tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
Sebelum berinvestasi, yuk, kenali kondisi market pada pekan 9–13 Maret 2026 dan tips investasinya melalui berita market update berikut!
Ringkasan Weekly Market Recap 9-13 Maret 2026:
- IHSG turun 5,9% ke 7.137 di tengah tekanan global dan arus dana asing yang masih fluktuatif.
- Yield SUN naik signifikan mengikuti kenaikan yield global dan kekhawatiran inflasi energi.
- Dolar AS menguat sehingga menekan sebagian besar mata uang regional termasuk rupiah.
- Harga minyak melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
- Harga emas terkoreksi setelah reli kuat sebelumnya.
Strategic Insight Minggu Ini
Pasar global saat ini sedang menyesuaikan diri terhadap kombinasi lonjakan harga energi, kenaikan yield obligasi global, dan penguatan dolar AS. Ketika tiga faktor ini terjadi bersamaan, likuiditas global cenderung mengetat dan investor menjadi lebih selektif terhadap aset berisiko.
Dalam situasi seperti ini, volatilitas pasar biasanya meningkat dalam jangka pendek. Namun selama fundamental ekonomi domestik tetap stabil, pergerakan tajam sering kali lebih mencerminkan penyesuaian sentimen global dibanding perubahan fundamental ekonomi.
Global Market
Pasar saham global bergerak melemah sepanjang pekan. Dow Jones turun sekitar 1,99%, sementara Nasdaq turun sekitar 1,26%.
Lonjakan harga energi menjadi pemicu utama. Minyak Brent selama minggu 9-13 Maret 2026 naik sekitar 11,27% menjadi USD103,14 per barel, sementara WTI naik sekitar 8,59% menjadi USD98,71 per barel.
Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi global dan mendorong kenaikan yield US Treasury 10 tahun dari 4,13% menjadi sekitar 4,29%. Pada saat yang sama indeks dolar AS (DXY) menguat ke 100,36, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset dolar.
Agenda Ekonomi dan Kebijakan
Pasar global juga mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed serta dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi global.
Di Indonesia, pemerintah dan Bank Indonesia menegaskan komitmen menjaga stabilitas makroekonomi serta memastikan pasar keuangan tetap stabil di tengah tekanan global.
Harga Saham IDX Turun Tajam
Pasar saham domestik mengalami koreksi cukup signifikan sepanjang minggu tersebut.
IHSG turun dari 7.586 menjadi 7.137 atau sekitar -5,91% dalam sepekan. Penurunan ini juga terlihat pada indeks utama lainnya:
- LQ45 turun 6,15%
- IDX30 turun 4,45%
- Bisnis27 turun 4,41%
- SRI Kehati turun 4,34%
Nilai transaksi saham selama minggu tersebut mencapai sekitar Rp86 triliun, dengan rata-rata harian sekitar Rp17 triliun. Aktivitas investor asing masih menunjukkan volatilitas. Secara year-to-date investor asing masih mencatat net sell sekitar Rp8,9 triliun.
Faktor utama yang mempengaruhi pasar domestik antara lain:
- kenaikan yield global yang menekan valuasi aset berisiko
- penguatan dolar AS yang meningkatkan tekanan pada pasar emerging market
- lonjakan harga minyak dunia yang meningkatkan kekhawatiran inflasi
- aksi profit taking setelah penguatan pasar pada periode sebelumnya
Koreksi juga terjadi di sebagian pasar Asia seperti Nikkei Jepang (-3,24%) dan PSEI Filipina (-3,71%).
Bonds / SUN (Surat Utang Negara) Mengalami Tekanan
Pasar obligasi domestik juga mengalami tekanan. Yield SUN tenor 10 tahun naik dari sekitar 6,55% menjadi 6,75%, sementara tenor:
- 3 tahun naik ke sekitar 6,04%
- 1 tahun naik ke sekitar 5,65%
Indeks obligasi pemerintah Indobex Government turun sekitar 0,66% dalam sepekan.
Aktivitas perdagangan obligasi tetap aktif dengan nilai transaksi harian sekitar Rp33–35 triliun.
Kenaikan yield ini mencerminkan penyesuaian terhadap kenaikan yield global serta kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi.
Rupiah Tertekan Dolar Global
Pada pekan 9–13 Maret 2026, rupiah bergerak di kisaran Rp16.850–Rp16.940 per dolar AS, sedikit melemah seiring penguatan dolar global (DXY naik ke sekitar 100) dan kenaikan yield US Treasury di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Tekanan serupa juga terjadi pada mata uang regional seperti baht Thailand, yen Jepang, peso Filipina, dan ringgit Malaysia yang melemah terhadap dolar AS.
