tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui berita market update berikut.
Ringkasan Market Update:
-
- IHSG Rebound Usai Meredanya Aksi Demo dan Optimisme Ekonomi
- Rupiah Menguat Tipis Berkat Intervensi BI dan Pelemahan Dolar Global
- Harga Emas Dunia XAU Mencatat Rekor Tertinggi Baru di Level USD3.500 Karena Meningkatnya Ekspektasi Turunnya Suku Bunga USD
- Yield Obligasi US Treasury dan Indeks US Dollar DXY Naik Karena Kekhawatiran Fiskal AS
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 2 September 2025.
IHSG Rebound Usai Meredanya Aksi Demo dan Optimisme Ekonomi
IHSG berhasil menguat pada penutupan perdagangan Selasa, 2 September 2025 kemarin, setelah sehari sebelumnya sempat tertekan tajam oleh derasnya arus keluar dana asing.
Indeks ditutup naik sekitar 0,85% ke level 7.801,58, didorong oleh meredanya aksi demonstrasi besar yang sempat memicu kepanikan pasar. Sentimen positif ini juga diperkuat oleh fundamental ekonomi yang tetap solid, seperti data manufaktur yang stabil dan neraca perdagangan yang masih mencatat surplus. Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar domestik memanfaatkan momentum untuk kembali masuk ke pasar saham.
Penguatan IHSG tidak hanya ditopang oleh saham-saham unggulan. Justru, IHSG semakin banyak digerakkan oleh saham lapis tiga yang melonjak signifikan. Beberapa nama seperti Royaltama Mulia Kontraktorindo (RMKO), Menthobi Karyatama Raya (MKTR), Tays Bakers (TAYS), Sumber Energi Andalan (ITMA), dan Pudjiadi & Sons (PNSE) mencatat kenaikan luar biasa pada perdagangan hari itu.
Reli saham-saham kecil ini menunjukkan adanya rotasi arus dana ke sektor yang lebih spekulatif. Selain itu, reli ini sekaligus menandakan keberanian investor ritel dalam mencari peluang setelah IHSG sempat jatuh pada hari sebelumnya.
Sementara itu, investor asing masih mencatat net sell Rp331 miliar. Angka ini masih jauh lebih kecil dibanding aksi jual besar-besaran sehari sebelumnya yang mencapai Rp2,15 triliun.
Hal ini mengindikasikan bahwa kekhawatiran politik mulai berangsur mereda, seiring langkah cepat pemerintah meredam gejolak sosial.
Dengan dukungan fundamental ekonomi yang kuat dan stabilisasi situasi politik, IHSG menunjukkan daya tahannya dan mampu bangkit kembali, meskipun ketidakpastian belum sepenuhnya hilang dari radar investor. (Antara, Kontan)
Rupiah Menguat Tipis Berkat Intervensi BI dan Pelemahan Dolar Global
Pada 2 September 2025, rupiah sempat melemah ke Rp16.560/USD akibat ketidakpastian politik dan protes massal. Namun, rupiah berhasil stabil di kisaran Rp16.400/USD setelah intervensi cepat Bank Indonesia—baik di pasar domestik maupun offshore—seperti dilaporkan Reuters.
BI bertindak agar nilai tukar mendekati target sekitar Rp16.300/USD dengan menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas pasar.
Selain itu, kondisi global turut membantu rupiah. Dolar AS secara umum melemah akibat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan ketidakpastian kebijakan yang menurunkan daya tarik greenback, menurut analisis pasar global. Penurunan indeks dolar (DXY) dan yield Treasury AS menciptakan “angin surut” yang mendukung rupiah di tengah dinamika eksternal.
Harga Emas Dunia XAU Mencatat Rekor Tertinggi Baru di Level USD3.500 Karena Meningkatnya Ekspektasi Turunnya Suku Bunga USD
Pada 2 September 2025, harga emas dunia (XAU/USD) mencatat rekor baru. Harga emas menembus US$3.500 per ounce dan sempat menyentuh level US$3.529, didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed serta melemahnya dolar AS.
Kondisi geopolitik global yang tidak menentu juga meningkatkan minat investor terhadap emas sebagai aset safe-haven. Menurut Reuters, arus dana masuk ke ETF emas terbesar dunia, SPDR Gold Trust, melonjak ke level tertinggi sejak Agustus 2022, menandakan permintaan investasi emas semakin kuat.
Di dalam negeri, harga emas Antam berada di Rp2.009.000 per gram, sedikit lebih tinggi dibandingkan hari sebelumnya. Hal ini mencerminkan efek positif dari lonjakan harga emas global.
Prospek emas hingga akhir 2025 dipandang masih bullish, dengan potensi bergerak di kisaran US$3.600–3.900 per ounce. Bahkan, ada proyeksi bahwa emas bisa menembus US$4.000, bila ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik terus berlanjut.
