fb-logo
Beranda » belajar » Tanamduit Outlook » tanamduit Market Update: 23 Desember 2025

tanamduit Market Update: 23 Desember 2025

oleh | Des 23, 2025

tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui berita market update berikut.

Ringkasan Market Update:

  • Harga emas dunia XAU melonjak >2% didorong ekspektasi lanjutan Fed cut, dolar melemah, dan permintaan safe-haven, dengan dukungan kuat dari pembelian bank sentral.
  • IHSG menguat tipis sementara indeks blue-chip naik lebih kencang, ditopang aksi beli asing dan minat pada saham besar yang likuid.
  • Asing melanjutkan net buy signifikan, terutama pada saham komoditas dan material, sejalan sentimen risk-on Asia jelang akhir tahun.
  • Rupiah masih tertekan oleh faktor global, namun pasar saham tetap kuat berkat fundamental emiten dan prospek suku bunga lebih rendah.
  • Pasar SUN bergerak tipis dan cenderung wait and see, mencerminkan penyesuaian posisi akhir tahun tanpa perubahan fundamental besar.
  • Wall Street menguat dan dolar melemah, memberi sinyal positif bersyarat ke 2026 meski yield AS masih berpotensi membatasi reli aset berisiko.

Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 23 Desember 2025.

Tabel-Market-Update-23-Desember-2025

Emas XAU Melonjak Naik >2%, Didukung Harapan Fed Cut dan Permintaan Safe-Haven

Pada 22 Des 2025, harga emas naik tajam 2,39% (data Investing.com) karena kombinasi ekspektasi pemangkasan suku bunga AS lanjutan, dolar yang melemah, dan permintaan safe-haven di tengah tensi geopolitik/perdagangan. Reuters juga menulis emas sempat mencetak rekor baru di kisaran US$4.4 ribu/oz, didorong narasi “rate-cut hopes” dan risk-off global.

Kenaikan ini dinilai lebih fundamental daripada sekadar teknikal, karena ada dukungan struktural, Reuters menyebut pembelian bank sentral masih kuat (diperkirakan 850 ton di 2025) dan arus masuk ETF emas dalam nilai yang besar. Untuk 2026, World Gold Council menilai emas masih berpotensi naik sekitar 5%-15% jika suku bunga US turun dan dolar melemah, meski tetap ada risiko koreksi jangka pendek bila pasar sudah “kepanasan” setelah reli besar.

IHSG Menguat Tipis, Indeks Blue-Chip Lebih Kencang, Asing Masuk Lagi

Pada 22 Des 2025, IHSG naik 0,42% ke 8.645,84 dengan nilai transaksi Rp24,23 triliun. Indeks utama ikut menguat (LQ45 +0,73%, IDX30 +0,35%, Bisnis27 +0,86%, ISSI +0,51%), menandakan minat lebih kuat di saham-saham besar/likuid meski penguatan IHSG sendiri tetap “rapi” dan selektif.

Pendorong utama datang dari sektor energi, dan barang baku, sementara penekan berasal dari teknologi, properti, dan infrastruktur. Dari sisi saham, top net buy asing tercatat pada IMPC, BUMI, ANTM, sedangkan net sell terbesar di BBRI dan BMRI. Asing melanjutkan net buy total Rp1,34 triliun, selaras dengan sentimen risk-on Asia dan “Santa Claus rally” yang mulai terasa menjelang libur panjang.

Pelaku pasar melihat akhir 2025 masih berpeluang menguat bertahap bila sentimen global kondusif dan rotasi window dressing berlanjut selektif. Untuk 2026, beberapa riset broker menempatkan target IHSG di kisaran 9.000-10.500 (beragam skenario), dengan katalis utama penurunan suku bunga global/The Fed, pertumbuhan laba emiten 2026, dan minat pada sektor keuangan dan komoditas, namun tetap sensitif pada risiko valuasi, rupiah, dan arah arus dana. (IDX, Bloomberg Technoz) 

Rupiah Lemah, Saham Tetap Kuat

Rupiah melemah sejak akhir 2024 dan juga sejak akhir November 2025 karena dolar AS masih relatif kuat dan suku bunga AS lama bertahan tinggi, sehingga dana global cenderung ke aset dolar. Selain faktor global, investor juga lebih berhati-hati pada rupiah karena kebutuhan valas domestik dan arus dana jangka pendek, meski kondisi ekonomi Indonesia sendiri tetap stabil.

