tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui berita market update berikut.
Ringkasan Market Update:
- Global: Januari 2026 investor mengurangi risiko seiring inflasi AS bertahan tinggi dan The Fed menahan suku bunga. Kurangi risiko, perkuat RDPT dan RPU
- Indonesia: IHSG tertinggal akibat kenaikan yield SUN, tekanan rupiah, dan arus asing keluar. Kurangi risiko, fokus reksa dana saham big caps
- MSCI dan Asing: Net sell asing naik di akhir bulan dipicu isu free float MSCI. Pantau kebijakan regulator, hindari spekulasi jangka pendek
- Emas: Emas reli sebagai safe haven lalu terkoreksi karena profit taking, tren menengah tetap positif. Tahan dan tambah bertahap saat koreksi
- SUN: Yield SUN naik di tenor panjang. Pilih RDPT durasi pendek
- The Fed: Sikap higher for longer menjaga volatilitas global dan membatasi ruang pelonggaran domestik. Tetap siap menghadapi volatilitas
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 2 Februari 2026.
Januari 2026: Risk-Off Global dan Arus Asing Keluar Menekan Pasar Indonesia
Januari 2026 diawali pergeseran pasar global ke risk-off seiring inflasi AS yang masih di atas target dan ekspektasi pelonggaran moneter yang melunak. US Federal Reserve pada 28 Januari menahan suku bunga di 3,50%–3,75%, sementara yield US Treasury 10Y naik dari sekitar 4,15% ke 4,24%, mencerminkan kenaikan premi risiko global.
Ketidakpastian geopolitik, terutama ketegangan di Timur Tengah dan Eropa Timur, serta meningkatnya policy uncertainty di AS mendorong arus safe haven. Harga emas naik dari US$4.315/oz (akhir Des 2025) ke level tertinggi di US$5.400/oz pada 29 Januari sebelum terkoreksi ke US$4.865/oz pada 30 Januari, dengan kinerja bulanan tetap +12,75%. Harga minyak juga melonjak lebih dari 13%, mempertebal risiko inflasi global.
Di tengah kondisi tersebut, pasar saham Asia relatif resilien, namun Indonesia tertinggal. IHSG turun 3,67% ke 8.329,61, sejalan dengan kenaikan yield SUN 10Y ke sekitar 6,37%. Tekanan pasar diperkuat oleh arus investasi asing yang mencatat net sell berkelanjutan sepanjang Januari, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko domestik.
Tekanan eksternal tersebut diperberat isu struktural setelah MSCI menyoroti persoalan free float dan transparansi kepemilikan saham serta menerapkan interim treatment atas perubahan indeks. Di pasar valas, meski DXY melemah 1,35%, USD/IDR justru naik 0,66% ke 16.785, menandakan tekanan domestik. BI menegaskan fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan. (Reuters, MSCI, Investing, IDX, PHEI, Bank Indonesia)
IHSG Tertekan di Januari, Aksi Jual Investor Asing Memuncak di Akhir Bulan
Sepanjang Januari 2026, IHSG turun 6,94% dari 8.646 ke 8.330, seiring pelemahan indeks utama lainnya. Tekanan memuncak pada 28–29 Januari, ditandai lonjakan nilai transaksi (Rp45,4 triliun dan Rp67,9 triliun) serta arus asing berbalik net sell sekitar Rp8,9 triliun sepanjang bulan, dengan net sell harian terbesar Rp6,17 triliun dan Rp4,63 triliun.
Koreksi tajam tersebut terkait sentimen investability dan free float setelah pengumuman MSCI yang menyoroti transparansi kepemilikan saham dan menerapkan perlakuan sementara (interim treatment/freeze) atas perubahan indeks. Pada 28 Januari, IHSG sempat jatuh lebih dari 7% dan memicu trading halt, dengan tekanan yang bersifat luas (broad-based).
