Ringkasan Market Recap 29 Juni – 3 Juli 2026:
- IHSG turun tipis 0,35%, sementara bursa regional dan AS justru menguat.
- Investor asing masih mencatat net sell Rp2,73 T, sehingga net sell YTD mencapai Rp74,4 T.
- Rupiah melemah ke Rp17.950/USD meski DXY turun ke 100,86.
- Yield SUN 10 tahun turun ke 7,19%, tetapi masih berada pada level tinggi.
- Harga minyak Brent stabil di sekitar USD72/barel setelah koreksi tajam minggu sebelumnya.
- Emas rebound 2,11% ke USD4.175/oz seiring investor kembali mencari diversifikasi.

Pasar Global Lebih Kondusif, Namun Indonesia Belum Ikut Pulih
Sentimen global bergerak lebih baik sepanjang minggu lalu. Bursa saham AS dan sebagian besar bursa Asia menguat, harga minyak tetap stabil di level lebih rendah, dan indeks dolar AS melemah dari 101,36 ke 100,86. Kondisi ini seharusnya memberi ruang bagi aset emerging markets untuk pulih.
Namun pasar Indonesia belum menunjukkan respons yang kuat. IHSG masih turun tipis 0,35%, rupiah kembali melemah ke Rp17.950/USD, dan investor asing masih membukukan net sell Rp2,73 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar Indonesia saat ini tidak semata dipengaruhi faktor global, tetapi juga masih berkaitan dengan kepercayaan investor terhadap aset Rupiah.
IHSG Masih Tertahan, Dana Asing Belum Kembali
IHSG ditutup di level 5.876 atau turun 0,35% secara mingguan. Pelemahan juga terjadi pada indeks saham utama seperti LQ45 -0,33%, IDX30 -0,67%, Bisnis27 -0,82%, dan SRI-Kehati -0,56%.
Di tengah penguatan bursa regional, kinerja IHSG yang masih tertahan menunjukkan investor domestik maupun asing masih berhati-hati. Investor asing kembali mencatat net sell Rp2,73 triliun sepanjang minggu lalu, sehingga total net sell sejak awal tahun mencapai sekitar Rp74,4 triliun.
Tekanan jual asing memang lebih kecil dibanding beberapa minggu sebelumnya, tetapi belum cukup untuk menandakan perubahan arah. Pasar masih menunggu bukti stabilisasi rupiah, penurunan premi risiko, serta langkah kebijakan yang lebih mampu memulihkan minat investor terhadap pasar Indonesia.
Meskipun IHSG telah terkoreksi lebih dari 30% sejak awal tahun, peluang pemulihan hingga akhir 2026 masih terbuka seiring valuasi yang semakin menarik. Namun, pemulihan diperkirakan berlangsung bertahap dan sangat bergantung pada stabilitas rupiah, kembalinya arus dana asing, efektivitas kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia, implementasi perbaikan pasar modal paska evaluasi MSCI, serta terjaganya peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s dan S&P. Apabila katalis-katalis tersebut mulai membaik, IHSG berpotensi mengakhiri tahun di kisaran 6.300–6.700, dengan saham-saham berkapitalisasi besar dalam indeks LQ45 dan IDX30 diperkirakan menjadi pemimpin pemulihan pasar.
Pasar Obligasi Mulai Membaik, Tetapi Yield Masih Tinggi
Pasar obligasi menunjukkan sedikit perbaikan. Yield SUN 10 tahun turun dari 7,23% menjadi 7,19%, sementara Indobex Composite naik 0,30% secara mingguan.
Penurunan yield ini menjadi sinyal awal bahwa tekanan di pasar obligasi mulai mereda. Namun level yield yang masih berada di atas 7% menunjukkan investor masih meminta premi risiko yang tinggi untuk memegang obligasi Rupiah.
Ke depan, pasar obligasi akan sangat bergantung pada stabilitas rupiah dan arah arus dana asing. Jika rupiah mulai menguat dan net sell asing mereda, peluang pemulihan pasar obligasi akan semakin terbuka.
Prospek pasar obligasi Indonesia mulai membaik, meskipun yield SUN masih berada pada level yang relatif tinggi. Apabila stabilitas rupiah terus membaik, arus dana asing mulai kembali, dan inflasi tetap terkendali, yield SUN berpotensi turun secara bertahap sehingga mendukung kenaikan harga obligasi dan kinerja reksa dana pendapatan tetap. Namun jika tekanan terhadap rupiah kembali meningkat atau yield US Treasury naik lebih tinggi, pasar obligasi diperkirakan masih akan bergerak volatil.
