fb-logo
Beranda » belajar » Tanamduit Outlook » tanamduit Market Update: 22 Januari 2026

tanamduit Market Update: 22 Januari 2026

oleh | Jan 22, 2026

tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui berita market update berikut.

Ringkasan Market Update:

  • Emas XAU masih menguat, risiko global meningkat.
  • IHSG terkoreksi dari rekor, profit taking.
  • Yield SUN naik (harga turun), pasar obligasi masih wait-and-see hasil rapat DGBI 21 Jan sore.
  • BI tahan bunga BI Rate di 4,75%, fokus stabilisasi rupiah.
  • Watchlist: Suku bunga The Fed, yield UST, dan geopolitik global.

Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 22 Januari 2026.

Tabel-Market-Update-22-Januari-2026

Emas Naik Lagi 21 Januari 2026, Safe Haven Dekati US$4.800/oz

Harga emas XAU melanjutkan penguatan pada 21 Januari 2026 ke US$4.777,88, menjaga tren naik setelah reli tajam beberapa hari terakhir. Pendorong utamanya adalah arus safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan geopolitik. Reuters menyoroti eskalasi ketegangan terkait Greenland dan ancaman tarif yang memicu risk-off pada aset AS (dolar, saham, obligasi), sehingga emas kembali diburu saat dolar melemah dan premi risiko naik.

Untuk prospek 2026, analis yang dikutip Investing melihat ruang kenaikan masih ada dengan level psikologis US$4.800–4.900 sebagai target jangka pendek dan US$5.000/oz yang mungkin tercapai jika tensi geopolitik dan ketidakpastian kebijakan berlanjut. Dari sisi struktural, World Gold Council (WGC) menekankan dukungan dari pembelian bank sentral serta sensitivitas emas terhadap arah suku bunga riil dan dolar, membuat bias tetap konstruktif, meski volatilitas bisa tinggi jika sentimen risk-off mereda.  (Reuters, Investing, World Gold Council) 

IHSG Terkoreksi dari Rekor, Profit Taking dan Arus Asing Keluar Tekan Pasar

IHSG turun 1,36% ke 9.010,33 pada Rabu, 21 Januari 2026 dengan nilai transaksi Rp34,1 triliun, setelah sehari sebelumnya mencetak rekor. Pelemahan terjadi merata pada indeks utama: LQ45 -1,47%, SRI Kehati -2,83%, IDX30 -1,86%, Bisnis27 -2,19%, dan ISSI -1,29%, mencerminkan perubahan sentimen dari reli awal tahun ke fase koreksi.

Dari sisi penyebab, tekanan datang dari kombinasi faktor eksternal, risk-off global pasca koreksi Wall Street, kenaikan yield US Treasury, serta ketidakpastian geopolitik, dan faktor domestik berupa aksi profit taking setelah IHSG menanjak tajam. Sektor-sektor yang paling menekan indeks antara lain industri, properti, dan transportasi, dengan tekanan jual terlihat pada saham-saham big caps dan siklikal.

Investor asing mencatat net sell besar sekitar Rp1,88 triliun, melepas saham-saham likuid seperti BBCA, BUMI, dan UNTR, mencerminkan penyesuaian risiko di tengah volatilitas global. Ke depan, prospek IHSG masih sangat bergantung pada stabilitas global dan arus dana asing, selama ketegangan geopolitik dan tekanan yield global bertahan, pasar berpotensi bergerak volatil, namun koreksi ini juga membuka ruang konsolidasi yang lebih sehat jika sentimen eksternal membaik. (Bloomberg Technoz, CNBC Indonesia, Kontan)

Yield SUN Naik, Pasar Obligasi Tertekan

Pada 21 Januari 2026, pasar SUN tertekan dengan yield naik dan harga melemah tipis. Data PHEI menunjukkan yield Indo 10Y naik ke 6,34%, 3Y relatif stabil di 5,34%, dan 1Y naik ke 4,70%, sementara Indobex Government turun ke 430,04. Nilai transaksi SBN Rp49,2 triliun, mencerminkan aktivitas tinggi di tengah volatilitas.

Tekanan terutama datang dari kenaikan yield US Treasury dan sentimen risk-off global berkaitan dengan perkembangan geopolitik (Iran, Venezuela), ditambah sikap wait-and-see investor menjelang keputusan Bank Indonesia (20 Januari sore).