Aksi jual asing didorong kombinasi kenaikan yield global, dan kekhawatiran downgrading BEI (dari Emerging Market menjadi Frontier) oleh MSCI. Ke depan, prospek sisa 2026 akan ditentukan oleh perbaikan transparansi dan free float, respons regulator (OJK/BEI), serta stabilisasi yield dan nilai tukar. (MSCI Index Announcement 27 Jan 2026, Reuters, BEI/IDX, PHEI)
Emas XAU Reli Tajam, Koreksi Akibat Profit Taking
Sepanjang Januari 2026, emas XAU melonjak dari US$4.315/oz (akhir Des 2025) hingga mencapai puncak US$5.400/oz pada 28 Januari (naik sekitar 25% YTD), namun turun drastis di akhir bulan sehingga menurunkan return sepanjang bulan menjadi +12,8%, didorong arus safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi penurunan suku bunga riil global.
Pada 30 Januari emas terkoreksi tajam ke US$4.865 /oz (-9,8% harian) akibat aksi ambil untung setelah reli cepat dan posisi pasar yang padat, diperkuat sikap Federal Reserve yang menahan suku bunga dan mendorong penguatan sementara dolar AS. Koreksi ini dinilai teknikal dan temporer, bukan perubahan fundamental.
Ke depan, prospek emas tetap konstruktif dengan katalis berupa ketegangan geopolitik yang berlanjut, potensi pelonggaran moneter global, dan pembelian bank sentral. Volatilitas tinggi masih mungkin, namun tren jangka menengah emas dinilai tetap positif. (Reuters, Investing, World Gold Council, Federal Reserve Statement)
Yield SUN Naik, Investor Lebih Waspada
Sepanjang Januari 2026, bunga Surat Utang Negara (SUN) cenderung naik, artinya harga obligasi pemerintah turun tipis. Data PHEI menunjukkan bunga SUN 10 tahun naik dari sekitar 6,17% di akhir 2025 menjadi 6,37% pada 30 Januari. Kenaikan ini terutama terjadi di tenor menengah-panjang, sementara tenor pendek relatif stabil.
Penyebabnya datang dari dua arah. Secara global, bunga obligasi AS naik dan pasar keuangan lebih berhati-hati, sehingga investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi negara berkembang. Dari dalam negeri, rupiah sempat tertekan, membuat investor asing dan domestik lebih selektif. Bank Indonesia tetap fokus menjaga stabilitas rupiah, yang membantu menahan gejolak di obligasi jangka pendek.
Ke depan di sisa 2026, arah bunga SUN sangat bergantung pada stabilitas rupiah, kondisi pasar global, dan keyakinan investor terhadap APBN. Jika rupiah stabil dan tekanan global mereda, bunga SUN berpeluang turun kembali, sebaliknya, gejolak global bisa membuat bunga tetap berfluktuasi, terutama di tenor panjang. (PHEI, Bank Indonesia, Bloomberg Technoz, CNBC Indonesia, Reuters)
The Fed Menahan Suku Bunga: Pasar Global Lebih Hati-Hati, Indonesia Ikut Terdampak
Pada 28 Januari, Federal Reserve memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% dan menegaskan kebijakan tetap data-dependent. Keputusan ini menunda ekspektasi penurunan suku bunga lebih cepat, mendorong pasar global bersikap lebih berhati-hati, dengan volatilitas pada dolar AS, yield obligasi, dan pasar saham.
Bagi Indonesia, sikap The Fed tersebut berpotensi menekan rupiah, menjaga yield SUN tetap tinggi, dan membuat IHSG bergerak selektif. Kondisi ini memperkuat alasan Bank Indonesia untuk menahan BI Rate dan memprioritaskan stabilitas nilai tukar hingga kondisi global lebih kondusif. (Reuters, Bloomberg Technoz, Bank Indonesia)
Factors to Watch
-
Suku Bunga: Arah kebijakan Federal Reserve dan Bank Indonesia menentukan ruang kinerja RDPU dan RDPT. Pelonggaran bertahap mendukung RDPT, sedangkan jika suku bunga bertahan tinggi akan menguntungkan RDPU.