Rupiah Masih Lemah, Meski Dolar AS Mulai Turun
Rupiah melemah ke Rp17.950/USD, meskipun US Dollar Index (DXY) turun 0,49% ke 100,86. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi dolar AS, tetapi juga mencerminkan masih tingginya sensitivitas pasar terhadap risiko domestik.
Dibanding mata uang regional, beberapa mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS, seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yen Jepang. Kondisi ini menegaskan bahwa rupiah masih menghadapi tekanan yang lebih spesifik, terutama akibat berlanjutnya arus keluar dana asing dan belum pulihnya kepercayaan terhadap aset Rupiah.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan masih bergerak volatil dan cenderung berada di kisaran Rp17.800–18.100/USD hingga terdapat katalis yang mampu memulihkan kepercayaan investor. Arah rupiah akan sangat ditentukan oleh perkembangan arus dana asing, efektivitas langkah stabilisasi Bank Indonesia, implementasi kebijakan pemerintah, serta pergerakan DXY dan yield US Treasury. Apabila faktor-faktor tersebut membaik secara konsisten, rupiah berpeluang kembali menguat secara bertahap; sebaliknya, jika tekanan domestik dan eksternal masih berlanjut, rupiah diperkirakan tetap berada di level yang relatif lemah.
Harga Minyak Stabil, Risiko Inflasi Energi Mulai Lebih Terkendali
Harga minyak bergerak relatif stabil setelah penurunan tajam pada minggu sebelumnya. WTI turun tipis 0,65% ke USD68,78 per barel, sementara Brent turun 0,66% ke USD72,12 per barel.
Stabilnya harga minyak di level yang lebih rendah menjadi perkembangan positif bagi pasar global dan Indonesia. Jika bertahan, kondisi ini dapat membantu mengurangi tekanan inflasi energi, menurunkan beban subsidi, dan memberi ruang yang lebih baik bagi stabilitas rupiah.
Namun pasar tetap perlu mencermati perkembangan geopolitik karena kenaikan kembali harga minyak dapat mengubah sentimen global dengan cepat.
Pasar AS Menguat, DXY Mulai Turun
Pasar saham AS kembali menguat sepanjang minggu lalu. Dow Jones naik 1,97%, sementara Nasdaq menguat 2,12%, didukung oleh membaiknya risk appetite dan kembalinya minat investor terhadap saham teknologi.
Di sisi lain, DXY turun ke 100,86, meskipun yield US Treasury 10 tahun naik ke 4,49%. Bagi Indonesia, penurunan DXY seharusnya menjadi faktor positif bagi rupiah dan aset emerging markets. Namun respons rupiah yang masih lemah menunjukkan bahwa faktor domestik masih lebih dominan dalam menentukan arah pasar Indonesia.
Factors to Watch
- Stabilitas Rupiah
Penguatan rupiah menjauh dari Rp18.000/USD akan menjadi sinyal penting bahwa tekanan terhadap aset Rupiah mulai mereda. Sebaliknya, jika rupiah tetap lemah, volatilitas pasar saham dan obligasi diperkirakan masih akan tinggi. - Arus Dana Asing
Net sell asing masih menjadi hambatan utama pemulihan IHSG. Jika arus dana asing mulai berbalik menjadi net buy secara konsisten, peluang rebound pasar akan semakin kuat. Namun jika net sell berlanjut, pemulihan pasar kemungkinan masih terbatas. - Yield SUN dan Premi Risiko Indonesia
Penurunan yield SUN 10 tahun perlu berlanjut untuk menunjukkan bahwa premi risiko Indonesia mulai turun. Jika yield kembali naik, investor akan membaca bahwa pasar obligasi masih belum sepenuhnya percaya terhadap stabilitas aset Rupiah. - DXY dan Yield US Treasury
DXY yang mulai turun dapat membantu emerging markets, tetapi kenaikan yield US Treasury tetap perlu dicermati. Jika yield AS kembali naik tajam, tekanan terhadap arus modal ke Indonesia dapat meningkat kembali. - Harga Minyak Dunia
Harga minyak yang bertahan di level lebih rendah akan membantu meredakan risiko inflasi dan tekanan fiskal. Namun kenaikan kembali harga minyak akibat geopolitik dapat kembali menekan rupiah dan pasar obligasi.
