tanamduit menawarkan investasi AMAN dengan return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per 18 Juli 2024:
IHSG Naik Kembali ke Level 7.300 Kamis Kemarin
Kamis (19/7), IHSG naik 96,85 poin atau 1,34% dari 7.224,22ke 7.321,07 dengan nilai transaksi sekitar Rp9,9 triliun dan terjadi net inflow atau net buy dari investor asing sekitar Rp1,16 triliun.
Kenaikan IHSG melanjutkan sentimen positif dari pernyataan Ketua US Fed, Jerome Powell pada Senin (15/7) bahwa inflasi semakin melandai dan ke 3% dan tidak perlu menunggu sampai inflasi mencapai 2% seperti yang ditargetkan untuk menurunkan suku bunga USD karena suku bunga tinggi yang terlalu lama dapat menghambat pertumbuhan ekonomi AS.
Pernyataan ini adalah sinyal dovish (kecenderungan suku bunga akan turun) dan pelaku pasar semakin yakin bahwa suku bunga USD akan segera diturunkan oleh US Fed di bulan September mendatang.
Ini menjadi sinyal positif bagi Bursa Efek Indonesia karena dengan turunnya suku bunga USD akan diikuti oleh Bank Indonesia yang akan menurunkan pula BI Rate yang akan menurunkan suku bunga deposito dan bunga kredit yang selanjutnya menurunkan biaya produksi dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Keyakinan ini dipertegas dengan pernyataan Gubernur Bank Indonesia hari Rabu (17/7) bahwa Bank Indonesia akan menurunkan BI Rate setelah US Fed menurunkan US Fed Fund Rate.
Harga Surat Utang Negara Relatif Stabil Hari Kamis Kemarin
Harga SUN bergerak sideways dalam rentang yang terbatas pada sesi perdagangan Kamis (19/7). Yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0101) tidak berubah di level 6,79%, dan yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0100) tetap berada di level 6,90%.
Sementara itu, data Bloomberg menunjukkan level yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) tidak bergerak di level 6,93%.
Nilai transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp15,8 triliun kemarin, turun tipis dibandingkan dengan nilai transaksi hari sebelumnya yang Rp15,4 triliun.
Sementara itu, nilai transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp1,1 triliun. (BNI Sekuritas)
Pelaku Pasar Semakin Yakin US Fed Akan Mulai Menurunkan Suku Bunga USD Bulan September
Para pejabat Fed menunjukkan menyampaikan pernyataan yang meningkatkan kenaikan pasar bahwa laju kenaikan harga atau inflasi kini lebih selaras dengan tujuan para pembuat kebijakan untuk menurunkan suku bunga.
Rabu (17/7), Gubernur Fed Christopher Waller menyatakan bahwa penurunan suku bunga akan segera terjadi, senada dengan pernyataan Ketua Fed Jerome Powell hari Senin yang lalu bahwa inflasi Juni yang lebih rendah dari perkiraan dan menekankan kesiapan bank sentral untuk menurunkan suku bunga sebelum inflasi mencapai 2%.
Pasar kini mengindikasikan peluang 98% penurunan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan bulan September, menurut FedWatch Tool CME, dengan para pedagang lebih dominan yakin bahwa akan terjadi tiga kali penurunan suku bunga sebesar 25bps tahun ini, bukan dua kali. (Trading Economics)
Ulasan
- Kemungkinan diturunkannya suku bunga USD oleh US Fed di bulan September mendatang semakin besar. Hal ini karena data-data ekonomi AS menunjukkan pelemahan, antara lain inflasi bulan Juni turun ke 3% dari bulan sebelumnya 3,3% dan melemahnya lapangan pekerjaan, sehingga membuat US Dollar Index turun ke level 104.
- IHSG sangat berpotensi untuk naik minimal 5% lebih tinggi dibandingkan dengan posisi IHSG akhir tahun 2023 atau ke level 7.600 di akhir tahun 2024.
- Harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih akan melanjutkan pembelian emas, terutama Bank Sentral China. Aksi tersebut bertujuan untuk diversifikasi risiko di tengah ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik yang masih belum mereda.
Rekomendasi
- Untuk jangka pendek, investor disarankan untuk tetap berinvestasi di reksa dana pasar uang karena masih memberikan return lebih tinggi dari bunga deposito.
- Untuk jangka menengah dan panjang, pertimbangkan untuk mengakumulasi reksa dana saham dan indeks saham. Hal ini karena menguatnya kemungkinan turunnya suku bunga US di bulan September mendatang dan mendorong investor global untuk mengalokasikan investasinya ke emerging countries, termasuk ke Indonesia, dan ini akan mendorong naiknya harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia.
- Harga emas masih volatile. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih melakukan pembelian emas untuk diversifikasi risiko karena ketidakpastian global, baik dalam hal perekonomian maupun geopolitik yang masih memanas.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk menjadi portfolio investasi untuk jangka menengah dan panjang.
- Tetaplah berinvestasi secara rutin untuk mencapai tujuan keuangan. Pilih produk reksa dana yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang karena nilai emas selalu mengalahkan inflasi.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.
PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.
tanamduit menawarkan investasi AMAN dengan return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per 11 Juli 2024:
IHSG Naik ke Level 7.300 Kamis (11/7)
Kamis (11/7), IHSG melanjutkan penguatannya, naik 13,36 poin atau 0,18% ke 7.300,41 dengan nilai transaksi sekitar Rp9,6 triliun. Kenaikan IHSG masih berkaitan optimisme pasar akan penurunan suku bunga US oleh US Federal Reserve.
Kenaikan ini terjadi setelah pidato Jerome Powell, Chairman dari US Fed, di hadapan Senat AS hari Rabu (10/7) menyampaikan bahwa inflasi sudah melandai walaupun belum sampai pada target 2% tetapi ada kekhawatiran jika suku bunga ditahan terlalu lama dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi.
