tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui penjelasan berikut.
Ringkasan Market Update:
- IHSG 30 Juni Menguat Berkat Optimisme Negosiasi Tarif dan Kinerja Saham Unggulan
- IHSG Sepanjang Semester I 2025 Mengalami Volatilitas Tinggi dan Kinerja Negatif
- Perdagangan SUN Semester I 2025 Mengalami Lonjakan Transaksi dan Minat Investor
- Harga Emas Naik karena Dolar AS Melemah dan Ketidakpastian Global
- Pergerakan Harga Emas XAU Semester I 2025 Tren Kenaikan Didorong Ketidakpastian Global
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 30 Juni 2025.
IHSG Menguat Berkat Optimisme Negosiasi Tarif dan Kinerja Saham Unggulan
Senin (30/6) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,44% di level 6.927,67, didorong oleh optimisme investor terhadap negosiasi tarif perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat.
Penawaran kedua dari Indonesia, yang telah diterima AS, meningkatkan kepercayaan pasar bahwa Indonesia bisa terhindar dari kenaikan tarif sebelum batas waktu 9 Juli 2025.
Selain itu, kinerja positif bursa global, terutama Wall Street, turut mendukung sentimen positif di pasar saham Indonesia.
Sektor barang baku, konsumen non-primer, dan transportasi menjadi pendorong utama kenaikan IHSG. Saham seperti MBMA (naik 15%), KRAS (13,8%), dan CSMI (9,28%) mencatatkan kenaikan signifikan.
Saham BUMN Telkom Indonesia (TLKM) menyumbang 6,84 poin indeks, diikuti oleh MDKA, TPIA, dan BYAN. Meskipun sektor energi, finansial, dan properti terkoreksi, 357 saham menguat dengan nilai transaksi mencapai Rp13,64 triliun, mencerminkan aktivitas pasar yang solid.
Penguatan IHSG juga didukung oleh antisipasi investor terhadap data ekonomi penting, seperti inflasi Juni dan neraca perdagangan Mei 2025, yang akan dirilis pada 1 Juli 2025.
Surplus perdagangan US$4,9 miliar pada Mei dan ekspektasi inflasi bulanan yang terkendali menambah keyakinan pasar.
Meski ada tantangan dari kontraksi PMI manufaktur dan tensi geopolitik global, prospek negosiasi tarif dan kinerja saham unggulan menjadi pendukung utama kenaikan IHSG pada hari tersebut. (Bloomberg Technoz, CNBC Indonesia)
IHSG Sepanjang Semester I 2025 Mengalami Volatilitas Tinggi dan Kinerja Negatif
Sepanjang Semester I 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami volatilitas tinggi dengan tren penurunan secara keseluruhan.
IHSG mencapai puncak tertinggi pada 19 September 2024 di level 7.910,5560. Namun, memasuki 2025, indeks ini mengalami tekanan signifikan, termasuk penurunan 7% pada 18 Maret 2025 yang memicu trading halt.
Pada 30 Juni 2025, IHSG ditutup di level 6.928 poin, naik tipis 0,44% dari sesi sebelumnya, tetapi turun 2,15% sejak awal tahun 2025 dan turun 1,92% secara tahunan dibandingkan Juni 2024.
Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif investor akibat ketidakpastian ekonomi global dan domestik, dengan IHSG gagal mempertahankan level psikologis 7.000 sejak pertengahan Juni 2025.
Faktor Penyebab Pergerakan IHSG
Pergerakan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Secara global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak, memicu inflasi dan ketidakpastian pasar.
Kebijakan suku bunga tinggi oleh Bank Indonesia dan Federal Reserve untuk mengendalikan inflasi membatasi aliran modal ke pasar saham.
Di dalam negeri, pelemahan rupiah terhadap dolar AS, skandal korupsi di BUMN, dan ketidakpastian politik akibat pergantian Menteri Keuangan serta kebijakan fiskal yang dianggap berisiko memicu capital outflow.
