fb-logo
Beranda » belajar » Tanamduit Outlook » tanamduit Market Update: 21 Januari 2026

tanamduit Market Update: 21 Januari 2026

oleh | Jan 21, 2026

tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui berita market update berikut.

Ringkasan Market Update:

  • Emas melonjak karena lonjakan permintaan safe haven di tengah risiko global.
  • IHSG cetak rekor tipis, reli selektif saat asing masih jual bersih.
  • SUN tertekan, yield naik ikuti kenaikan UST jelang RDG BI.
  • Wall Street melemah akibat risk-off dan naiknya yield UST.
  • Factors to Watch: The Fed, inflasi AS, geopolitik, rupiah, dan arus asing.

Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 21 Januari 2026.

Tabel-Market-Update-21-Januari-2026

Emas XAU Melonjak Naik 2,2%, Safe Haven Kembali Menjadi Pilihan

Harga emas XAU pada 20 Januari 2026 melonjak ke 4.775,83 (+2,2% harian, YTD +10,7%), dipicu meningkatnya permintaan safe haven di tengah ketidakpastian kebijakan global, kenaikan tensi geopolitik, serta ekspektasi pasar terhadap pelonggaran moneter ke depan. Reuters dan Bloomberg mencatat pelemahan dolar AS dan naiknya risk premium mendorong investor kembali ke emas sebagai lindung nilai.

Kenaikan ini bersifat kombinasi fundamental dan temporer. Secara fundamental, emas ditopang ekspektasi penurunan suku bunga global, permintaan lindung nilai yang berkelanjutan, serta minat bank sentral, sementara faktor temporer datang dari sentimen jangka pendek berbasis headline geopolitik dan kebijakan. Di dalam negeri, harga emas Antam ikut menguat pada hari yang sama, mencerminkan transmisi kenaikan harga emas global dan pengaruh nilai tukar rupiah.

Ke depan, tren emas masih konstruktif dalam waktu dekat selama volatilitas global bertahan. Sejumlah analis global memperkirakan harga emas berpotensi bertahan tinggi hingga akhir 2026 dengan kisaran US$4.400–5.000/oz, tergantung arah suku bunga, stabilitas geopolitik, dan kekuatan dolar AS. (Reuters, Bloomberg, Investing.com, Trading Economics)

IHSG Tipis Naik, Asing Masih Sell, Reli Masih Selektif

IHSG di Selasa 20 Januari 2026 naik tipis +0,01% ke 9.134,70 dengan transaksi sekitar Rp29,8 triliun, mencetak rekor tertinggi harian namun performa indeks utama lain seperti LQ45, IDX30, dan Bisnis27 justru melemah. Penguatan indeks lebih terfokus pada sektor komoditas dan big caps pilihan yang menjaga sentimen pasar.

Investor asing mencatat net sell, meski ada pembelian di saham-saham seperti BBRI, PTRO, BRMS, aksi jual tertinggi terlihat di BUMI, BBCA, dan BRPT, mencerminkan rotasi portofolio di tengah tekanan global dan rupiah yang melemah.

Outlook 2026 tetap positif selama arus dana domestik kuat dan kebijakan BI stabil, namun IHSG juga rentan koreksi jangka pendek bila risiko eksternal meningkat. (Bloomberg Technoz, CNBC Indonesia, Kontan)

Yield SUN Naik, Pasar Wait-and-See

Perdagangan SUN pada 20 Januari 2026 tertekan dengan kenaikan yield Indo 10Y ke 6,34%, 3Y ke 5,34%, dan 1Y ke 4,70%, sementara Indobex Government turun -0,07% (data PHEI). Tekanan ini sejalan dengan kenaikan yield US Treasury dan sikap hati-hati investor menjelang RDG Bank Indonesia.

Likuiditas meningkat dengan transaksi SBN Rp49,2 triliun, didominasi FR0108 (10Y) dan FR0109 (5Y), menandakan fokus pada benchmark tenor menengah-panjang untuk pengaturan durasi. Prospek 2026 masih dua arah, ada ruang penurunan yield bila inflasi jinak dan BI melonggarkan suku bunga, namun risiko tetap dari skenario higher-for-longer global. (PHEI, BNI Sekuritas, Bloomberg

Wall Street Melemah, Yield Naik Tekan Saham AS

Pasar saham AS terkoreksi pada 20 Januari 2026 dengan Dow Jones turun 1,76%, Nasdaq jatuh 2,39%, dan S&P 500 melemah sekitar 2%, seiring meningkatnya sikap risk-off global. Tekanan terutama datang dari saham teknologi dan growth, di tengah kenaikan yield UST 10Y ke 4,26%, yang kembali menekan valuasi ekuitas.

