fb-logo
Beranda » belajar » Emas » Perang Memanas, Emas Justru Turun: Apa yang Sebenarnya Sedang Dibaca Pasar?

Perang Memanas, Emas Justru Turun: Apa yang Sebenarnya Sedang Dibaca Pasar?

oleh | Apr 1, 2026

Saat konflik geopolitik memanas, banyak orang biasanya langsung berpikir satu hal: harga emas akan naik. Wajar, karena emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven, yaitu instrumen yang sering dicari investor ketika pasar penuh ketidakpastian.

Namun belakangan, pasar justru menunjukkan hal yang berbeda. Di tengah memanasnya konflik global, harga emas turun dan mengalami koreksi cukup tajam. Sekilas, situasi ini terlihat bertentangan dengan logika investasi.

Lalu, kenapa harga emas turun saat perang memanas? Apakah ini berarti status emas sebagai safe haven mulai hilang? Atau justru pasar sedang membaca faktor lain yang lebih besar?

Artikel ini membahas apa yang sebenarnya sedang dibaca pasar, kenapa emas bisa terkoreksi di tengah ketegangan geopolitik, dan apa yang perlu diperhatikan investor ke depan.

Emas Tidak Kehilangan Status Safe Haven

Sekilas, penurunan emas di Maret terlihat bertentangan dengan logika pasar. Konflik AS–Israel dengan Iran justru meningkat sejak 28 Februari, tetapi harga emas turun tajam.

Reuters mencatat emas mengalami penurunan bulanan sekitar 11%–14% di Maret 2026, salah satu koreksi bulanan terdalam sejak 2008. Namun ini tidak berarti fungsi emas sebagai safe haven hilang.

Yang terjadi adalah pasar sedang menilai bahwa dampak perang terhadap inflasi dan suku bunga lebih dominan daripada efek lindung nilai geopolitik itu sendiri.

Kenapa emas bisa turun saat perang justru membesar?

Ada tiga penjelasan utama.

Pertama, perang mendorong harga minyak melonjak, sehing-ga pasar khawatir inflasi global naik lagi. Jika inflasi kembali tinggi, bank sentral, terutama The Fed, menjadi lebih sulit menurunkan suku bunga.

Kedua, dalam situasi seperti itu, yield obligasi AS naik dan dolar menguat, sehingga emas yang tidak memberikan bunga menjadi relatif kurang menarik.

Ketiga, setelah reli besar di awal tahun, banyak investor melakukan profit taking; jadi penurunan emas bukan semata karena minat hilang, melainkan karena posisi sebelumnya sudah sangat padat. Reuters juga mencatat bahwa dalam fase awal perang, sebagian investor justru memilih likuiditas dan dolar AS, bukan emas.

Jadi, apakah safe haven emas “gagal”?

Tidak! Safe haven tidak selalu berarti harga harus naik setiap hari selama krisis. Dalam fase awal guncangan besar, pasar sering lebih dulu memburu cash, dolar, dan obligasi jangka pendek. Emas baru benar-benar kembali dominan jika pasar mulai melihat krisis berlarut, pertumbuhan ekonomi melemah, atau suku bunga akhirnya turun.

Reuters menggambarkan Maret sebagai periode ketika bahkan aset yang biasanya dianggap aman ikut terguncang, karena pasar sedang menghadapi kombinasi yang sulit: perang, lonjakan energi, inflasi, dan yield yang naik bersamaan

Harga Emas Bulan Maret

Apa pandangan analis internasional ke depan?

Meski koreksi Maret cukup dalam, pandangan analis internasional besar tetap konstruktif untuk emas. Reuters melaporkan Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir 2026 menjadi US$5.400/oz.

Dalam laporan Reuters yang sama, UBS menaikkan target emas menjadi US$6.200/ oz untuk beberapa horizon 2026, dengan proyeksi akhir 2026 sekitar US$5.900/oz.

Sementara itu, Commerzbank menaikkan proyeksi akhir tahun ke sekitar US$5.000/oz, dengan asumsi konflik mereda dan The Fed pada akhirnya tetap bergerak ke arah pelonggaran, meski lebih lambat.

World Gold Council juga menegaskan bahwa penopang jangka menengah emas tetap sama: ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, diversifikasi dari dolar, serta pembelian bank sentral.

Apa yang perlu dicermati investor sampai akhir 2026?

Arah emas ke depan akan sangat ditentukan oleh empat hal.

Pertama, apakah konflik Iran meluas atau justru mereda.

Kedua, apakah harga minyak bertahan tinggi, karena ini akan menentukan arah inflasi.

Ketiga, apakah yield US Treasury dan dolar AS terus naik atau mulai turun.

Keempat, apakah pembelian oleh bank-bank sentral dan investor besar tetap kuat. Jika perang berkepanjangan dan pertumbuhan global mulai melemah, emas berpeluang kembali menguat. Tetapi jika dolar tetap sangat kuat dan yield tetap tinggi, emas bisa masih berfluktuasi tajam sebelum menemukan tren naik baru.

Kesimpulan

Penurunan emas di tengah perang bukan paradoks, melainkan cerminan bahwa pasar saat ini lebih takut pada inflasi yang berta-han tinggi dan suku bunga yang tidak cepat turun. Jadi, emas bukan kehilangan daya tarik, tetapi untuk sementara dikalahkan oleh dolar kuat, yield tinggi, dan aksi ambil untung. Dalam pandangan banyak analis besar, koreksi ini lebih terlihat sebagai fase konsolidasi, bukan akhir dari cerita bullish emas.

Investasi di tanamduit, Aja!

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, mulai investasi emas di tanamduit download aplikasi tanamduit 

Sumber: Reuters, World Gold Council, Goldman Sachs Research, UBS Research, Investing.com

tanamduit Team

tanamduit adalah aplikasi investasi dengan beragam produk seperti reksa dana, SBN, emas. tanamduit telah berizin dan diawasi oleh OJK.

banner-download-mobile