-
Yield Obligasi: Yield SUN tenor panjang masih sensitif global risk-off. Jika yield turun RDPT berpeluang capital gain, jika naik RDPT fluktuatif.
-
Arus Asing: Net sell investor asing di saham Indonesia dan isu MSCI menahan pertumbuhan return reksa dana saham, sedangkan arus balik masuk jadi katalis penguatan RD saham.
-
Rupiah: Stabilitas nilai tukar menjadi kunci masuknya kembali dana asing lintas aset, rupiah yang stabil dan atau menguat mendukung RD saham dan RDPT.
Tips Investasi
Reksa Dana Unggulan di tanamduit
- Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)
Tujuan: stabilitas, likuiditas, dan parkir dana
- Sucorinvest Money Market Fund → Kinerja konsisten di semua horizon, likuiditas kuat, cocok sebagai jangkar portofolio.
- BRI Seruni Pasar Uang III → Stabil dengan return kompetitif, cocok untuk investor konservatif dan dana jangka pendek.
- Syailendra Dana Kas → Track record panjang dan stabil, baik sebagai buffer saat pasar volatil.
- Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)
Tujuan: yield lebih tinggi dengan risiko terukur
- TRIM Dana Tetap 2 Kelas A → Konsisten jangka panjang, mampu bertahan di berbagai siklus suku bunga
- Syailendra Pendapatan Tetap Premium Kelas A → Kinerja 3–5 tahun solid, cocok untuk konservatif–moderat yang ingin naik kelas dari RDPU.
- Eastspring IDR Fixed Income Fund Kelas A → Track record 10 tahun kuat, manajemen durasi relatif disiplin.
- Reksa Dana Campuran
Tujuan: pertumbuhan seimbang dan peredam volatilitas
- Syailendra Balanced Equity Opportunity Fund → Performa sangat kuat lintas periode, salah satu campuran terbaik.
- TRIM Kombinasi 2 → Konsisten dan terdiversifikasi, cocok sebagai core untuk profil moderat.
- Mandiri Investa Syariah Berimbang → Alternatif syariah dengan kinerja jangka menengah–panjang yang solid.
- Reksa Dana Saham
Tujuan: pertumbuhan jangka panjang, siap volatil
- Sucorinvest Maxi Fund → Return jangka pan-ang sangat kuat, cocok untuk investor agresif berdisiplin.
- Sucorinvest Equity Fund Kelas A → Konsisten di berbagai horizon, lebih “smooth” dibanding Maxi Fund.
- TRIM Syariah Saham → Opsi saham syariah dengan kinerja stabil dan rekam jejak panjang.
Nama-nama reksa dana unggulan tersebut di atas berdasarkan konsistensi kinerja masa lalu 1 bulan sampai dengan 5-10 tahun yang lalu dengan menggunakan data NAB 30 Januari 2026.
Disclaimer: Informasi ini bersifat edukasi dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli atau menjual reksa dana tertentu. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Nilai investasi dapat naik atau turun. Investor disarankan membaca prospektus dan menyesuaikan keputusan investasi dengan tujuan serta profil risiko masing-masing.
Pertimbangan untuk Investor Emas
- Emas tetap relevan sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. Kenaikan awal 2026 mencerminkan peran safe haven, koreksi akhir Januari bersifat teknikal dan sementara.
- Investor yang sudah memiliki emas disarankan menahan posisi inti dan melakukan penyesuaian bertahap saat volatilitas. Bagi yang belum memiliki, pendekatan akumulasi bertahap lebih tepat dibanding masuk sekaligus. Porsi emas ideal berada di kisaran 10–20% portofolio sebagai penyeimbang risiko sepanjang 2026.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor sangat disarankan untuk memahami profil risiko pribadi dan mempelajari produk-produk investasi, terutama mengenai potensi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh masing-masing produk.
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.