Pernyataan ini menguatkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan segera turun di bulan September yang akan datang. Ini juga menjadi sentimen positif pagi pasar saham dan obligasi Indonesia karena penurunan suku bunga US akan diikuti oleh Bank Indonesia dengan menurunkan bunga acuan BI Rate yang saat ini bertengger di 6,25%.
Kenaikan IHSG hari Kamis kemarin di dominasi oleh saham AMMN yang naik 2,64%, BBNI +1,04% dan BRIS 1,62%. (CNBC Indonesia)
Harga Surat Utang Negara Naik Moderat
Kamis (11/7), Yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0101) turun sebesar 3 basis poin menjadi 6,86%, dan yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0100) turun sebesar 5 basis poin ke level 6,98%. Turunnya yield obligasi mencerminkan kenaikan harga obligasi.
Nilai transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp13,0 triliun kemarin, lebih tinggi hari sebelumnya Rp10,7 triliun. Sementara itu, nilai transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp1,0 triliun. (BNI Sekuritas)
Rupiah Meneruskan Penguatan Hari Kamis Kemarin
Mengutip data Bloomberg, Rupiah ditutup menguat 46 poin atau 0,28% ke level Rp16.194,5 per dolar AS pada Kamis (11/7) Adapun indeks dolar AS melemah sebesar 0,12% ke posisi 104,92 di hari sebelumnya.
Penguatan Rupiah beriringan dengan penguatan mata uang Asia lainnya, Yen Jepang menguat 0,06%, Won Korea +0,30%, Yuan China +0,07%, Ringgit Malaysia dan Baht Thailand +0,20% dan +0,26%. (Bisnis)
Harga Emas Melonjak Naik
Harga emas dunia melonjak naik ke USD2,410 per ounce pada hari Kamis (11/7). Kenaikan ini terjadi karena sebagai reaksi atas data baru menunjukkan bahwa inflasi umum di AS melambat lebih dari yang diperkirakan ke level terendah dalam satu tahun sebesar 3% di bulan Juni.
Data ini meningkatkan harapan pasar bahwa suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang, sehingga investor akan mengalokasikan sebagian investasinya ke emas. (Trading Economics)
Yield US Treasury 10 Tahun Turun Moderat
Imbal hasil (yield) obligasi US Treasury bertenor 10-tahun merosot 10bps ke angka 4,20% pada hari Kamis (11/7). Penurunan in iterjadi setelah rilis data inflasi tahunan AS di bulan Juni 3,0% yang lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar 3,1% dan juga dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Data tersebut mendukung spekulasi pasar bahwa pelemahan inflasi akan berlanjut di bulan berikutnya didukung oleh data-data lainnya, seperti menurunnya lapangan pekerjaan dan personal consumption expenditure, dan pasar bersiap untuk penurunan suku bunga Fed pada bulan September. (Trading Economics)
S&P500, Nasdaq Mundur Dari Rekor Karena Membebani Megacaps
Sebagian besar saham AS berakhir lebih rendah pada hari Kamis (11/7). Hal ini didorong oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham megacap karena investor menilai dampak potensi suku bunga yang lebih rendah pada sektor korporasi. S&P500 turun 0,8%, Nasdaq turun 1,9%, dan Dow Jones bertambah 32 poin.
Data terakhir yang menunjukkan inflasi melemah ke 3% di bawah ekspektasi pasar yang 3,1% meningkatkan ekspektasi suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang.
Hal ini membuat pasar semakin optimis terhadap perbaikan kondisi kredit sehingga pasar lebih memilih sektor tradisional atau obligasi dan menjual posisi saham teknologi AI di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa pendapatan atau revenue mereka (emiten teknologi) akan menurun.
Nvidia turun 5,6%, Microsoft dan Apple masing-masing turun lebih dari 2%, Tesla turun 8.4% dan Meta turun 4.1%. (Trading Economics)
Ulasan
- Data inflasi AS bulan Juni turun ke 3% dibanding bulan sebelumnya 3,3% dan di bawah ekspektasi pasar 3,1%. Hal ini semakin memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang.
- Investor global akan mengurangi investasi mereka di AS dan mengalokasikannya ke negara-negara lain termasuk ke Indonesia.
- IHSG sangat berpotensi untuk naik minimal 5% lebih tinggi dibandingkan dengan posisi IHSG akhir tahun 2023 atau ke level 7.600 di akhir tahun 2024.
- Harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih akan melanjutkan pembelian emas, terutama Bank Sentral China, dengan tujuan untuk diversifikasi risiko di tengah ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik yang masih belum mereda.
Rekomendasi
- Untuk jangka pendek, investor disarankan untuk tetap berinvestasi di reksa dana pasar uang karena masih memberikan return lebih tinggi dari bunga deposito.
- Untuk jangka menengah dan panjang, pertimbangkan untuk mengakumulasi reksa dana saham dan indeks saham. Hal ini karena menguatnya kemungkinan turunnya suku bunga US di bulan September mendatang dan mendorong investor global untuk mengalokasikan investasinya ke emerging countries, termasuk ke Indonesia, dan ini akan mendorong naiknya harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia.
- Harga emas masih volatile. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih melakukan pembelian emas untuk diversifikasi risiko karena ketidakpastian global, baik dalam hal perekonomian maupun geopolitik yang masih memanas.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk menjadi portfolio investasi untuk jangka menengah dan panjang.
- Tetaplah berinvestasi secara rutin untuk mencapai tujuan keuangan. Pilih produk reksa dana yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang karena nilai emas selalu mengalahkan inflasi.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.
PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.



