Home » Kenalan dengan Istilah Resesi Ekonomi

Kenalan dengan Istilah Resesi Ekonomi

oleh | Nov 12, 2020

Pernah dengar istilah resesi ekonomi? Simak penjelasannya di artikel berikut ya!

Apa sih resesi ekonomi itu?

Beberapa hari lalu, headline berita di tanah air ngumumin bahwa akhirnya Indonesia resmi resesi. Pemberitaan mengenai kondisi perekonomian dunia tahun ini memang nggak jauh-jauh dari isu resesi ekonomi hampir di seluruh negara di dunia, sebagai dampak dari pandemi Covid-19 yang menyebar ke segala penjuru dunia.

 

Resesi ekonomi via Finfit

National Bureau of Economic Research mendefinisikan resesi ekonomi sebagai penurunan signifikan aktivitas ekonomi yang berlangsung selama beberapa bulan berturut-turut. Penurunan aktivitas ekonomi ini berkaitan nih, biasanya dengan melihat indikator ekonomi, yaitu:

  1. Pendapatan Domestik Bruto (PDB), yaitu satuan besaran ekonomi suatu negara;
  2. Pendapatan riil, yaitu tingkat gaji atau penghasilan masyarakat;
  3. Lapangan kerja;
  4. Tingkat produksi industri atau manufaktur; dan
  5. Penjualan retail, yaitu seberapa besar konsumsi di masyarakat individu.

Suatu negara bisa dikatakan mengalami resesi ekonomi, kalau pertumbuhan PDBnya negatif selama dua kuartal berturut-turut. Nah, dalam dua kuartal terakhir, PDB Indonesia negatif terus, nih #temanduit. Pada kuartal pertama -5,32% dan kuartal kedua -3,49%. Makanya, sudah bisa disebut kalau Indonesia mengalami resesi ekonomi.

 

Resesi ekonomi itu penyebabnya apa sih?

Ketidakstabilan ekonomi via DMagazine

Resesi ekonomi bisa disebabkan oleh banyak faktor. tanamduit sudah rangkumkan poin-poin penyebab resesi di bawah ini.

1. Ekonomi yang gonjang-ganjing

Bukan hanya rumah tangga, perekonomian negara juga bisa gonjang-ganjing lho, #temanduit. Gonjang-ganjing perekonomian bisa disebabkan oleh ketidakstabilan politik dan sosial, bencana alam, terorisme, perang, hingga situasi pandemi seperti sekarang.

2. Konsumsi masyarakat yang rendah

Masyarakat yang nggak belanja itu nggak baik juga lho untuk ekonomi. Rendahnya konsumsi masyarakat bisa terjadi karena adanya inflasi (kenaikan harga) dan bisa juga karena ragu untuk berbelanja karena ingin jaga-jaga, contohnya kayak pandemi sekarang ini. Bayangin aja, pertumbuhan ekonomi Indonesia itu biasanya ditopang oleh angka pembelian konsumen sekitar 70%. Kalau sampai konsumsi masyarakat jauh lebih rendah dari angka tersebut, PDB bisa minus terus dan bisa-bisa beneran resesi ekonomi, nih.

3. Asset Bubble

Untuk menjelaskan asset bubble mungkin kita bisa belajar dari krisis keuangan global yang dipicu Amerika Serikat pada tahun 2008. Angka permintaan aset properti sangat tinggi pada awal 2000-an. Di lain pihak, bunga bank juga relatif rendah. Hal ini menyebabkan investasi di bidang properti semakin diminati. Orang-orang semakin banyak yang mengambil KPR. KPR saat itu dinilai aman dari gagal bayar. Kalau pun gagal bayar, nilai properti yang jadi jaminannya akan selalu naik sehingga jumlah debitur dan nilai KPR meningkat drastis. Setelah kredit KPRnya nilainya menjadi miliaran Dollar, selanjutnya bank-bank pemberi KPR menjual portofolio KPR tersebut ke pihak lain dalam bentuk instrumen investasi surat berharga yang disebut Mortgage-backed Securities (MBS). Dana hasil penjualan MBS tersebut oleh bank digunakan untuk memberikan KPR lagi kepada debitur-debitur KPR kategori sub-prime, setelah itu KPR tersebut dikemas lagi dalam bentuk MBS, dst. Dengan demikian, jumlah KPR perbankan oleh sub-prime jadi besar banget.

