fb-logo
Beranda » belajar » Tanamduit Outlook » tanamduit Weekly Market Recap (15-19 Desember 2025)

tanamduit Weekly Market Recap (15-19 Desember 2025)

oleh | Des 22, 2025

tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.

Sebelum berinvestasi, yuk, kenali kondisi market pada pekan 15-19 Desember 2025 dan tips investasinya melalui berita market update berikut!

Ringkasan Weekly Market Recap:

    • IHSG turun 0,59%, namun LQ45, IDX30, Bisnis27 dan SRI Kehati naik, karena rotasi akhir tahun, saham big caps tetap diakumulasi.
    • Asing net buy selektif saham, fokus bank besar dan komoditas.
    • Yield SUN turun tipis, harga SUN menguat terbatas pasca Fed cut.
    • Emas dunia XAU naik bertahap didukung Fed cut dan pembelian bank sentral.
    • Wall Street: Nasdaq rebound, dipimpin saham AI; yield US Treasury relatif terkendali.
    • Factors to Watch: Fed cut bertahap dengan yield–dolar stabil, positif selektif bagi Indonesia.

    Tabel-Market-Update-22-Desember-2025

     

    Minggu 15-19 Desember: IHSG Turun, Blue-Chip Tetap Menguat, Karena Rotasi Portfolio

    Pada pekan 15-19 Desember 2025, IHSG turun -0,59% ke 8.609, sementara indeks berbasis saham besar justru menguat (IDX30 +1,00%, SRI Kehati +1,97%, Bisnis27 +0,78%). Perbedaan arah ini mencerminkan rotasi akhir tahun (window dressing selektif), di mana investor melakukan ambil untung pada saham tertentu sambil mengakumulasi saham berfundamental kuat, sehingga pelemahan IHSG lebih bersifat teknikal dan temporer.

    Penguatan indeks utama ditopang sektor perbankan besar dan komoditas, dengan saham seperti BMRI, BBCA, BBRI, BBNI, serta UNTR, ADRO, INCO, ANTM menjadi penopang, sementara tekanan datang dari koreksi saham-saham growth dan emiten dengan valuasi yang telah tinggi. Kondisi ini membuat kinerja indeks tidak merata meski sentimen pasar relatif kondusif.

    Dari sisi aliran dana, asing mencatat net buy sekitar Rp3,3 triliun sepanjang pekan, terutama melalui akumulasi bank besar dan saham komoditas, didorong stabilnya rupiah dan ekspektasi pelonggaran moneter global. Menjelang akhir 2025, peluang net buy lanjutan masih terbuka seiring window dressing dan likuiditas domestik, meski arus asing diperkirakan tetap selektif dan sensitif terhadap pergerakan dolar dan yield global. (Bloomberg Technoz, CNBC Indonesia, Bisnis Indonesia, Kontan, Investor Daily) 

    SUN 15-19 Des 2025: Yield Turun Tipis, Harga Menguat

    Pada pekan 15-19 Desember 2025, pasar SUN menguat terbatas: yield Indo 10Y turun tipis cenderung flat dari 6,22% ke 6,21%), penurunan lebih terasa di tenor 3Y dan 1Y, sementara indeks harga Indobex naik sekitar +0,14%-0,17%. Pergerakan ini dipengaruhi sentimen global pasca Fed cut yang mendukung obligasi, meski yield UST masih volatil sehingga investor tetap selektif dan tidak agresif memperpanjang durasi.

    Dari domestik, pasar merespons RDG BI yang menahan suku bunga sambil menekankan stabilisasi Rupiah, menjaga SUN tetap menarik; arus asing di SBN selektif dan penguatan lebih banyak ditopang permintaan domestik. Prospek 2026 dinilai konstruktif bila inflasi rendah dan ruang pelongogaran BI terbuka, dengan katalis utama arah suku bunga global, stabilitas Rupiah, dan pasokan SBN; risiko utama jika yield UST/DXY berbalik naik tajam. (PHEI/Indobex; Reuters; Bloomberg Technoz; CNBC Indonesia) 

    Emas 15-19 Des 2025: Naik Bertahap, Didukung Fed Cut dan Pembelian oleh Bank Sentral

    Pada pekan 15-19 Desember 2025, harga emas XAU menguat tipis dari sekitar USD 4.303/oz ke USD 4.339/oz, sejalan dengan sentimen pasca FOMC 11 Des yang menegaskan arah pelonggaran moneter berlanjut meski berhati-hati. Pergerakan emas terutama dipengaruhi fluktuasi dolar AS dan yield UST, di mana pelemahan dolar dan yield yang relatif terkendali kembali mendorong minat emas sebagai lindung nilai.

    Dari sisi permintaan resmi, World Gold Council (WGC) melaporkan Bank Sentral China (PBoC) menambah cadangan emas sekitar 0,9 ton pada November (YTD 26 ton), sementara pembeli aktif sepanjang akhir 2025 juga mencakup Polandia, Brasil, Turki dan Indonesia.