Faktor pendorong lainnya datang dari bank-bank sentral, terutama di negara berkembang, yang masih aktif melakukan pembelian emas dalam jumlah besar sebagai strategi diversifikasi cadangan devisa.
Tren akumulasi emas oleh bank sentral ini memberi dukungan kuat pada harga di jangka panjang. Hal ini menjadikan emas bukan hanya instrumen lindung nilai saat krisis, tetapi juga pilar penting stabilitas keuangan global. (Reuters)
Yield Obligasi US Treasury dan Indeks US Dollar DXY Naik Karena Kekhawatiran Fiskal AS
Selasa (2/9) lalu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS—khususnya tenor 10 dan 30 tahun—melonjak signifikan.
Yield 10tahun naik sekitar 5 basis poin ke 4,269%, sedangkan yield 30tahun mendekati 5%, karena terjadi aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global. Aksi jual ini dipicu oleh kekhawatiran fiskal, ketidakpastian terhadap kebijakan Fed, serta ketegangan soal tarif impor AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) juga menguat, terbantu oleh aliran modal yang mencari aset safe-haven di tengah volatilitas pasar. (Reuters)
Dalam jangka pendek, lonjakan yield dan penguatan dolar bisa menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Selain itu, yield Surat Utang Negara (SUN) domestik juga dapat terdorong naik. Sebab, investor global menjadi lebih selektif dan cenderung menarik modal dari pasar berkembang.
Untuk jangka panjang, jika pasar melihat tekanan fiskal mereda atau Fed memberikan sinyal pelonggaran suku bunga, yield AS bisa stabil kembali dan dolar berpotensi melemah.
Hal ini bisa menjadi peluang bagi IHSG dan SUN untuk berbalik positif, tergantung bagaimana respons kebijakan domestik terhadap arus modal global.
Strategi Investasi 2025–2026: Peluang di Tengah Dinamika Pasar
Hingga akhir 2025, momentum investasi masih terbuka di tiga instrumen utama: reksa dana saham, SBN, dan emas.
- Reksa dana saham berpotensi mendapat dorongan dari stabilisasi politik dalam negeri pasca-demonstrasi, ditambah fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kokoh. Jika inflasi terkendali dan konsumsi domestik pulih, pasar saham akan diuntungkan, meski volatilitas global tetap menjadi risiko jangka pendek.
- SBN (Surat Berharga Negara) menarik sebagai instrumen defensif. SR023 dengan kupon tetap 5,80% (3 tahun) dan 5,95% (5 tahun) berpotensi semakin menarik jika BI Rate turun. Sebab, return SR023 tidak terpengaruh, sementara deposito dan instrumen berbunga ikut menurun. Selain itu, penurunan suku bunga biasanya menurunkan yield SUN/SBSN di pasar sekunder, sehingga harga SR023 bisa naik dan memberi peluang capital gain. Dengan demikian, SR023 memberi kombinasi kepastian imbal hasil plus potensi apresiasi harga di tengah siklus pelonggaran moneter 2025–2026.
- Emas, prospeknya masih bullish hingga akhir 2025 dan berlanjut ke 2026. Prospek emas didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, pelemahan dolar AS, dan pembelian agresif dari bank-bank sentral. Investor emas bisa memanfaatkan momentum ini sebagai diversifikasi dan lindung nilai (hedge) terhadap ketidakpastian geopolitik.
Investor reksa dana saham perlu disiplin dan fokus pada horizon menengah–panjang, investor SBN bisa memanfaatkan momentum yield tinggi untuk akumulasi, sedangkan investor emas sebaiknya menjadikan emas sebagai pelengkap portofolio untuk stabilitas jangka panjang.
Sebelum melakukan keputusan investasi, investor sangat disarankan untuk memahami profil risiko pribadi dan mempelajari produk-produk investasi terutama mengenai potensi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh masing-masing produk.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, sebuah group usaha yang terdiri dari PT Mercato Digital Asia (induk Perusahaan), PT Star Mercato Capitale yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas.
Segala informasi yang dipublikasikan pada situs dan/atau aplikasi tanamduit hanya bertujuan untuk informasi dan bukan sebagai saran, rekomendasi atau ajakan untuk membeli atau menjual suatu produk investasi tertentu yang terdapat dalam situs dan/atau aplikasi ini. Setiap analisa proyeksi, ataupun pernyataan yang merupakan prediksi suatu produk investasi di masa datang bukan merupakan indikasi kinerja masa yang akan datang. Kinerja masa lalu tidak dapat dijadikan suatu pedoman untuk kinerja masa datang.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha dengan itikad baik untuk memberikan informasi yang akurat, namun tidak menjamin bahwa informasi yang diambil dari berbagai sumber adalah tanpa adanya kesalahan, kelalaian, ketidakakuratan teknis atau faktual ataupun kesalahan ketik. Informasi yang tersedia dalam situs dan/atau aplikasi ini bukan sebagai informasi yang mengikat namun semata-mata hanya sebagai informasi tambahan dan pelengkap.