 

Asset bubble via World Financial Review

Bener aja, beberapa tahun berselang para sub-prime ini nggak mampu bayar cicilan rumah. Rumah mereka disita oleh pihak bank. Tapi naasnya, harga jual rumahnya turun drastis, bahkan nggak sedikit yang jadi nggak bernilai. ini nggak cuma satu dua orang aja yang gagal bayar, tapi ribuan, bahkan jutaan. Otomatis, MBS dan instrumen lain yang investasi dasarnya KPR juga jadi nggak bernilai. Triliunan Dollar lenyap. Makanya, bank tertua di Amerika saat itu, Lehman Brothers sampai bangkrut dan perekonomian Amerika, bahkan dunia juga ikutan krisis.

4. Suku bunga tinggi

Suku bunga tinggi via Pinterest

Suku bunga bank sentral yang terlalu tinggi, bisa menurunkan konsumsi. Orang-orang yang biasanya beli rumah atau kendaraan pakai kredit menurun. Perusahaan-perusahaan yang biasanya ekspansi memakai dana kredit, karena ongkosnya mahal juga jadi menurun. Ujung-ujungnya adalah konsumsi masyarakat yang rendah. Seperti ulasan di atas, kalau konsumsi yang rendah itu sangat tidak baik untuk perekonomian.

 

5. Inflasi dan deflasi

Inflasi adalah kenaikan harga barang dalam waktu tertentu akibat naiknya permintaan masyarakat. Nah, harga barang yang mengalami kenaikan ini biasanya juga bikin harga barang lain jadi ikutan naik. Contoh kasusnya di Zimbabwe, pernah denger kan, untuk beli roti di sana butuh setumpuk dollar Zimbabwe?

Sementara itu, deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Permintaan masyarakat turun nih, terhadap suatu barang atau beberapa barang. Biasanya, ini disebabkan oleh konsumsi masyarakat yang rendah juga. Konsumsi yang rendah menimbulkan perlambatan ekonomi dan kalau berkelanjutan bisa menyebabkan resesi.

 

Jadi, disebut resesi ekonomi itu kalau gimana?

Losing job via Stampli

Suatu negara bisa dibilang mengalami resesi kalau memenuhi ciri-ciri berikut:

  1. PDB dan pendapatan riil masyarakatnya terus mengalami penurunan;
  2. Penurunan penjualan dan produksi manufaktur, banyak kapasitas produksi pabrik yang tidak terpakai;
  3. Tingkat pengangguran di negara tersebut meningkat dengan lapangan kerja yang menurun;
  4. Konsumsi masyarakat menurun; dan
  5. Pertumbuhan ekonomi per kuartalnya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Dampak resesi ekonomi itu apa aja sih?

Economic Crisis via Vectormine

Resesi ekonomi memiliki impact yang besar di masyarakat. Dalam situasi resesi, biasanya perusahaan akan melakukan efisiensi, salah satunya dari beban gaji karyawan sehingga gaji karyawan bisa menurun, bahkan angka pengangguran akan meningkat akibat pemutusan hubungan kerja (PHK). Tingginya angka pengangguran dapat menyebabkan turunnya daya beli di masyarakat. Mungkin  tidak sedikit orang yang kehilangan rumah karena tidak mampu membayar cicilan. Fresh graduate juga sulit mencari pekerjaan karena perusahan berusaha meminimalisir jumlah karyawan.

 

 

Perlu kamu tanamkan dalam mindset kamu, resesi ekonomi memang sudah terjadi, tetapi bukan berarti bahwa kondisi ini selamanya akan terjadi. Pihak berwenang, yakni pemerintah terus mengusahakan untuk membangkitkan kembali kegiatan ekonomi dengan memberikan bantuan keuangan kepada perbankan, perusahaan-perusahaan, dan masyarakat kurang mampu melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT). Meskipun pertumbuhan PDBnya masih negatif, ekonomi Indonesia sudah lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya. Naiknya IHSG di tengah resesi yang dialami Indonesia juga pertanda baik dan menjadi alasan kuat bagi #temanduit untuk mulai berinvestasi atau tetap berinvestasi di reksa dana, SBN, atau pun emas.

Yuk, berinvestasi di tanamduit! Tersedia banyak pilihan produk investasi sesuai dengan kebutuhanmu.

 

Penulis: Syafira Maulida

banner-download-mobile