tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui penjelasan berikut.
Ringkasan Market Update:
- IHSG Anjlok karena Ketegangan Geopolitik dan Saham Besar Melemah
- Surat Utang Negara Melemah di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Rupiah Loyo
- Rupiah Melemah Akibat Konflik Timur Tengah dan Penguatan Dolar AS
- Emas Turun karena Gencatan Senjata Israel-Iran
- Harga Minyak Turun karena Gencatan Senjata, IHSG Berpotensi Pulih
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 23 Juni 2025.
IHSG Anjlok karena Ketegangan Geopolitik dan Melemahnya Saham Besar
Senin (20/6/2025) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam sebesar 1,74% ke level 6.787,14. Semua sektor mencatatkan penurunan, dengan sektor utilitas, properti, dan energi menjadi yang terparah.
Transaksi pasar mencapai Rp12,79 triliun. Investor asing melakukan net sell sebesar Rp276,7 miliar, sehingga sejak awal tahun, total net sell oleh investor asing telah mencapai Rp53,4 triliun. Penurunan ini membuat IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di ASEAN.
Penurunan IHSG dipicu oleh kekhawatiran investor akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah serangan udara Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran. Konflik ini meningkatkan ketidakpastian global, membuat pelaku pasar menghindari aset berisiko seperti saham.
Selain itu, potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran dapat mengganggu pasokan minyak dunia, yang berisiko mendorong inflasi dan menghambat penurunan suku bunga global.
Selain faktor geopolitik, saham-saham besar seperti DSSA, BBRI, dan BREN juga menjadi pemberat utama IHSG.
DSSA turun 5,91%, BBRI melemah 1,85%, dan BREN terkoreksi 4,13%. Tekanan jual yang besar pada saham-saham ini memperparah penurunan indeks.
Investor kini cenderung beralih ke aset aman, menyebabkan aksi jual besar-besaran di pasar saham Indonesia. (CNBC Indonesia, Bloomberg Technoz, IDX)
Surat Utang Negara Melemah di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Rupiah Loyo
Harga Surat Utang Negara (SUN) melemah pada awal pekan ini. Pelemahan harga SUN ditunjukkan oleh kenaikan yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0104) sebesar 7 basis poin ke 6,48%, dan SUN Benchmark 10-tahun (FR0103) sebesar 5 basis poin ke 6,80%.
Volume transaksi SUN di pasar sekunder mencapai Rp24,5 triliun, dengan FR0104 dan FR0103 menjadi seri teraktif. Sementara itu, rupiah melemah 0,58% ke level Rp16.492 per dolar AS, menambah tekanan pada pasar obligasi domestik.
Pelemahan ini dipengaruhi oleh tingginya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang mendorong investor beralih ke aset aman seperti US Treasury, dengan yield UST 10-tahun turun ke 4,34%.
Peningkatan Credit Default Swap (CDS) Indonesia ke 82 basis poin juga menunjukkan penurunan selera risiko investor.
Di sisi lain, pernyataan Federal Reserve tentang potensi pemangkasan suku bunga yang mendekat belum cukup meredakan volatilitas, sehingga harga SUN berpotensi terus berfluktuasi dalam jangka pendek. (BNI Sekuritas)
Rupiah Melemah Akibat Konflik Timur Tengah dan Penguatan Dolar AS
Rupiah ditutup melemah 0,58% ke level Rp16.492 per dolar AS pada Senin (23/6/2025), seiring penguatan dolar AS yang naik 0,32% ke 99,02.
Pelemahan rupiah dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama setelah AS terlibat dalam perang Israel-Iran. Ketegangan ini memicu kekhawatiran atas potensi penutupan Selat Hormuz, yang dapat mengganggu pasokan minyak dan gas ke Asia dan Eropa, sehingga memperkuat dolar AS sebagai aset aman.
Konflik tersebut juga mengancam pasokan minyak global, yang berdampak besar pada Indonesia sebagai importir minyak.
Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor, menekan neraca perdagangan, dan mendorong harga bahan bakar minyak (BBM). Hal ini berpotensi memicu tekanan ekonomi lebih lanjut, memperburuk stabilitas fiskal Indonesia di tengah kondisi pasar yang tidak menentu. (Bisnis)
Emas Turun karena Gencatan Senjata Israel-Iran
Selasa (24/6/2025), harga emas turun ke sekitar $3.350 per ons, setelah Israel dan Iran sepakat untuk gencatan senjata, mengurangi daya tarik emas sebagai aset aman.
Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa Iran akan memulai gencatan senjata segera, diikuti Israel 12 jam kemudian, setelah serangan balasan kecil Iran ke pangkalan militer AS di Qatar yang tidak menimbulkan korban.
Investor kini fokus pada pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell di Kongres AS pada Selasa dan Rabu untuk mencari petunjuk tentang kebijakan suku bunga.
Gencatan senjata meredakan ketegangan geopolitik, membuat emas kurang diminati, sementara pasar menanti arah kebijakan moneter AS yang dapat memengaruhi harga emas ke depan. (Trading Economics)
Harga Minyak Turun karena Gencatan Senjata, IHSG Berpotensi Pulih
Harga minyak mentah WTI turun lebih dari 1% ke sekitar $66,2 per barel pada Selasa (24/6/2025), level terendah dalam hampir dua pekan, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Iran.
Konflik selama 12 hari ini mereda setelah Iran menghentikan serangan, diikuti Israel dalam beberapa jam, dengan perdamaian resmi diharapkan dalam 24 jam.
Pengumuman ini menyusul serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Qatar yang berhasil dicegat tanpa korban, menurunkan harga minyak hingga 7% pada Senin.
Penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan, terutama di Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20% minyak dunia.