Downgrade peringkat saham Indonesia oleh Goldman Sachs dari overweight ke market weight pada Maret 2025 juga memperparah aksi jual investor asing, menambah tekanan pada IHSG.
Nilai Transaksi Rata-Rata Harian dan Saham Big Caps Penggerak
Rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama Semester I 2025 menurun dibandingkan periode sebelumnya, mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar.
Berdasarkan data, nilai transaksi harian di Semester I tercatat sebesar Rp13,29 triliun. Saham-saham big caps di sektor perbankan menjadi penggerak utama IHSG, meskipun banyak yang melemah.
Saham seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (BBNI), dan PT Bank Mandiri (BMRI) memiliki pengaruh besar karena kapitalisasi pasarnya yang dominan.
Namun, saham-saham ini juga menjadi pemberat utama saat mengalami koreksi, seperti BBRI yang turun 5,25% pada pekan 16-20 Juni 2025.
Berikut adalah tabel perbandingan harga 10 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI pada 31 Desember 2024 dan 30 Juni 2025, beserta persentase perubahan harga:
Investor asing mencatatkan net sell signifikan sepanjang Semester I 2025, dengan total jual bersih mencapai Rp53,6 triliun hingga 30 Juni 2025.
Aksi net sell ini terutama menargetkan saham big caps seperti BBRI dan BBCA. Penyebab utama adalah menurunnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia akibat risiko fiskal, skandal korupsi BUMN, dan ketidakpastian politik.
Kenaikan suku bunga global juga mendorong investor asing mengalihkan dana ke pasar yang lebih aman, seperti AS, memperlemah rupiah dan menekan IHSG lebih lanjut. (dari berbagai sumber)
Perdagangan SUN Semester I 2025 Mengalami Lonjakan Transaksi dan Minat Investor
Di Semester I 2025, perdagangan Surat Utang Negara (SUN) di pasar sekunder mencatat aktivitas yang cukup tinggi, dengan taksiran nilai transaksi mencapai sekitar Rp1.200–1.500 triliun, berdasarkan tren historis dan laporan pasar modal.
Kenaikan ini didorong oleh tingginya permintaan investor terhadap instrumen yang dianggap aman di tengah ketidakpastian ekonomi global, seperti ancaman tarif perdagangan AS dan tensi geopolitik.
Harga SUN cenderung stabil, tetapi yield acuan untuk tenor 10 tahun naik tipis ke kisaran 6,8–7,2% dari sekitar 6,5% di akhir 2024, sedangkan yield tenor 5 tahun bergerak di kisaran 6,5–6,9%.
Kenaikan yield ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap suku bunga global yang fluktuatif dan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Pelaku transaksi terbesar di pasar SUN adalah lembaga keuangan domestik, seperti bank dan perusahaan asuransi, yang menyumbang sekitar 40% dari total kepemilikan SUN domestik. Setelah itu, Bank Indonesia mengikuti dengan porsi sekitar 24%.
Investor institusi ini memanfaatkan SUN untuk diversifikasi portofolio dan lindung nilai terhadap risiko pasar.
Sementara itu, investor asing menunjukkan minat yang meningkat, dengan kepemilikan sekitar 14% dari SUN domestik per Juli 2024, dan tren ini berlanjut di 2025.
Perilaku investor asing cenderung net buy, terutama pada SUN tenor menengah-panjang. karena yield yang kompetitif dan stabilitas rupiah yang relatif terjaga, meskipun ada tekanan dari pelemahan nilai tukar akibat defisit anggaran AS.
Perdagangan SUN di Semester I 2025 juga dipengaruhi oleh antisipasi investor terhadap data ekonomi domestik, seperti inflasi Juni dan neraca perdagangan Mei, yang menunjukkan surplus US$4,9 miliar.
Meskipun kontraksi PMI manufaktur menimbulkan kekhawatiran, kepercayaan terhadap pengelolaan utang pemerintah yang prudent, dengan rasio utang 37,82–38,71% PDB, mendukung minat investor.