Pelemahan rupiah cenderung menekan pasar obligasi dan saham domestik, karena investor global menjadi lebih berhati-hati. Kondisi ini berkontribusi pada kenaikan yield SUN serta tekanan pada IHSG, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar. Ke depan, stabilitas rupiah akan sangat dipengaruhi oleh arah dolar global, harga minyak, serta kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
Harga Minyak Dunia Melonjak, Emas Koreksi di Tengah Penguatan Dolar
Pergerakan komoditas pada pekan 9–13 Maret 2026 didominasi lonjakan harga energi. Minyak Brent naik 11,27% ke USD103,14 per barel, sementara WTI naik 8,59% ke USD98,71 per barel. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak global. Harga energi yang lebih tinggi juga meningkatkan risiko inflasi global dan mendorong kenaikan yield obligasi serta penguatan dolar AS. Bagi Indonesia, kondisi ini berpotensi menambah tekanan inflasi dan subsidi energi, meskipun memberi sentimen positif bagi sektor energi dan komoditas.
Ke depan, harga minyak diperkirakan tetap volatil. Jika konflik geopolitik berlanjut atau pasokan terganggu, harga minyak dapat bertahan di atas USD100 per barel. Sebaliknya, jika tensi geopolitik mereda atau produksi meningkat, harga dapat kembali stabil.
Sementara itu harga emas turun sekitar 2,94% ke USD5.019 per troy ounce setelah reli kuat sebelumnya. Koreksi ini dipicu aksi ambil untung dan penguatan dolar AS. Namun ketidakpastian geopolitik, inflasi global, dan pembelian emas oleh bank sentral masih dapat menjadi katalis penguatan emas dalam jangka menengah.
Respons Pemerintah dan Bank Indonesia
Pemerintah dan Bank Indonesia menyatakan kesiapan menghadapi gejolak global akibat konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak.
Pemerintah menegaskan bahwa stabilitas fiskal tetap dijaga dengan memastikan defisit APBN tetap terkendali serta memonitor dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi dan subsidi energi.
Sementara itu Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui kebijakan moneter serta intervensi di pasar valas bila diperlukan.
Tujuan utama kebijakan tersebut adalah menjaga stabilitas makroekonomi, inflasi, dan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Implikasi bagi Indonesia
Penguatan dolar dan kenaikan yield global berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini dapat memberi tekanan pada IHSG, rupiah, dan pasar obligasi domestik, terutama jika arus modal global menjadi lebih selektif.
Namun selama inflasi domestik tetap terkendali dan stabilitas makro terjaga, dampaknya cenderung bersifat sentimen jangka pendek, bukan perubahan fundamental ekonomi.
Sumber: Investing.com, IDX, PHEI, Bloomberg, Reuters, Trading Economics, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan.
Factors to Watch:
1. Konflik Timur Tengah dan harga minyak global
Jika konflik meningkat dan harga minyak naik dan bertahan di atas USD110 per barel, maka inflasi global berpotensi meningkat dan pasar saham dapat menjadi lebih volatil.
Dampak terhadap Indonesia:
- tekanan inflasi domestik meningkat
- potensi kenaikan yield SUN
- volatilitas IHSG meningkat
2. Pergerakan yield US Treasury
Jika yield US Treasury naik menuju 4,4–4,5%, maka aset dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.
Dampak terhadap Indonesia:
- potensi arus keluar dana asing
- tekanan pada rupiah
- yield obligasi domestik ikut naik
3. Kebijakan suku bunga The Fed.
Jika The Fed menunda penurunan suku bunga hingga semester kedua 2026, maka likuiditas global tetap ketat.
Dampak terhadap Indonesia:
- pasar saham bergerak lebih hati-hati
- arus dana global lebih selektif
4. Stabilitas rupiah dan kebijakan Bank Indonesia.
Jika dolar menguat dan rupiah melewati Rp17.000 per USD, maka Bank Indonesia kemungkinan memperkuat stabilisasi nilai tukar.
Dampak terhadap Indonesia:
- volatilitas pasar obligasi meningkat
- investor asing lebih berhati-hati
5. Inflasi domestik
Jika inflasi domestik naik di atas 5%, maka ekspektasi suku bunga dapat berubah.
Dampak terhadap Indonesia:
- yield obligasi domestik naik
- pasar saham bergerak lebih hati-hati
Tips Investasi
1. Investor Reksa Dana
- pertahankan reksa dana pasar uang untuk stabilitas portofolio
- mulai akumulasi bertahap reksa dana pendapatan tetap karena yield obligasi yang lebih tinggi membuka peluang imbal hasil menarik
- reksa dana saham tetap relevan untuk horizon 3–5 tahun dengan strategi masuk bertahap
2. Investor Emas
- pertahankan emas sebagai aset lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi
- manfaatkan koreksi harga untuk akumulasi bertahap
3. Investor Surat Berharga Negara (SBN)
Dalam situasi global yang saat ini penuh ketidakpastian, manfaatkan investasi SBN seri SR024 yang sedang dalam masa penawaran pada 6 Maret – 15 April 2026.
- SR024 tenor 3 tahun (SR024-T3) dengan kupon 5,55%
- SR024 tenor 5 tahun (SR024-T5) dengan kupon 5,90%
SBN dijamin oleh Undang-Undang dan Negara untuk pembayaran kupon dan pokok.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor wajib memahami profil risiko pribadi dan mempelajari karakteristik produk investasi, termasuk potensi risiko yang mungkin dihadapi. Informasi ini bersifat umum dan tidak dapat dijadikan sebagai jaminan kinerja di masa depan; kinerja historis tidak mencerminkan hasil di masa depan.
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.