Penurunan ini dinilai lebih bersifat temporer dan berbasis sentimen, dipicu kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan dan geopolitik, serta penyesuaian posisi menjelang rilis data dan sinyal kebijakan lanjutan. Namun, bila kenaikan yield bertahan dan risiko kebijakan memicu inflasi lebih tinggi, koreksi berpotensi berkembang menjadi isu fundamental melalui revisi ekspektasi suku bunga dan laba korporasi.

Bagi Indonesia, pelemahan Wall Street berpotensi meningkatkan volatilitas jangka pendek melalui arus asing, rupiah, dan yield obligasi, meski dampaknya dapat terbatas jika penopang domestik tetap kuat. Stabilitas kebijakan dan likuiditas lokal menjadi kunci untuk meredam transmisi risk-off global. (Bloomberg, Reuters, Investing, Wall Street Journal, Bloomberg Technoz)

Factors to Watch

  • Arah suku bunga The Fed dan inflasi AS akan menentukan arah dolar dan yield global; outlook Fed lebih dovish dan akan positif untuk saham, obligasi, dan emas.
  • Meningkatnya ketegangan global (Greenland, Iran, Timur Tengah) mendorong naiknya harga aset aman (emas).
  • Jika suku bunga US turun, maka dolar AS akan ikut turun. Hal ini membuat BI Rate berpotensi ikut turun dan membuat Rupiah stabil, yang selanjutnya akan meningkatkan minat asing ke IHSG dan SBN.

    Tips Investasi

      • Rekomendasi Investasi Reksa Dana 2026
        • Reksa Dana Saham: Untuk menangkap pertumbuhan, investor dapat fokus pada reksa dana saham berorientasi big caps dan likuiditas tinggi, seperti Sucorinvest Maxi Fund, Sucorinvest Equity Fund Kelas A, dan TRIM Syariah Saham. Produk-produk ini diuntungkan oleh arus asing, pemulihan siklus ekonomi, serta potensi penurunan suku bunga yang mendukung valuasi saham.
        • Reksa Dana Campuran: Bagi investor moderat, reksa dana campuran tetap menjadi pilihan all-weather, dengan contoh Sucorinvest Anak Pintar, Sucorinvest Citra Dana Berimbang, dan Syailendra Balanced Equity Opportunity Fund. Reksa dana jenis ini memberi keseimbangan antara saham dan obligasi, sekaligus memanfaatkan rotasi aset tanpa perlu timing aktif dari investor.
        • Reksa Dana Pendapatan Tetap: Untuk stabilitas dan peluang capital gain, reksa dana obligasi seperti Sucorinvest Bond Fund, Manulife Obligasi Negara Indonesia II, dan BRI Melati Pendapatan Utama layak diprioritaskan. Dengan asumsi inflasi terkendali dan ruang easing terbuka, tenor menengah berpotensi memberi imbal hasil menarik sepanjang 2026.
        • Reksa Dana Pasar Uang: Untuk keperluan likuiditas, dana darurat, namun tetap dapat tumbuh lebih besar dibanding bunga deposito, reksa dana pasar uang menjadi pilihan yang tepat. Berdasarkan konsistensi kinerja dalam jangka panjang, reksa dana Sucorinvest Money Market Fund, Syailendra Dana Kas, dan BNI AM Dana Likuid Kelas A dapat dipertimbangkan oleh investor seluruh profil risiko.
      • Rekomendasi Emas: Emas tetap relevan sebagai diversifikasi dan lindung nilai. Strategi yang disarankan adalah akumulasi bertahap (DCA) dan disiplin rebalancing bila porsinya terlalu besar (maksimum 15% dari total portfolio). Prospek emas masih konstruktif di tengah pelonggaran moneter global dan ketidakpastian geopolitik, meski laju kenaikannya cenderung lebih moderat dibanding tahun sebelumnya.

       

      Yuk, investasi sekarang di tanamduit!

      Sebelum melakukan keputusan investasi, investor sangat disarankan untuk memahami profil risiko pribadi dan mempelajari produk-produk investasi, terutama mengenai potensi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh masing-masing produk.

      DISCLAIMER:

      Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale.  PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

      PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

      Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.

       

      tanamduit Team

      tanamduit adalah aplikasi investasi dengan beragam produk seperti reksa dana, SBN, emas. tanamduit telah berizin dan diawasi oleh OJK.

      banner-download-mobile