Bagi Indonesia, sebagai importir minyak, penurunan harga ini dapat menekan biaya impor bahan bakar, membantu menstabilkan harga BBM, dan mengurangi tekanan pada neraca perdagangan.
Selain itu, melemahnya inflasi global akibat harga minyak yang lebih rendah dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
Gencatan senjata ini juga membawa angin segar bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang sebelumnya anjlok 1,74% ke 6.787,14 akibat ketegangan geopolitik.
Dengan berkurangnya ketidakpastian, investor cenderung kembali ke aset berisiko seperti saham, terutama di sektor energi dan konsumsi.
Meski demikian, IHSG masih rentan terhadap volatilitas karena pasar menanti kebijakan suku bunga Federal Reserve. Secara keseluruhan, gencatan senjata ini berpotensi mendorong pemulihan IHSG dan memperkuat stabilitas ekonomi Indonesia dalam jangka pendek. (Trading Economics)
Factors to Watch:
1. Harga Minyak Turun karena Gencatan Senjata, IHSG Berpotensi Pulih
- Gencatan senjata antara Israel dan Iran, yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada Senin (23/6/2025), menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Konflik yang mereda setelah 12 hari ini menurunkan ketegangan geopolitik, sehingga harga minyak WTI anjlok lebih dari 7% ke $68,51 per barel, mengurangi kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz. Bagi Indonesia, penurunan harga minyak ini dapat menekan biaya impor BBM, mendukung stabilitas harga domestik, dan mengurangi tekanan pada neraca perdagangan. Namun, investor tetap waspada karena gencatan senjata ini masih rapuh, dengan potensi eskalasi jika salah satu pihak melanggar kesepakatan, seperti yang ditunjukkan oleh serangan rudal Iran ke pangkalan AS di Qatar yang tidak menimbulkan korban.
- Kebijakan moneter global, terutama dari Federal Reserve, juga perlu diperhatikan. Pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell di Kongres AS pada Selasa dan Rabu (24-25/6/2025) akan memengaruhi ekspektasi suku bunga. Pasar memperkirakan suku bunga tetap di 4,25%-4,50%. Namun, sinyal dovish (penurunan suku bunga) dapat mendorong aliran modal ke pasar emerging seperti Indonesia, mendukung IHSG yang sebelumnya tertekan 1,74% ke 6.787,14. Sebaliknya, sikap hawkish dapat memperkuat dolar AS, menekan rupiah yang sudah melemah ke Rp16.492 per dolar AS, dan meningkatkan volatilitas SBN dengan yield 10-tahun di 6,80%. Data ekonomi AS, seperti indeks kepercayaan konsumen dan penjualan rumah, juga akan memengaruhi sentimen pasar.
- Sentimen investor dan dinamika pasar domestik menjadi faktor penting lainnya. Gencatan senjata meningkatkan minat terhadap aset berisiko, berpotensi memicu pemulihan IHSG, terutama di sektor energi dan konsumsi, setelah aksi jual asing sebesar Rp2,73 triliun pada Jumat (20/6/2025). Namun, data PMI Manufaktur Indonesia yang terkontraksi di 47,4 menunjukkan tantangan ekonomi domestik, yang dapat membatasi kenaikan IHSG. Selain itu, kebijakan perdagangan Trump, seperti tarif impor, tetap menjadi risiko bagi ekspor Indonesia ke Timur Tengah dan Eropa. Investor perlu memantau perkembangan diplomatik, stabilitas gencatan senjata, dan rilis data ekonomi China, seperti suku bunga pinjaman, untuk mengukur arah pasar dalam jangka pendek
Rekomendasi Investasi:
Diversifikasi untuk Stabilitas dan Peluang Pertumbuhan.
1. Untuk Investor Pemula (Konservatif)
Investor konservatif dapat mempertimbangkan untuk mengalokasikan dana sebesar 50%-60% ke Reksa Dana Pasar Uang, 20%-30% ke Reksa Dana Pendapatan Tetap, 10-20% ke SBN,dan sisanya ke emas.
2. Untuk Investor Menengah (Moderat):
Investor Moderat dapat mempertimbangkan untuk mengalokasikan 20%-30% dana ke Reksa Dana Pasar Uang, 40%-50% ke Reksa Dana Pendapatan Tetap, 20%-30% Reksa Dana Campuran, 10%-20% Reksa Dana Saham dan/atau Indeks Saham, 10%-20% SBN, dan sisanya ke emas.
3. Untuk Investor Agresif
Investor Agresif dapat mempertimbangkan investasi di Reksa Dana Saham dan/atau Reksa Dana Indeks Saham dengan eksposur sektor energi dan emas, untuk memanfaatkan potensi kenaikan saham MEDC dan ANTM.
Emas: Aset Safe-Haven untuk Lindung Nilai
Harga emas dunia melonjak ke $3.432 per troy ons, didorong statusnya sebagai safe-haven, dengan prediksi mencapai $3.500–3.700 akhir 2025. Di Indonesia, harga emas Antam diperkirakan dapat mencapai Rp2–2,1 juta per gram.
SBN: Stabilitas dengan Imbal Hasil Kompetitif
Yield SBN diperkirakan akan naik akibat risiko geopolitik, menekan harga SBN di pasar sekunder. Namun, SBN ritel tetap menarik untuk investor ritel (individu).
Ditjen PPR Kementerian Keuangan dijadwalkan akan menerbitkan SBN seri Saving Bond Retail (SBR) seri SBR014 dengan tenor 2 dan 4 tahun, dan akan ditawarkan secara publik pada tanggal 14 Juli – 7 Agustus 2025. Investor yang berminat dan sudah memiliki dananya, dapat menempatkan dananya di reksa dana pasar yang sambil menunggu masa penawaran SBR dimulai.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.
PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.