Ketidakpastian global mendorong investor mencari aset aman seperti SUN, sementara negosiasi tarif dengan AS yang positif memperkuat sentimen pasar.
Secara keseluruhan, SUN tetap menjadi pilihan investasi yang menarik di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. (dari berbagai sumber)
Harga Emas Naik karena Dolar AS Melemah dan Ketidakpastian Global
Harga emas dunia (XAU) naik ke sekitar $3.310 per ons pada Selasa pagi, 1 Juli 2025, karena dolar AS melemah.
Dolar turun akibat kekhawatiran atas defisit anggaran pemerintah AS yang membengkak dan ketidakpastian soal rencana pemotongan pajak serta belanja besar yang sedang dibahas di Senat AS.
Selain itu, ancaman tarif baru dari Presiden Donald Trump terhadap Jepang, menjelang batas waktu 9 Juli untuk kenaikan tarif, membuat investor beralih ke emas sebagai aset aman.
Ekspektasi bahwa bank sentral AS (Federal Reserve) akan menurunkan suku bunga akhir tahun ini juga mendukung kenaikan harga emas.
Investor kini menantikan data ketenagakerjaan AS, seperti laporan lowongan kerja, dan non-farm payrolls, yang akan dirilis pekan ini, untuk petunjuk lebih lanjut tentang kebijakan suku bunga.
Ketidakpastian global dan dolar yang lemah membuat emas semakin menarik bagi investor. (Trading Economics)
Pergerakan Harga Emas XAU Semester I 2025 Tren Kenaikan Didorong Ketidakpastian Global
Harga emas (XAU) di Semester I 2025 menunjukkan tren kenaikan secara keseluruhan, meskipun dengan fluktuasi jangka pendek.
Berdasarkan data pasar, harga emas naik dari sekitar $3,200 per troy ons pada awal Januari 2025 menjadi $3,310 per ons pada akhir Juni 2025, dengan puncak tertinggi mencapai $3,407.57.
Namun, terjadi koreksi sementara, seperti penurunan 2,78% dalam sebulan sebelum 30 Juni 2025, akibat aksi ambil untung investor menjelang data ekonomi AS.
Kenaikan jangka panjang ini didukung oleh peran emas sebagai aset aman di tengah ketidakpastian global, dengan kenaikan tahunan mencapai 40,97% dibandingkan 2024.
Secara domestik, harga emas Antam naik dari Rp1,513,000 per gram pada Maret ke Rp1,758,000 per gram pada Juni, mencerminkan penguatan harga global dan pelemahan rupiah.
Penyebab utama kenaikan harga emas adalah pelemahan dolar AS. Dolar AS melemah akibat defisit anggaran AS yang membengkak dan ketidakpastian negosiasi tarif perdagangan AS dengan batas waktu 9 Juli 2025, termasuk ancaman tarif baru terhadap Jepang.
Ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve akhir tahun juga meningkatkan daya tarik emas, karena suku bunga rendah mengurangi biaya kepemilikan emas yang tidak menghasilkan bunga.
Inflasi global yang tinggi, termasuk ekspektasi inflasi Juni 2025 di Indonesia, mendorong investor mencari emas sebagai lindung nilai. Ketidakpastian geopolitik, seperti krisis nuklir dan konflik drone, turut memperkuat permintaan emas sebagai safe haven.
Permintaan fisik dari industri perhiasan dan elektronik, terutama di India dan China, juga mendukung kenaikan harga.
Pelaku utama transaksi jual beli emas meliputi investor institusi, seperti hedge fund dan bank sentral, yang aktif di pasar berjangka dan fisik untuk lindung nilai dan spekulasi.
Di Indonesia, PT Aneka Tambang (Antam) melalui unit Logam Mulia mendominasi pasar emas fisik. (dari berbagai sumber)
Factors to Watch:
Investor perlu memantau beberapa faktor utama di 2025 yang memengaruhi reksa dana, emas, dan Surat Berharga Negara (SBN).
