Ringkasan Market Recap 4 – 8 Mei 2026:
- IHSG ditutup relatif stabil di 6.969 (+0,18%), meski sempat turun tajam pada Jumat sore.
- Investor asing mencatat net buy besar Rp12,3 triliun secara mingguan, terutama pada 8 Mei.
- Yield SUN 10 tahun turun ke 6,7373%, menandakan pasar obligasi mulai membaik kembali.
- Harga minyak dunia turun lebih dari 6%, membantu meredakan tekanan inflasi global.
- Harga emas XAU naik 2,17% ke USD4.714/oz, menunjukkan aset safe haven masih diminati.
- Nasdaq naik kuat 4,5%, sementara yield US Treasury dan dolar AS mulai sedikit melemah.
- Rupiah masih lemah di Rp17.365/USD, tetapi tekanan global mulai lebih terkendali dibanding sebelumnya.

Tekanan Global Mulai Mereda, Tetapi Risiko Domestik Bertambah
Pekan 4–8 Mei 2026 ditandai mulai meredanya sebagian tekanan global, terutama dari sisi energi. Harga minyak turun cukup tajam, dengan WTI turun 6,40% ke USD95,42 dan Brent turun 6,36% ke USD101,29. Penurunan ini membantu mengurangi kekhawatiran inflasi global dan memberi ruang stabilisasi bagi pasar saham maupun obligasi.
Pasar juga mulai melihat kemungkinan bahwa The Fed tidak akan kembali terlalu agresif menaikkan suku bunga. Hal ini membantu yield US Treasury 10 tahun turun ke 4,36% dan indeks dolar DXY melemah ke 97,90.
Namun di dalam negeri, pasar mulai dibayangi sentimen baru dari rencana revisi pungutan dan royalti sektor minerba dan batubara. Isu ini memicu kekhawatiran terhadap potensi penurunan profitabilitas emiten tambang dan komoditas yang selama ini menjadi salah satu penopang utama IHSG.
IHSG Stabil, Tetapi Jumat Sore Sempat Diguncang Tekanan Besar
Secara mingguan IHSG masih mampu ditutup naik tipis ke 6.969 (+0,18%), sementara LQ45 naik 1,17%, IDX30 naik 2,08%, dan SRI-Kehati naik 2,66%.
Namun volatilitas pasar kembali terlihat besar pada Jumat, 8 Mei, ketika IHSG sempat turun tajam pada sesi siang hingga penutupan. Tekanan terutama terjadi pada saham-saham big caps, khususnya sektor komoditas, industri dasar, dan keuangan.
Selain aksi profit taking dan kehati-hatian investor menjelang akhir pekan, pasar juga mulai merespons negatif isu revisi pungutan minerba dan batubara. Investor khawatir kebijakan tersebut dapat menekan margin dan laba emiten tambang ke depan.
Menariknya, di hari yang sama investor asing justru mencatat net buy lebih dari Rp11 triliun. Ini menunjukkan tekanan jual Jumat lalu lebih banyak berasal dari investor domestik dan trading jangka pendek, sementara sebagian investor global mulai melihat valuasi pasar Indonesia semakin menarik setelah koreksi panjang sebelumnya.
Meski foreign flow mingguan sudah positif, posisi asing secara YTD masih net sell sekitar Rp37,6 triliun, sehingga pasar masih membutuhkan konsistensi dana masuk untuk membangun pemulihan yang lebih kuat.
Obligasi Mulai Membaik, Yield Kembali Turun
Pasar obligasi domestik juga menunjukkan perbaikan. Yield SUN 10 tahun turun dari 6,844% ke 6,7373%, sementara indeks obligasi pemerintah kembali menguat. Perbaikan ini didukung oleh turunnya harga minyak, mulai stabilnya yield global, dan masuknya kembali sebagian aliran dana asing ke pasar domestik.
Dengan yield SUN yang masih relatif tinggi, pasar obligasi Indonesia tetap menarik bagi investor pendapatan tetap, terutama jika tekanan global terus mereda.
Rupiah Masih Lemah, Tetapi Volatilitas Mulai Mereda
Rupiah ditutup di sekitar Rp17.365/USD, sedikit melemah dibanding minggu sebelumnya. Namun dibanding periode tekanan besar sebelumnya, volatilitas rupiah mulai lebih terkendali.
