru turun. Nilai transaksi hanya Rp7,5 triliun, jauh di bawah rata-rata harian Rp10–13 triliun.
Menurut analis, pasar sedang bergerak sideways (datar) dan investor cenderung wait and see, terutama karena kinerja sektor perbankan melambat.
Jadi, lonjakan IHSG lebih dipicu oleh euforia IPO CDIA ketimbang kekuatan fundamental pasar secara keseluruhan. (CNBC Indonesia, Bloomberg Technoz)
Obligasi Indonesia Stabil di Tengah Ketidakpastian Global
Harga Surat Utang Negara (SUN) pada Senin, 7 Juli 2025, bergerak bervariasi dengan imbal hasil (yield) SUN 5-tahun naik tipis ke 6,22%, sedangkan SUN 10-tahun tetap di 6,57%.
Volume perdagangan SUN mencapai Rp18,6 triliun, turun dari Rp19,7 triliun pada Jumat, dengan seri PBS003 dan FR0103 paling aktif.
Obligasi korporasi juga diperdagangkan senilai Rp6,5 triliun. Sementara itu, rupiah melemah 0,34% ke Rp16.240 per dolar AS, mencerminkan tekanan ringan di pasar keuangan.
Pasar obligasi tetap stabil meskipun ada sentimen negatif dari kenaikan yield US Treasury, dengan yield 10-tahun AS naik ke 4,40%.
Investor sedang menanti perkembangan kebijakan tarif AS di bawah Presiden Trump, yang dapat memengaruhi pasar global.
Risiko kredit Indonesia, diukur dengan Credit Default Swap, bertahan di level rendah 75 basis poin, menunjukkan kepercayaan pasar. (BNI Sekuritas)
Tarif Trump 32% Ancam Ekonomi Indonesia
Pada 7 Juli 2025, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Indonesia akan dikenakan tarif impor 32% mulai 1 Agustus 2025, sebagaimana diumumkan melalui Truth Social.
Keputusan ini menunjukkan negosiasi Indonesia gagal menurunkan tarif, meskipun telah menawarkan impor barang AS senilai Rp551 triliun, termasuk gas, kedelai, dan gandum, serta melonggarkan aturan untuk perusahaan AS seperti Apple.
Indonesia termasuk dalam 14 negara yang dikenakan tarif baru. Sementara itu, 12 negara lain, seperti Vietnam dengan tarif 20%, mendapat keringanan.
Delegasi Indonesia yang dipimpin Airlangga Hartarto berupaya hingga detik terakhir pada 7 Juli di AS. Sayangnya, keputusan tersebut belum berhasil diubah.
Tarif ini dipicu oleh defisit perdagangan AS dengan Indonesia sebesar US$16,8 miliar pada 2024, menurut Trump.
Meski tenggat penerapan tarif ditunda dari 9 Juli ke 1 Agustus melalui perintah eksekutif, dampaknya tetap mengkhawatirkan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan tarif ini dapat memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,3–0,5%, menurunkan proyeksi PDB 2025 menjadi 4,7–5,0% dari target 5,2%.
Ekspor utama seperti tekstil, elektronik, dan makanan laut berisiko terdampak, meningkatkan biaya dan menurunkan daya saing di pasar AS, yang menyumbang 10% dari total ekspor Indonesia.
Di pasar keuangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah akibat sentimen negatif dari tarif ini, terutama pada saham emiten ekspor seperti INDF (makanan) dan ASII (elektronik).
Nilai tukar rupiah juga rawan tekanan, dengan perkiraan melemah ke Rp16.500–16.700 per dolar AS dalam sebulan.
Indonesia kini mengandalkan diplomasi melalui ASEAN dan negosiasi lanjutan untuk meminimalkan dampak, sambil mendorong diversifikasi pasar ekspor ke Asia dan Eropa. (CNBC Indonesia, CNN Indonesia)
Emas Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Tarif Trump
Harga emas batangan Antam naik Rp5.000 menjadi Rp1.906.000 per gram pada Selasa, 8 Juli 2025. Kenaikan ini sejalan dengan kenaikan harga emas dunia yang ditutup di US$3.335,1 per troy ons.