Sepanjang 2026, SUN berpeluang pulih bila inflasi terkendali dan BI membuka ruang pelonggaran, namun tetap rentan terhadap skenario higher-for-longer global dan risiko geopolitik. (PHEI, Bloomberg, Reuters, Bank Indonesia) 

BI Tahan Suku Bunga, Pasar Bergerak Hati-Hati

Bank Indonesia mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu, 21 Januari 2026 sekitar pukul 14.00 WIB, dengan keputusan menahan BI-Rate di 4,75% (Deposit Facility 3,75% dan Lending Facility 5,50%). Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi pasar dan ditegaskan sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global, sekaligus memastikan inflasi tetap dalam sasaran.

Dampaknya, rupiah relatif stabil paska pengumuman meski masih dibayangi sentimen global.  Di pasar obligasi, yield SUN cenderung bertahan / naik tipis karena pasar belum mendapat sinyal pelonggaran lanjutan, sementara di pasar saham, IHSG dan indeks utama bergerak volatil hingga melemah karena sebagian pelaku pasar sebelumnya berharap sinyal yang lebih dovish. Secara keseluruhan, keputusan BI membantu meredam gejolak kurs jangka pendek, namun pasar tetap wait-and-see menunggu arah kebijakan global berikutnya. (Bank Indonesia, Reuters, Bloomberg Technoz, CNBC Indonesia) 

Factors to Watch

  • Arah pasar ke depan sangat ditentukan oleh kebijakan The Fed, pergerakan yield US Treasury, dan kekuatan dolar AS, yang akan mempengaruhi arus dana global ke emerging markets.
  • Di sisi geopolitik, eskalasi risiko (Timur Tengah, isu tarif dan kebijakan AS) berpotensi menjaga volatilitas tetap tinggi dan menopang aset lindung nilai (emas).
  • Dari domestik, fokus utama ada pada stabilitas rupiah, arah kebijakan BI pasca-RDG (stabilitas Rupiah, pembelian SBN di pasar sekunder, pengelolaan SRBI), serta arus asing di saham dan SBNN.

    Tips Investasi

      • Rekomendasi Investasi Reksa Dana 2026
        • Reksa Dana Saham: Untuk menangkap pertumbuhan, investor dapat fokus pada reksa dana saham berorientasi big caps dan likuiditas tinggi, seperti Sucorinvest Maxi Fund, Sucorinvest Equity Fund Kelas A, dan TRIM Syariah Saham. Produk-produk ini diuntungkan oleh arus asing, pemulihan siklus ekonomi, serta potensi penurunan suku bunga yang mendukung valuasi saham.
        • Reksa Dana Campuran: Bagi investor moderat, reksa dana campuran tetap menjadi pilihan all-weather, dengan contoh Sucorinvest Anak Pintar, Sucorinvest Citra Dana Berimbang, dan Syailendra Balanced Equity Opportunity Fund. Reksa dana jenis ini memberi keseimbangan antara saham dan obligasi, sekaligus memanfaatkan rotasi aset tanpa perlu timing aktif dari investor.
        • Reksa Dana Pendapatan Tetap: Untuk stabilitas dan peluang capital gain, reksa dana obligasi seperti Sucorinvest Bond Fund, Manulife Obligasi Negara Indonesia II, dan BRI Melati Pendapatan Utama layak diprioritaskan. Dengan asumsi inflasi terkendali dan ruang easing terbuka, tenor menengah berpotensi memberi imbal hasil menarik sepanjang 2026.
        • Reksa Dana Pasar Uang: Untuk keperluan likuiditas, dana darurat, namun tetap dapat tumbuh lebih besar dibanding bunga deposito, reksa dana pasar uang menjadi pilihan yang tepat. Berdasarkan konsistensi kinerja dalam jangka panjang, reksa dana Sucorinvest Money Market Fund, Syailendra Dana Kas, dan BNI AM Dana Likuid Kelas A dapat dipertimbangkan oleh investor seluruh profil risiko.
      • Rekomendasi Emas: Emas tetap relevan sebagai diversifikasi dan lindung nilai. Strategi yang disarankan adalah akumulasi bertahap (DCA) dan disiplin rebalancing bila porsinya terlalu besar (maksimum 15% dari total portofolio). Prospek emas masih konstruktif di tengah pelonggaran moneter global dan ketidakpastian geopolitik, meski laju kenaikannya cenderung lebih moderat dibanding tahun sebelumnya.

       

      Yuk, investasi sekarang di tanamduit!

      Sebelum melakukan keputusan investasi, investor sangat disarankan untuk memahami profil risiko pribadi dan mempelajari produk-produk investasi, terutama mengenai potensi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh masing-masing produk.

      DISCLAIMER:

      Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale.  PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

      PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

      Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.

       

      tanamduit Team

      tanamduit adalah aplikasi investasi dengan beragam produk seperti reksa dana, SBN, emas. tanamduit telah berizin dan diawasi oleh OJK.

      banner-download-mobile