tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui berita market update berikut.
Ringkasan Market Update:
- IHSG terkoreksi tipis akibat profit taking dan likuiditas akhir tahun, namun masih dinilai temporer karena asing tetap mencatat net buy.
- Asing masih net buy meski pasar turun, mencerminkan rotasi dan rebalancing portofolio (window dressing selektif) jelang tutup tahun.
- Pasar SUN bergerak stabil dengan yield nyaris datar, mencerminkan sikap wait and see dan penyesuaian posisi akhir tahun tanpa perubahan fundamental.
- Harga emas dunia XAU melonjak tajam dan kembali naik, didorong harapan lanjutan Fed cut, dolar melemah, serta permintaan safe-haven.
- Prospek Emas; Penguatan emas dinilai fundamental dengan dukungan pembelian bank sentral, meski tetap rawan koreksi jangka pendek setelah reli besar.
- Wall Street menguat dan dolar melemah, menciptakan sentimen risk-on yang umumnya mendukung pasar emerging markets termasuk Indonesia, meski tetap sensitif pada data AS.
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 24 Desember 2025.
IHSG Terkoreksi 23 Des 2025, Asing Tetap Net Buy—Koreksi Bersifat Temporer
Pada 23 Desember 2025, IHSG turun 0,71% ke 8.584,78 dengan nilai transaksi sekitar Rp25 triliun, diikuti pelemahan indeks utama (LQ45, IDX30, Bisnis27, SRI Kehati, ISSI). Koreksi ini dinilai lebih bersifat teknikal/temporer, dipicu profit taking setelah reli sebelumnya serta likuiditas yang menipis jelang libur akhir tahun, bukan karena perubahan fundamental ekonomi.
Meski indeks turun, asing masih mencatat net buy Rp245,6 miliar, mencerminkan rotasi dan rebalancing akhir tahun (window dressing selektif)—asing tetap akumulasi terbatas sambil pasar melakukan penyesuaian harga. Hingga akhir 2025, net buy asing masih berpeluang berlanjut namun volatil, bergantung sentimen global, pergerakan rupiah, dan ekspektasi suku bunga; arah besarnya tetap ditopang prospek kebijakan moneter yang lebih longgar dan stabilitas domestik. (Bloomberg Technoz, Kontan, CNBC Indonesia, Bisnis Indonesia)
SUN Stabil Jelang Akhir Tahun, Yield Bergerak Tipis
Pada 23 Desember 2025, pasar SUN bergerak stabil cenderung menguat tipis: Indobex Government naik +0,02% (harga naik), dengan yield 10Y di 6,214% (nyaris datar), 3Y turun ke 5,391%, dan 1Y naik ke 4,903%. Pergerakan kecil ini dinilai temporer/teknikal, mencerminkan penyesuaian posisi akhir tahun dan likuiditas jelang libur, bukan perubahan fundamental. (Data PHEI/ Indobex; Bloomberg Technoz, CNBC Indonesia)
Soal arus dana, data harian asing net buy/net sell SBN 23/12 tidak dirinci pada tabel PHEI, namun laporan pasar menyebut asing masih selektif di paruh kedua Desember. Ke 2026, pelaku pasar menilai prospek SUN cukup positif jika suku bunga global melandai dan stabilitas rupiah terjaga; katalisnya arah BI Rate, inflasi, rupiah, dan manajemen suplai SBN, dengan risiko bila sentimen global kembali hawkish. (Kontan, Reuters, Bloomberg Technoz)
Emas Dunia XAU Naik Lagi 23 Des 2025: Safe-Haven + Harapan Fed Cut
Pada Selasa, 23 Des 2025, harga emas naik mendekati 1% USD4.488 karena kombinasi permintaan safe-haven di tengah meningkatnya tensi geopolitik (mis. isu AS-Venezuela) dan harapan penurunan suku bunga AS yang membuat emas lebih menarik dibanding aset berbunga. Pergerakan ini juga didukung dolar yang melemah serta kondisi perdagangan akhir tahun yang lebih “sepi”, sehingga pergerakan harga bisa terlihat lebih besar.
Apakah bisa berlanjut sampai akhir 2025? Masih mungkin, tapi berpotensi naik-turun karena faktor likuiditas dan profit taking setelah reli besar. Dari sisi “fundamental”, emas tetap ditopang pembelian bank sentral yang masih kuat (WGC mencatat pembelian tetap robust) dan arus investasi, sehingga outlook 2026 masih konstruktif bila Fed memang melanjutkan pelonggaran dan dolar cenderung melemah. (Reuters, Investing, WGC)
Wall Street Naik, Dolar Turun—Sentimen Global Makin “Risk-On”
Bursa AS menguat pada 23 Desember kemarin: Dow Jones +0,16% dan Nasdaq +0,57%, dipicu kombinasi optimisme jelang libur, dan data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan (GDP Q3 direvisi naik) yang membuat investor kembali masuk ke saham, terutama growth/technology stocks.
Di pasar obligasi, yield UST 10Y relatif stabil di kisaran 4,17% (bergerak sangat tipis), mencerminkan pasar menyeimbangkan “data ekonomi kuat” vs harapan suku bunga lebih longgar ke depan. Sementara itu indeks dolar DXY turun ke 97,94 (dolar melemah), sejalan dengan pelemahan dolar global yang juga disorot Reuters di laporan market wrap dan pantauan indeks DXY.
Dampak ke Indonesia: kombinasi dolar melemah dan yield UST yang tidak naik agresif biasanya membantu rupiah, mendukung minat ke SBN, dan memberi ruang sentimen positif ke IHSG (karena tekanan “risk-off” berkurang). Tapi kalau data AS terus sangat kuat dan membuat yield naik lagi, efeknya bisa berbalik: rupiah dan aset berisiko domestik bisa lebih volatil. (Reuters, Investopedia, Bloomberg Technoz)
Factors to Watch
- Fokus pasar ke depan adalah arah kebijakan The Fed di 2026, terutama seberapa cepat penurunan suku bunga, yang akan mempengaruhi yield US Treasury dan dolar AS.
- Selain itu, data inflasi dan tenaga kerja AS, perkembangan pembelian emas oleh bank sentral, serta stabilitas global (geopolitik dan perdagangan) menjadi penentu utama sentimen.
- Di domestik, pelaku pasar mencermati kebijakan BI, stabilitas rupiah, dan arus dana asing menjelang dan setelah periode window dressing.
Tips Investasi
- Investor emas disarankan mempertahankan porsi sebagai lindung nilai dan menambah secara bertahap (DCA) saat terjadi koreksi, karena prospek 2026 masih didukung suku bunga global yang lebih rendah dan permintaan bank sentral.
- Investor reksa dana dapat melakukan akumulasi selektif:
- profil agresif fokus pada reksa dana saham berbasis blue-chip/quality dan perbankan,
- profil moderat menyeimbangkan dengan pendapatan tetap durasi menengah,
- profil konservatif tetap pada pendapatan tetap berkualitas tinggi untuk menjaga stabilitas.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor sangat disarankan untuk memahami profil risiko pribadi dan mempelajari produk-produk investasi, terutama mengenai potensi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh masing-masing produk.
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.


