tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui berita market update berikut.
Ringkasan Market Update:
- Emas global XAU melonjak tembus US$4.960 karena arus safe haven dan risiko global.
- IHSG turun tipis akibat profit taking saat asing masih jual bersih.
- SUN menguat terbatas, yield turun tipis ditopang rupiah yang stabil.
- Factors to Watch: The Fed, yield UST, geopolitik, rupiah, dan arus asing.
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 23 Januari 2026.
Emas Tembus US$4.960/oz, Reli Safe Haven Kian Menguat
Harga emas XAU melonjak pada 22 Januari 2026 ke US$4.960,96 (+2,6% harian; YTD +15,0%), mendekati level psikologis US$5.000/oz. Kenaikan ini didorong kuatnya arus safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan global, pelemahan dolar AS, serta kekhawatiran pasar terhadap arah suku bunga riil. Reuters dan Investing menyoroti bahwa lonjakan yield dan volatilitas pasar saham justru memperkuat daya tarik emas sebagai lindung nilai.
Untuk 2026, prospek emas dinilai tetap konstruktif. Analis yang dikutip Investing dan Reuters melihat potensi emas bertahan tinggi di kisaran US$4.800–5.000/oz, terutama jika tensi geopolitik berlanjut dan bank sentral global—sebagaimana dicatat World Gold Council (WGC)—tetap agresif melakukan pembelian untuk diversifikasi cadangan. Namun, volatilitas jangka pendek tetap tinggi bila sentimen risk-off mereda atau dolar menguat kembali. (Reuters, Investing, WGC)
IHSG Turun Tipis, Asing Masih Jual Bersih
IHSG pada 22 Januari 2026 turun 0,20% ke 8.992 dengan nilai transaksi Rp37,9 triliun, sementara indeks utama justru menguat tipis (LQ45 +0,42%, IDX30 +0,59%), menandakan koreksi bersifat selektif. Tekanan terjadi setelah reli awal tahun, di tengah sentimen global yang masih hati-hati.
Dari sisi penyebab, pelemahan lebih didorong profit taking dan sentimen risk-off global pasca volatilitas pasar AS, bukan perubahan fundamental emiten. Investor asing mencatat net sell Rp1,33 triliun, terutama melepas saham big caps seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI, meski ada pembelian selektif pada saham komoditas.
Ke depan 2026, prospek IHSG tetap konstruktif namun volatil, bergantung pada stabilitas rupiah, arah kebijakan global, dan dinamika geopolitik; koreksi jangka pendek berpotensi menjadi fase konsolidasi sehat selama faktor eksternal tidak memburuk. (Bloomberg Technoz, CNBC Indonesia, Kontan, IDX Channel)
SUN Menguat Tipis, Yield Turun Terbatas
Perdagangan SUN pada 22 Januari 2026 bergerak mixed cenderung menguat, dengan yield Indo 10Y turun ke 6,35%, 3Y ke 5,32%, dan 1Y ke 4,64%, sementara Indobex Government naik 0,07% (data PHEI). Nilai transaksi SBN Rp37,8 triliun, didominasi PBS030 dan FR0109, menunjukkan minat pada tenor menengah, penguatan rupiah turut meredakan tekanan.
Pergerakan ini lebih temporer-sentimen (rupiah menguat, UST mixed, CDS turun) ketimbang perubahan fundamental. Prospek 2026 masih dua arah: ada ruang penurunan yield bila inflasi terkendali dan BI melonggarkan, namun risiko bertahan dari skenario higher-for-longer global dan geopolitik. (PHEI, Bloomberg, BNIS Fixed Income Daily Notes)
Factors to Watch
- Arah pasar ke depan sangat ditentukan oleh kebijakan The Fed, pergerakan yield US Treasury, dan kekuatan dolar AS, yang akan mempengaruhi arus dana global ke emerging markets.
- Di sisi geopolitik, eskalasi risiko (Timur Tengah, isu tarif dan kebijakan AS) berpotensi menjaga volatilitas tetap tinggi dan menopang aset lindung nilai (emas).
- Dari domestik, fokus utama ada pada stabilitas rupiah, arah kebijakan BI pasca-RDG (stabilitas Rupiah, pembelian SBN di pasar sekunder, pengelolaan SRBI), serta arus asing di saham dan SBN.
Tips Investasi
- Rekomendasi Investasi Reksa Dana 2026
- Reksa Dana Saham: Untuk menangkap pertumbuhan, investor dapat fokus pada reksa dana saham berorientasi big caps dan likuiditas tinggi, seperti Sucorinvest Maxi Fund, Sucorinvest Equity Fund Kelas A, dan TRIM Syariah Saham. Produk-produk ini diuntungkan oleh arus asing, pemulihan siklus ekonomi, serta potensi penurunan suku bunga yang mendukung valuasi saham.
- Reksa Dana Campuran: Bagi investor moderat, reksa dana campuran tetap menjadi pilihan all-weather, dengan contoh Sucorinvest Anak Pintar, Sucorinvest Citra Dana Berimbang, dan Syailendra Balanced Equity Opportunity Fund. Reksa dana jenis ini memberi keseimbangan antara saham dan obligasi, sekaligus memanfaatkan rotasi aset tanpa perlu timing aktif dari investor.
- Reksa Dana Pendapatan Tetap: Untuk stabilitas dan peluang capital gain, reksa dana obligasi seperti Sucorinvest Bond Fund, Manulife Obligasi Negara Indonesia II, dan BRI Melati Pendapatan Utama layak diprioritaskan. Dengan asumsi inflasi terkendali dan ruang easing terbuka, tenor menengah berpotensi memberi imbal hasil menarik sepanjang 2026.
- Reksa Dana Pasar Uang: Untuk keperluan likuiditas, dana darurat, namun tetap dapat tumbuh lebih besar dibanding bunga deposito, reksa dana pasar uang menjadi pilihan yang tepat. Berdasarkan konsistensi kinerja dalam jangka panjang, reksa dana Sucorinvest Money Market Fund, Syailendra Dana Kas, dan BNI AM Dana Likuid Kelas A dapat dipertimbangkan oleh investor seluruh profil risiko.
- Rekomendasi Emas: Emas tetap relevan sebagai diversifikasi dan lindung nilai. Strategi yang disarankan adalah akumulasi bertahap (DCA) dan disiplin rebalancing bila porsinya terlalu besar (maksimum 15% dari total portofolio). Prospek emas masih konstruktif di tengah pelonggaran moneter global dan ketidakpastian geopolitik, meski laju kenaikannya cenderung lebih moderat dibanding tahun sebelumnya.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor sangat disarankan untuk memahami profil risiko pribadi dan mempelajari produk-produk investasi, terutama mengenai potensi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh masing-masing produk.
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.