- Secara global, ketidakpastian perdagangan akibat negosiasi tarif AS (batas waktu 9 Juli 2025) dan defisit anggaran AS yang meningkat melemahkan dolar, mendukung harga emas, tetapi menekan yield SBN.
- Kebijakan suku bunga Federal Reserve, dengan ekspektasi penurunan akhir tahun, membuat emas dan SBN menarik, sementara reksa dana saham bisa fluktuatif.
- Di dalam negeri, inflasi Juni 2025 yang diperkirakan naik (setelah deflasi 0,37% di Mei) dan surplus neraca dagang US$4,9 miliar memperkuat stabilitas rupiah, mendukung SBN dan reksa dana pendapatan tetap.
- Namun, kontraksi PMI manufaktur (47,4 di Mei) menunjukkan tantangan sektor riil, yang dapat memengaruhi reksa dana saham. Geopolitik, seperti krisis nuklir, juga mendorong minat pada emas sebagai aset aman.
Rekomendasi Investasi:
1. Untuk Investor Pemula (Konservatif)
Investor konservatif, yang mengutamakan pelestarian modal:
- Fokus pada Reksa Dana Pendapatan Tetap (Alokasikan sekitar 80%) yang menawarkan stabilitas melalui obligasi pemerintah dan korporasi berkualitas tinggi dan memberikan return yang lebih tinggi dari Reksa Dana Pasar Uang.
- Alokasikan ke Reksa Dana Pasar Uang 10-20%.
- SBN, khususnya seri tenor pendek (5 tahun dengan yield atau imbal hasil 6,5–6,9%), cocok untuk pendapatan tetap dengan risiko rendah, didukung oleh pengelolaan utang pemerintah yang prudent (rasio utang 37,82–38,71% PDB).
- Emas (10–15% portofolio) memberikan lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian global. Hindari reksa dana saham karena volatilitasnya tinggi di tengah kontraksi manufaktur dan risiko geopolitik. Pantau data inflasi dan kebijakan Bank Indonesia untuk memastikan stabilitas yield SBN.
2. Untuk Investor Menengah (Moderat):
Investor moderat, yang mencari keseimbangan antara risiko dan imbal hasil dapat mempertimbangkan:
- Alokasikan 40-50% portofolio ke Reksa Dana Campuran, yang menggabungkan saham dan obligasi untuk stabilitas sekaligus potensi pertumbuhan.
- Sebanyak 20-30% dapat ditempatkan di SBN tenor menengah (10 tahun, yield 6,8–7,2%) dan/atau Reksa Dana Pendapatan Tetap untuk memperoleh pendapatan yang stabil dari kupon obligasi pemerintah dan korporasi, dengan risiko terkelola.
- Alokasikan 20-30% di Reksa Dana Pasar Uang untuk keperluan dana darurat atau keperluan likuiditas.
- Sisanya, 10-20% dialokasikan ke emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian global.
3. Untuk Investor Agresif
Investor agresif, yang siap menghadapi risiko tinggi demi imbal hasil maksimal:
- Dapat mengalokasikan 60–70% ke Reksa Dana Saham dan Indeks Saham, untuk menangkap momentum potensi rebound IHSG dengan pertimbangan akan turunnya suku bunga rupiah, nilai tukar rupiah yang stabil, dan pertumbuhan ekonomi yang masih tergolong baik.
- Sebanyak 10-20% dapat ditempatkan di Reksa Dana Pendapatan Tetap yang berisi portfolio SUN dan obligasi korporasi tenor panjang 5-15 tahun untuk yield lebih tinggi, meski dengan risiko suku bunga yang lebih besar.
- 10-20% di Reksa Dana Pasar Uang untuk keperluan Dana Darurat dan likuiditas.
- Sisanya, 10–15% ke emas sebagai perlindungan dari volatilitas pasar dan geopolitik. Waspadai risiko koreksi IHSG jika negosiasi tarif gagal atau PMI manufaktur terus terkontraksi.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.
PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.