Turunnya harga minyak dan melemahnya dolar global membantu mengurangi tekanan eksternal, meski level rupiah saat ini masih membuat investor global tetap berhati-hati.
Stabilitas rupiah akan tetap menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan aliran dana asing ke pasar saham dan obligasi Indonesia.
Harga Emas Naik Lagi, Safe Haven Tetap Dicari
Harga emas XAU naik 2,17% ke USD4.714/oz, menunjukkan investor global masih mempertahankan sebagian alokasi pada aset safe haven.
Kenaikan emas didukung oleh dolar AS yang sedikit melemah serta ekspektasi bahwa suku bunga global tidak akan naik terlalu agresif dalam waktu dekat.
Selama geopolitik dan arah ekonomi global masih penuh ketidakpastian, emas tetap relevan sebagai bagian dari diversifikasi portofolio.
Pasar AS Menguat, Yield dan Dolar Mulai Lebih Stabil
Pasar saham AS minggu lalu bergerak cukup positif, terutama di sektor teknologi. Nasdaq naik 4,5% ke 26.247, sementara Dow Jones naik tipis 0,2% ke 49.609. Penguatan ini menunjukkan minat investor terhadap saham growth mulai kembali membaik setelah tekanan besar beberapa bulan sebelumnya.
Di sisi lain, yield US Treasury 10 tahun turun ke 4,36% dan indeks dolar DXY melemah ke 97,90. Kombinasi ini cukup penting karena memberi sinyal bahwa tekanan inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS mulai sedikit mereda, terutama setelah harga minyak turun cukup tajam minggu lalu.
Bagi pasar Indonesia, kondisi ini relatif positif. Yield AS yang lebih stabil membantu mengurangi tekanan terhadap pasar obligasi domestik, sementara dolar yang sedikit melemah memberi ruang bagi rupiah dan arus dana asing untuk lebih stabil. Hal ini ikut mendukung membaiknya pasar SUN dan kembalinya net buy asing ke pasar saham Indonesia.
Namun karena yield global masih berada di level tinggi dan ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya hilang, pasar domestik masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek.
Factors to Watch
- Fokus pasar ke depan masih akan tertuju pada arah harga minyak, kebijakan The Fed, pergerakan US Treasury, dan stabilitas rupiah.
- Jika harga energi tetap stabil dan yield global tidak kembali melonjak, peluang pemulihan pasar saham dan obligasi domestik dapat terus berlanjut.
- Namun volatilitas global tetap perlu diwaspadai karena sentimen geopolitik dan inflasi masih bisa berubah cepat.
Rekomendasi Investasi: Tetap Tenang, Jaga Likuiditas, Siapkan Peluang
- Bagi investor reksa dana, kondisi saat ini mulai membuka ruang untuk pendekatan yang lebih konstruktif secara bertahap. Reksa dana pasar uang tetap penting untuk menjaga likuiditas, tetapi reksa dana pendapatan tetap mulai semakin menarik seiring membaiknya pasar obligasi.
Untuk reksa dana saham, pendekatan bertahap dan selektif tetap lebih relevan dibanding agresif mengejar kenaikan jangka pendek. Masuknya kembali dana asing dapat menjadi sinyal awal perbaikan, meski pasar masih membutuhkan konsistensi. - Untuk investor yang mencari alternatif fixed income yang lebih stabil, masa penawaran SBN seri ST016 juga layak dicermati. ST016 tersedia dalam tenor 2 tahun dan 4 tahun, dengan kupon floating with floor masing-masing sekitar 6,05% dan 6,25%, sehingga dapat menjadi pilihan diversifikasi pendapatan tetap berbasis SBN di tengah pasar yang masih volatil.
- Bagi investor emas, posisi emas tetap layak dipertahankan sebagai pelindung nilai dan diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya hilang.
Referensi: Investing.com, IDX, PHEI, Bank Indonesia, Reuters, Bloomberg.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
DISCLAIMER:
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor wajib memahami profil risiko pribadi dan mempelajari karakteristik produk investasi, termasuk potensi risiko yang mungkin dihadapi. Informasi ini bersifat umum dan tidak dapat dijadikan sebagai jaminan kinerja di masa depan; kinerja historis tidak mencerminkan hasil di masa depan.
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.