Untuk 2026, rupiah berpeluang membaik jika The Fed mulai memangkas suku bunga, pasokan dolar dari ekspor meningkat, dan stabilitas dijaga BI, dengan peluang sekitar 50-60% menurut konsensus pasar. Di sisi lain, IHSG tetap menguat karena didukung fundamental emiten yang solid, khususnya perbankan dan saham besar, sehingga pasar saham bisa tetap menarik meski nilai tukar masih berfluktuasi. (CNBC Indonesia, Bloomberg Technoz, Bisnis Indonesia, Reuters)

SUN Bergerak Tipis, Pasar Cenderung Wait and See

Pada 22 Desember 2025, pergerakan SUN relatif stabil: yield 10Y naik tipis ke 6,21, 3Y naik ke 5,40, sementara 1Y turun ke 4,89, dengan Indobex Government naik 0,02% (harga obligasi menguat tipis). Gerak terbatas ini lebih mencerminkan penyesuaian posisi jelang akhir tahun dan kondisi likuiditas, bukan perubahan fundamental besar, di tengah pasar yang menunggu katalis baru.

Laporan pasar menyebut asing masih selektif di SBN pada paruh kedua Desember. Di tahun 2026, pelaku pasar menilai prospek SUN cukup positif jika suku bunga global benar-benar melandai dan stabilitas domestik terjaga; katalisnya arah BI Rate, inflasi & rupiah, serta disiplin fiskal dan suplai SBN, dengan risiko jika global kembali hawkish. (PHEI, Kontan, Reuters, Bloomberg Technoz) 

Wall Street Menguat, Dolar Melemah; Sinyal Positif Bersyarat ke 2026

Pada 22 Desember 2025, pasar AS menguat: Dow Jones naik 0,47% dan Nasdaq naik 0,52%, didorong rebound saham teknologi dan sentimen risk-on menjelang libur akhir tahun. Kenaikan ini lebih mencerminkan penyesuaian posisi jangka pendek setelah koreksi sebelumnya, bukan lonjakan karena data fundamental baru. (Reuters, Investing)

Di pasar obligasi dan valas, yield UST 10Y naik tipis ke 4,17% (harga Treasury turun tipis), sementara DXY melemah ke 98,24. Kombinasi ini menunjukkan pasar menimbang optimisme saham dengan kehati-hatian pada arah suku bunga; pergerakan yang lebih temporer/positioning-driven di tengah ekspektasi pelonggaran bertahap The Fed. (Reuters, Trading Economics)

Untuk tahun 2026, katalis utama tetap arah suku bunga The Fed, data inflasi dan tenaga kerja, serta dinamika fiskal AS. Dolar yang cenderung melemah berpotensi mendukung aset berisiko dan emerging markets, namun yield AS yang masih relatif tinggi bisa membatasi reli; dampaknya positif bersyarat bagi pasar global termasuk Indonesia. (Reuters, Bloomberg Technoz)

Factors to Watch

  • Fokus pasar ke depan adalah arah kebijakan The Fed di 2026, terutama seberapa cepat penurunan suku bunga, yang akan mempengaruhi yield US Treasury dan dolar AS.
  • Selain itu, data inflasi dan tenaga kerja AS, perkembangan pembelian emas oleh bank sentral, serta stabilitas global (geopolitik dan perdagangan) menjadi penentu utama sentimen.
  • Di domestik, pelaku pasar mencermati kebijakan BI, stabilitas rupiah, dan arus dana asing menjelang dan setelah periode window dressing.

    Tips Investasi

    • Investor emas disarankan mempertahankan porsi sebagai lindung nilai dan menambah secara bertahap (DCA) saat terjadi koreksi, karena prospek 2026 masih didukung suku bunga global yang lebih rendah dan permintaan bank sentral.
    • Investor reksa dana dapat melakukan akumulasi selektif:
      • profil agresif fokus pada reksa dana saham berbasis blue-chip/quality dan perbankan,
      • profil moderat menyeimbangkan dengan pendapatan tetap durasi menengah,
      • profil konservatif tetap pada pendapatan tetap berkualitas tinggi untuk menjaga stabilitas.

    Yuk, investasi sekarang di tanamduit!

    Sebelum melakukan keputusan investasi, investor sangat disarankan untuk memahami profil risiko pribadi dan mempelajari produk-produk investasi, terutama mengenai potensi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh masing-masing produk.

    DISCLAIMER:

    Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale.  PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

    PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

    Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.

     

    tanamduit Team

    tanamduit adalah aplikasi investasi dengan beragam produk seperti reksa dana, SBN, emas. tanamduit telah berizin dan diawasi oleh OJK.

    banner-download-mobile