    Hingga akhir 2025 dan menuju 2026, prospek emas dinilai konstruktif, dengan katalis utama berupa siklus penurunan suku bunga AS, potensi pelemahan dolar, ketidakpastian geopolitik, serta kelanjutan pembelian bank sentral, meski laju kenaikan bisa lebih moderat dibanding 2025. (Reuters; Trading Economics; World Gold Council) 

    Wall Street 15-19 Des 2025: Nasdaq Rebound, Yield US Treasury Turun Tipis

    Pada pekan 15-19 Desember 2025, DJI turun -0,67% sementara Nasdaq naik +0,48%; yield UST 10Y melemah tipis ke sekitar 4,15% dan DXY menguat ringan ke 98,6. Pergerakan mencerminkan pasar yang masih menimbang arah pelonggaran suku bunga 2026 di tengah volatilitas akhir tahun.

    Nasdaq rebound kuat pada 19 Des (+1,31% harian) terutama dipicu reli saham AI/semikonduktor (dipimpin Micron dengan outlook positif, diikuti Nvidia), serta lonjakan Oracle terkait berita kesepakatan bisnis; kenaikan ini bersifat campuran—fundamental jangka menengah (permintaan AI) namun diperkuat faktor temporer seperti short-covering dan volatilitas witching (investor terpaksa membeli saham-saham dimaksud sesuai kontrak investasi).

    Bagi Indonesia, yield AS yang lebih rendah relatif mendukung IHSG dan SUN, namun DXY yang menguat tipis bisa membatasi penguatan Rupiah. Menjelang akhir 2025–awal 2026, dampaknya cenderung positif tapi selektif selama yield global terkendali dan sentimen teknologi tidak berbalik risk-off. (Reuters; CNBC; Investing.com; Trading Economics; Wall Street Journal)

    Factors to Watch: Most Likely Scenario – Fed Cut Bertahap, Yield–Dolar Terkendali, Indonesia Diuntungkan Selektif

    Skenario paling mungkin yang dipantau investor global adalah The Fed melonggarkan suku bunga secara bertahap (cut lalu pause) dengan kebijakan tetap data-dependent. Fokus utama pasar adalah inflasi AS, data tenaga kerja, yield UST 10Y, dan DXY; selama yield dan dolar terkendali, sentimen global cenderung positif (risk-on), sementara lonjakan salah satunya berpotensi negatif (risk-off).

    Bagi Indonesia, kondisi yield–dolar terkendali biasanya mendukung Rupiah, IHSG, dan SUN, meski arus dana asing tetap selektif. Risiko muncul bila yield AS atau DXY berbalik naik tajam yang dapat menekan Rupiah dan obligasi; karenanya pasar domestik tetap sensitif pada dinamika global meski prospek dasarnya membaik. (Reuters; Bloomberg; CNBC; Trading Economics; Bank Indonesia)

    Tips Investasi

    Rekomendasi Investasi Akhir 2025 dan 2026

    Investor Reksa Dana

    • Reksa Dana Saham: Tambah bertahap di reksa dana saham berbasis large caps/blue-chip; contoh Bahana Dana Ekuitas Prima, Sucorinvest Maxi Fund, Sucorinvest Equity Fund Kelas A (alasan: kinerja kuat lintas periode dan cocok menangkap momentum saat pasar bullish, tapi tetap siap koreksi).
    • Reksa Dana Pendapatan Tetap: Prioritaskan reksa dana obligasi durasi menengah (3-7 tahun) seperti Sucorinvest Bond Fund, BRI Melati Pendapatan Utama, BNP Paribas Proxima (alasan: lebih stabil, berpotensi capital gain jika yield turun bertahap di 2026).
    • Reksa Dana Campuran: Pilihan all-weather untuk profil moderat seperti Sucorinvest Anak Pintar, Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A, Sucorinvest Citra Dana Berimbang (alasan: bisa rotasi saham-obligasi saat pasar volatil tanpa perlu switching sendiri).
    • Strategi 2026: Gunakan core-satellite—jadikan pendapatan tetap/campuran sebagai inti, lalu tambah porsi saham bertahap saat ada koreksi; evaluasi dan rebalancing tiap 6 bulan.

    Investor Emas

    • Jangka Pendek: Lakukan akumulasi bertahap (DCA) di tanamduit; hindari mengejar harga saat lonjakan.
    • Jangka Panjang: Tetap positif sebagai diversifikasi; emas relevan saat ketidakpastian global tinggi dan jika pelonggaran moneter berlanjut di 2026.
    • Taktik: Tambah porsi saat koreksi, dan lakukan rebalancing bila bobot emas sudah melampaui target portofolio (mis. kembali ke porsi ideal Anda).

     

    Yuk, investasi sekarang di tanamduit!

    ⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor wajib memahami profil risiko pribadi dan mempelajari karakteristik produk investasi, termasuk potensi risiko yang mungkin dihadapi. Informasi ini bersifat umum dan tidak dapat dijadikan sebagai jaminan kinerja di masa depan; kinerja historis tidak mencerminkan hasil di masa depan.

    DISCLAIMER:

    Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

    PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

    Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.

    tanamduit Team

    tanamduit adalah aplikasi investasi dengan beragam produk seperti reksa dana, SBN, emas. tanamduit telah berizin dan diawasi oleh OJK.

    banner-download-mobile