Kenaikan harga emas terjadi meskipun emas dunia sempat melemah karena kabar jeda 90 hari kebijakan tarif Donald Trump, yang memberikan waktu negosiasi hingga 9 Juli 2025 untuk lebih dari 60 negara, termasuk Indonesia.
Jeda ini awalnya meredakan ketakutan pasar, sehingga minat terhadap emas sebagai aset aman sempat menurun.
Namun, harga emas bangkit kembali karena ancaman baru dari Trump, yang mengenakan tarif 25% pada impor Jepang dan Korea Selatan mulai 1 Agustus 2025 akibat negosiasi yang buntu.
Trump juga memperingatkan tarif tambahan jika negara-negara tersebut membalas.
Ketegangan ini membuat pasar khawatir akan perang dagang dan perlambatan ekonomi global, sehingga emas kembali dilirik investor.
Meski kenaikannya tipis, emas tetap menjadi pilihan di tengah ketidakpastian perdagangan dunia. (Bloomberg Technoz)
Factors to Watch:
Global:
- Kebijakan Tarif AS di Bawah Trump: Tarif impor 32% untuk Indonesia mulai 1 Agustus 2025 dapat mengganggu ekspor dan pertumbuhan ekonomi global, meningkatkan volatilitas pasar saham dan nilai tukar.
- Geopolitik dan Inflasi: Ketegangan geopolitik, seperti ancaman tarif tambahan 25% untuk Jepang dan Korea Selatan, serta potensi konflik di Timur Tengah, dapat mendorong inflasi dan meningkatkan permintaan aset aman seperti emas.
- Suku Bunga Global: Penahanan suku bunga oleh Federal Reserve AS akibat inflasi dari tarif dan defisit fiskal dapat menekan yield obligasi global, memengaruhi harga SBN dan pasar obligasi emerging markets seperti Indonesia.
Nasional:
- Dampak Tarif pada Ekonomi Indonesia: Tarif AS diperkirakan memangkas PDB Indonesia 0,3–0,5%, menekan sektor ekspor seperti tekstil dan elektronik, serta melemahkan rupiah ke Rp16.500–16.700 per dolar AS.
- Stabilitas Makroekonomi: Inflasi Indonesia terkendali di sekitar 2,5–3%, didukung oleh stabilitas rupiah relatif terhadap mata uang utama. Hal ini menjaga daya tarik SBN dan obligasi korporasi.
Rekomendasi Investasi:
1. Jangka Pendek (Hingga 1 tahun):
Alokasikan lebih banyak di reksa dana pasar uang dengan return 4%-5,5% per tahun untuk stabilitas (volatilitas rendah) dan likuiditas. Jangan andalkan reksa saham untuk jangka pendek karena volatilitas masih sangat tinggi, yang dipengaruhi utamanya oleh faktor global.
Emas tetap dapat diandalkan sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian global yang masih tinggi.
Selain itu, reksa dana pendapatan tetap juga menarik karena kinerja yang tetap stabil, didukung oleh ekonomi Indonesia relatif kuat di tengah ketidakpastian global.
2. Jangka Menengah (1-5 tahun):
Overweight di reksa dana pendapatan tetap yang menawarkan return setelah pajak 6-8% per tahun dengan diversifikasi di obligasi pemerintah dan korporasi. Cocok untuk menyeimbangkan risiko tarif dan inflasi.
Reksa dana campuran dapat juga dipertimbangkan untuk menjadi portofolio dengan alokasi rendah (10-20%).
Emas tetap menjadi andalan sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Pertimbangkan juga SBN seri SBR014 dengan kupon indikatif 6,45% per tahun (net 5,805%) menjadi kupon terendah, dengan skema floating with floor.
3. Jangka Panjang (>5 tahun):
Untuk jangka panjang, tetaplah berinvestasi secara rutin setiap bulan di reksa dana saham.
Pilih reksa dana saham yang memiliki catatan kinerja yang baik dan konsisten dalam jangka panjang, dan terbukti dapat “turn around” pada saat pasar mengalami gejolak.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.
PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.


