fb-logo
Beranda » belajar » Tanamduit Outlook » tanamduit Breakfast News: 15 Juli 2024

tanamduit Breakfast News: 15 Juli 2024

oleh | Jul 15, 2024

tanamduit menawarkan investasi AMAN dengan return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.

Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per 15 Juli 2024:

Market update 15 juli 2024

IHSG Melanjutkan Kenaikan 5 Hari Berturut-Turut Hari Jumat (12/7)

IHSG kembali ditutup naik pada perdagangan Jumat (12/7) setelah data inflasi terbaru Amerika Serikat (AS) menunjukkan tanda-tanda mendingin.

Hal ini membuat pelaku pasar semakin yakin akan berakhirnya era suku bunga tinggi yang akan membuat mata uang US Dollar melemah dan membangkitkan pasar saham emerging market, termasuk Indonesia.

Penurunan suku bunga USD akan diikuti dengan penurunan suku bunga Rupiah, BI Rate, dan akan membuat bunga pinjaman menjadi lebih murah serta meningkatkan daya beli masyarakat.

IHSG ditutup menguat 0,37% ke posisi 7.327,58 dengan nilai transaksi sekitar Rp12 trilyun dan market caps menjadi sekitar Rp12.478 triliun.

Jika data inflasi, tenaga kerja, data ekonomi AS lainnya terus mendingin, dan era suku bunga benar-benar berakhir, maka sektor-sektor yang sebelumnya terbebani dengan suku bunga tinggi berpotensi bangkit akan membantu menggairahkan pasar saham dalam negeri.

Dengan berakhirnya era suku bunga tinggi, maka sektor yang rentan terhadap suku bunga tinggi seperti properti, konstruksi, farmasi, dan lain-lainnya akan cenderung diuntungkan dan berpotensi kembali bangkit. (CNBC Indonesia)

Jumat (12/7), Harga Surat Utang Menguat Lagi

Harga SUN mengalami penguatan pada sesi perdagangan terakhir hari Jumat (12/7) . Harga SUN seri acuan menguat pada rentang 20-45 basis poin dari posisi penutupan kemarin.

Sementara itu, yield SUN bertenor 10 tahun (FR0100) ditutup di level 6,92%, atau 7 basis poin lebih rendah dibandingkan penutupan kemarin.

Nilai transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp17,93 triliun, lebih tinggi dari hari sebelumnya yang Rp13,00 triliun. (BNI Sekuritas)

Rupiah Menguat Lagi 

Nilai tukar rupiah menguat lagi terhadap US Dollar pada hari Jumat (12/7). Berdasarkan data Bloomberg pukul 15.00 WIB, mata uang rupiah ditutup menguat 0,36% atau 58 poin ke level Rp16.136 per dolar AS.

Adapun, mayoritas mata uang Asia terpantau melemah terhadap dolar AS, Yen Jepang -0,20%, Dolar Singapura -0,04%, Dolar Taiwan -0,10%,  Won Korea -0,28%,  Peso  Filipina  -0,15%, Yuan China -0,01%, Baht Thailand -0,21%.

Namun, ringgit Malaysia dan rupee India masing-masing menguat 0,41% dan 0,04%. Sementara itu, indeks mata uang Negeri Paman Sam terpantau melemah tipis 0,02% di posisi 104,42. 

Harga Emas Terkoreksi Tipis Hari Jumat Lalu

Harga emas dunia bertahan mendekati angka USD2.400 per troy onz pada hari Jumat (12/7) , sedikit memangkas kenaikan tajam dari hari sebelumnya.

Namun ,tetap relatif dekat dengan rekor tertinggi dari akhir Mei karena pasar terus memperkirakan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

Yield US Treasury 10 Tahun Turun Hari Jumat Minggu Lalu

Imbal hasil (yield) obligasi US Treasury AS bertenor 10-tahun turun di bawah angka 4,2% pada hari Jumat lalu, berada pada level terendah dalam empat bulan meresponse serangkaian data ekonomi sehingga memperkuat ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

Inflasi konsumen Consumer Price Index/CPI) bulan Juni melambat lebih dari yang diharapkan, di lain pihak data gaji non-pertanian (non-farm payrolls) direvisi jauh lebih rendah pada kuartal kedua, memungkinkan investor untuk tidak lagi melihat Producer Purchasing Index (PPI) yang lebih tinggi dari perkiraan.

Akibatnya, lebih dari 95% pasar telah memperkirakan penurunan suku bunga pada bulan September, dibandingkan dengan 70% pada awal minggu ini, sementara investor membagi dua atau tiga penurunan suku bunga sebesar 25bps pada tahun ini.

Dow Jones Naik dan Menyentuh Kembali 40.000

Dow Jones naik 247,15 poin atau 0,62% ke level 40.000 untuk kedua kalinya setelah terakhir kali mencapai level tersebut pada 17 Mei 2024 yang lalu dan Nasdaq juga naik 115,04 poin atau 0,63% ke 18.398,45.

Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga di bulan September di tengah tanda-tanda meredanya inflasi seiring dengan bergulirnya musim pendapatan dengan fokus pada perbankan.

Ketidakpastian politik AS meningkat setelah serangan Trump

Pasar bergulat dengan prospek politik AS yang tidak menentu setelah upaya pembunuhan yang gagal terhadap Trump pada kampanye di Butler, Pennsylvania pada hari Sabtu (13/7).

Para analis berspekulasi bahwa serangan itu meningkatkan peluang Trump untuk menang atas calon terdepan dari Partai Demokrat Joe Biden pada akhir tahun ini.

Kepresidenan Trump diperkirakan berpotensi menambah inflasi dan utang, sebuah skenario yang biasanya menghasilkan dolar yang lebih kuat.

Ulasan

  • Kemungkinan penurunan suku bunga USD oleh US Fed di bulan September 2024 meningkat karena data-data ekonomi AS menunjukkan pelemahan, antara lain inflasi bulan Juni turun ke 3% dari bulan sebelumnya 3,3% dan melemahnya lapangan pekerjaan. Oleh sebab itu, sehingga membuat US Dollar Index turun ke level 104.
  • Namun, kasus penembakan calon Presiden AS, Donald Trump, hari Sabtu (13/7) berpotensi membuat situasi politik AS meningkat. Hal ini membuat investor lebih berhati-hati dalam membuat keputusan investasi dan kemungkinan membuat mata uang US Dollar kembali menguat.
  • Jika US Dollar tetap melemah, maka investor global akan mengurangi investasi mereka di AS dan mengalokasikannya ke negara-negara lain termasuk ke Indonesia.
  • IHSG sangat berpotensi untuk naik minimal 5% lebih tinggi dibandingkan dengan posisi IHSG akhir tahun 2023 atau ke level 7.600 di akhir tahun 2024.
  • Harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih akan melanjutkan pembelian emas, terutama Bank Sentral China, dengan tujuan untuk diversifikasi risiko di tengah ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik yang masih belum mereda.

Rekomendasi

  • Untuk jangka pendek, investor disarankan untuk tetap berinvestasi di reksa dana pasar uang karena masih memberikan return lebih tinggi dari bunga deposito.
  • Untuk jangka menengah dan panjang,  pertimbangkan untuk mengakumulasi reksa dana saham dan indeks saham. Hal ini karena menguatnya kemungkinan turunnya suku bunga US di bulan September mendatang dan mendorong investor global untuk mengalokasikan investasinya ke emerging countries, termasuk ke Indonesia, dan ini akan mendorong naiknya harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia.
  • Harga emas masih volatile. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih melakukan pembelian emas untuk diversifikasi risiko karena ketidakpastian global, baik dalam hal perekonomian maupun geopolitik yang masih memanas.
  • Emas dapat dipertimbangkan untuk menjadi portfolio investasi untuk jangka menengah dan panjang.
  • Tetaplah berinvestasi secara rutin untuk mencapai tujuan keuangan. Pilih produk reksa dana yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
  • Emas dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang karena nilai emas selalu mengalahkan inflasi.

Yuk, investasi sekarang di tanamduit!

DISCLAIMER:

Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.

PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.

tanamduit menawarkan investasi AMAN dengan return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.

Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per 11 Juli 2024:

Market update 12 juli 2024

IHSG Naik ke Level 7.300 Kamis (11/7)

Kamis (11/7), IHSG melanjutkan penguatannya, naik 13,36 poin atau 0,18% ke 7.300,41 dengan nilai transaksi sekitar Rp9,6 triliun. Kenaikan IHSG masih berkaitan optimisme pasar akan penurunan suku bunga US oleh US Federal Reserve.

Kenaikan ini terjadi setelah  pidato Jerome Powell, Chairman dari US Fed, di hadapan Senat AS hari Rabu (10/7) menyampaikan bahwa inflasi sudah melandai walaupun belum sampai pada target 2% tetapi ada kekhawatiran jika suku bunga ditahan terlalu lama dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi.

Pernyataan ini menguatkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan segera turun di bulan September yang akan datang. Ini juga menjadi sentimen positif pagi pasar saham dan obligasi Indonesia karena penurunan suku bunga US akan diikuti oleh Bank Indonesia dengan menurunkan bunga acuan BI Rate yang saat ini bertengger di 6,25%.

Kenaikan IHSG hari Kamis kemarin di dominasi oleh saham AMMN yang naik 2,64%, BBNI +1,04% dan BRIS 1,62%. (CNBC Indonesia)

Harga Surat Utang Negara Naik Moderat

Kamis (11/7), Yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0101) turun sebesar 3 basis poin menjadi 6,86%, dan yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0100) turun sebesar 5 basis poin ke level 6,98%. Turunnya yield obligasi mencerminkan kenaikan harga obligasi.