Rekomendasi Investasi
Bagi Investor Reksa Dana Eksisting
- Reksa Dana Pasar Uang — Pertahankan
Tetap dipertahankan sebagai sumber likuiditas dan dana cadangan. Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, reksa dana pasar uang memberikan fleksibilitas untuk memanfaatkan peluang investasi apabila kondisi pasar mulai menunjukkan perbaikan yang lebih konsisten. - Reksa Dana Pendapatan Tetap — Tambah Bertahap
Yield SUN yang masih berada di atas 7% membuat reksa dana pendapatan tetap mulai menarik untuk investor jangka menengah. Penambahan investasi dapat dilakukan bertahap, terutama jika rupiah mulai stabil dan yield obligasi bergerak turun lebih konsisten. - Reksa Dana Saham — Tambah Bertahap
Koreksi IHSG yang cukup dalam membuat valuasi pasar saham mulai lebih menarik untuk investor jangka panjang. Namun karena arus dana asing belum kembali secara konsisten, strategi akumulasi bertahap tetap lebih prudent dibanding investasi sekaligus. - Reksa Dana Indeks Saham — Tambah Bertahap melalui Investasi Berkala
Pelemahan indeks dapat dimanfaatkan untuk membangun posisi secara disiplin melalui strategi investasi berkala. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko volatilitas jangka pendek sekaligus membuka peluang mengikuti pemulihan pasar dalam jangka panjang. - Reksa Dana Campuran — Pertahankan
Reksa dana campuran tetap relevan bagi investor moderat karena memiliki diversifikasi antara saham dan obligasi. Penambahan investasi dapat dipertimbangkan apabila rupiah, pasar obligasi, dan arus dana asing mulai menunjukkan perbaikan lebih konsisten.
Bagi Investor yang Akan Berinvestasi di Reksa Dana
- Kondisi pasar saat ini mulai menawarkan risk-reward yang lebih menarik dibanding beberapa bulan lalu, meskipun volatilitas masih tinggi. Investor konservatif dapat memulai dari reksa dana pasar uang, investor moderat dapat mempertimbangkan reksa dana pendapatan tetap, sedangkan investor agresif dengan horizon panjang dapat mulai membangun posisi secara bertahap pada reksa dana saham atau reksa dana indeks.
Investor SBN
Hari ini, 6 Juli 2026, pemerintah menawarkan SBN ORI030:
- Tenor 3 tahun, kupon 6,90%
- Tenor 6 tahun, kupon 7,00%.
Investor, terutama yang biasa menempatkan dananya di deposito, atau yang SBNnya jatuh tempo, dapat mempertimbangkan untuk mengalokasikannya ke ORI030 yang memberikan bunga atau kupon lebih tinggi dari bunga deposito, pajak kupon yang lebih rendah (10%) dibanding pajak bunga deposito (20%), dan dibayarkan secara bulanan.
Investor Emas
- Bagi Investor Eksisting — Pertahankan
Kenaikan emas minggu lalu memperkuat perannya sebagai instrumen diversifikasi portofolio. Emas tetap relevan sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian global, arah suku bunga AS, dan volatilitas pasar keuangan. - Bagi Investor Baru — Akumulasi Bertahap
Investor yang belum memiliki emas dapat mempertimbangkan akumulasi bertahap, terutama saat terjadi koreksi harga. Prospek jangka menengah-panjang masih didukung oleh kebutuhan diversifikasi aset, pembelian bank sentral global, dan ketidakpastian geopolitik.
Referensi: IDX, PHEI, Investing.com, Bank Indonesia, DJ-PPR Kementerian Keuangan, Reuters, Bloomberg, CNBC Indonesia, Bloomberg Technoz, Bisnis Indonesia, Kontan, World Gold Council.
Disiapkan oleh team Product Management tanamduit
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
DISCLAIMER:
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor wajib memahami profil risiko pribadi dan mempelajari karakteristik produk investasi, termasuk potensi risiko yang mungkin dihadapi. Informasi ini bersifat umum dan tidak dapat dijadikan sebagai jaminan kinerja di masa depan; kinerja historis tidak mencerminkan hasil di masa depan.
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.