Nilai transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp13,0 triliun kemarin, lebih tinggi hari sebelumnya Rp10,7 triliun. Sementara itu, nilai transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp1,0 triliun. (BNI Sekuritas)

Rupiah Meneruskan Penguatan Hari Kamis Kemarin

Mengutip data Bloomberg, Rupiah ditutup menguat 46 poin atau 0,28% ke level Rp16.194,5 per dolar AS pada Kamis (11/7) Adapun indeks dolar AS melemah sebesar 0,12% ke posisi 104,92 di hari sebelumnya.

Penguatan Rupiah beriringan dengan penguatan mata uang Asia lainnya, Yen Jepang menguat 0,06%, Won Korea +0,30%, Yuan China +0,07%, Ringgit Malaysia dan Baht Thailand +0,20% dan +0,26%. (Bisnis)

Harga Emas Melonjak Naik

Harga emas dunia melonjak naik ke USD2,410 per ounce pada hari Kamis (11/7). Kenaikan ini terjadi karena sebagai reaksi atas  data baru menunjukkan bahwa inflasi umum di AS melambat lebih dari yang diperkirakan ke level terendah dalam satu tahun sebesar 3% di bulan Juni.

Data ini meningkatkan harapan pasar bahwa suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang, sehingga investor akan mengalokasikan sebagian investasinya ke emas. (Trading Economics)

Yield US Treasury 10 Tahun Turun Moderat

Imbal hasil (yield) obligasi US Treasury bertenor 10-tahun merosot 10bps ke angka 4,20% pada hari Kamis (11/7). Penurunan in iterjadi setelah rilis data inflasi tahunan AS di bulan Juni 3,0% yang lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar 3,1% dan juga dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Data tersebut mendukung spekulasi pasar bahwa pelemahan inflasi akan berlanjut di bulan berikutnya didukung oleh data-data lainnya, seperti menurunnya lapangan pekerjaan dan personal consumption expenditure, dan pasar bersiap untuk penurunan suku bunga Fed pada bulan September. (Trading Economics)

S&P500, Nasdaq Mundur Dari Rekor Karena Membebani Megacaps

Sebagian besar saham AS berakhir lebih rendah pada hari Kamis (11/7). Hal ini didorong oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham megacap karena investor menilai dampak potensi suku bunga yang lebih rendah pada sektor korporasi. S&P500 turun 0,8%, Nasdaq turun 1,9%, dan Dow Jones bertambah 32 poin.

Data terakhir yang menunjukkan inflasi melemah ke 3% di bawah ekspektasi pasar yang 3,1% meningkatkan ekspektasi suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang.

Hal ini membuat  pasar semakin optimis terhadap perbaikan kondisi kredit sehingga pasar lebih memilih sektor tradisional atau obligasi dan menjual posisi saham teknologi AI di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa pendapatan atau revenue mereka (emiten teknologi) akan menurun.

Nvidia turun 5,6%, Microsoft dan Apple masing-masing turun lebih dari 2%, Tesla turun 8.4% dan Meta turun 4.1%. (Trading Economics)

Ulasan

  • Data inflasi AS bulan Juni turun ke 3% dibanding bulan sebelumnya 3,3% dan di bawah ekspektasi pasar 3,1%. Hal ini semakin memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang.
  • Investor global akan mengurangi investasi mereka di AS dan mengalokasikannya ke negara-negara lain termasuk ke Indonesia.
  • IHSG sangat berpotensi untuk naik minimal 5% lebih tinggi dibandingkan dengan posisi IHSG akhir tahun 2023 atau ke level 7.600 di akhir tahun 2024.
  • Harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih akan melanjutkan pembelian emas, terutama Bank Sentral China, dengan tujuan untuk diversifikasi risiko di tengah ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik yang masih belum mereda.

Rekomendasi

  • Untuk jangka pendek, investor disarankan untuk tetap berinvestasi di reksa dana pasar uang karena masih memberikan return lebih tinggi dari bunga deposito.
  • Untuk jangka menengah dan panjang,  pertimbangkan untuk mengakumulasi reksa dana saham dan indeks saham. Hal ini karena menguatnya kemungkinan turunnya suku bunga US di bulan September mendatang dan mendorong investor global untuk mengalokasikan investasinya ke emerging countries, termasuk ke Indonesia, dan ini akan mendorong naiknya harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia.
  • Harga emas masih volatile. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih melakukan pembelian emas untuk diversifikasi risiko karena ketidakpastian global, baik dalam hal perekonomian maupun geopolitik yang masih memanas.
  • Emas dapat dipertimbangkan untuk menjadi portfolio investasi untuk jangka menengah dan panjang.
  • Tetaplah berinvestasi secara rutin untuk mencapai tujuan keuangan. Pilih produk reksa dana yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
  • Emas dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang karena nilai emas selalu mengalahkan inflasi.

Yuk, investasi sekarang di tanamduit!

DISCLAIMER:

Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.

PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.

tanamduit Team

tanamduit adalah aplikasi penyedia beragam produk investasi reksa dana, emas, Surat Berharga Negara (SBN) yang telah berizin dan diawasi oleh OJK.

banner-download-mobile