tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui berita market update berikut.
Ringkasan Market Update:
-
IHSG naik tipis, ditopang komoditas dan beli selektif asing.
-
SUN konsolidasi, yield naik terbatas karena sentimen global
-
MSCI masih kajian, belum ada dampak ke pasar.
-
Emas global XAU tembus US$5.000, reli masih kuat secara fundamental.
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 27 Januari 2026.
IHSG Menguat Tipis, Komoditas Jadi Penopang di Tengah Aksi Selektif Asing
IHSG ditutup menguat 0,27% ke level 8.975 pada Senin, 26 Januari 2026, setelah bergerak fluktuatif dengan nilai transaksi sekitar Rp36,9 triliun. Penguatan turut terjadi pada indeks utama lain seperti LQ45, IDX30, ISSI, Bisnis-27, dan SRI-KEHATI, mencerminkan perbaikan sentimen pasar secara luas. Kenaikan indeks terutama ditopang sektor basic materials seiringreli harga komoditas, khususnya emas, dengan saham seperti ANTM, MDKA, AMMN, dan EMAS menjadi penggerak utama, serta dukungan dari transportasi. Sebaliknya, sektor energi tertekan akibat aksi wait and see investor terkait isu metodologi free float MSCI. Investor asing mencatat net buy tipis sekitar Rp24 miliar, menandakan akumulasi selektif sambil menahan agresivitas.
Ke depan, prospek IHSG 2026 tetap konstruktif namun berpotensi berfluktuasi, dengan katalis utama berupa arah suku bunga global BI, tren komoditas, kinerja laba emiten, serta arus dana asing. Target IHSG 10.000 secara matematis terbuka, tetapi sangat bergantung pada konsistensi inflow asing dan stabilitas makro tanpa itu, pasar cenderung melaju bertahap ketimbang reli agresif. (Bloomberg Techno, IDX).
SUN Konsolidasi, Yield Naik Tipis di Tengah Sikap Wait and See Pasar
Pasar SUN pada 26 Januari 2026 bergerak relatif stabil dengan yield naik terbatas. Data PHEI menunjukkan yield Indo 10Y berada di kisaran 6,38%, sementara Indobex Government dan Indobex Composite melemah tipis, menandakan tekanan harga yang masih terkendali di tengah aktivitas pasar yang moderat.
Menurut pemberitaan Bloomberg Technoz, pergerakan SUN tersebut dipengaruhi faktor eksternal, terutama arah yield US Treasury dan sikap wait and see investor global. Tekanan dinilai bersifat teknikal dan jangka pendek, dengan investor asing cenderung net sell tipis atau relatif seimbang seiring penyesuaian portofolio. (PHEI, Bloomberg Technoz)
MSCI Masih Tahap Kajian, Pasar Saham Indonesia Tetap Stabil
Bursa saham Indonesia tetap bergerak normal seiring MSCI yang hingga kini masih dalam tahap konsultasi terkait penyempurnaan metodologi free float (jumlah lembar saham emiten yang diperdagangkan di bursa). Belum ada keputusan final maupun perubahan indeks yang berlaku, sehingga tidak ada dampak langsung terhadap mekanisme perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Proses kajian tersebut merupakan praktik standar global untuk meningkatkan kualitas indeks, sementara perhatian pasar tetap tertuju pada fundamental ekonomi domestik dan kinerja emiten. Aktivitas investor dan likuiditas pasar dinilai tetap terjaga.
Bagi investor reksa dana, disarankan tetap fokus pada tujuan jangka menengah panjang, mempertahankan investasi pada reksa dana yang terdiversifikasi, serta memanfaatkan reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap sebagai penyeimbang portofolio bila volatilitas meningkat.
Emas Tembus US$5.000, Reli Masih Berlanjut
Harga emas XAU naik pada 26 Januari 2026 menembus US$5.000/oz, melanjutkan reli kuat dengan kinerja YTD sekitar +16,2%. Kenaikan ini didorong kombinasi permintaan safe haven, pelemahan dolar AS, ekspektasi pelonggaran suku bunga global, serta akumulasi berkelanjutan bank sentral, sehingga momentum emas dinilai lebih fundamental ketimbang sekadar teknikal, meski koreksi jangka pendek tetap mungkin.
Analis global menilai tren emas masih berpotensi berlanjut sepanjang 2026. Goldman Sachs memproyeksikan emas dapat menuju US$5.400/oz, se mentara analis yang dikutip Reuters melihat ruang kenaikan tetap terbuka jika ketidakpastian geopolitik bertahan, suku bunga riil menurun, dan pembelian bank sentral berlanjut. Katalis utama 2026 antara lain kebijakan The Fed, arah dolar, risiko geopolitik, serta arus ETF dan permintaan fisik. (Reuters, Bloomberg, Investing)
Factors to Watch
-
Di tahun 2026 pasar keuangan dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga global dan domestik, terutama sikap The Fed dan BI yang cenderung menuju pelonggaran bertahap terhadap suku bunga acuan.
-
Selama yield US Treasury dan dolar AS (DXY) tetap terkendali, sentimen risk-on berpeluang berlanjut dan mendukung arus dana ke pasar berkembang, termasuk Indonesia.
-
Di dalam negeri, inflasi yang terjaga, stabilitas Rupiah, dan likuiditas pasar menjadi faktor kunci, sementara komoditas dan dinamika geopolitik tetap menopang volatilitas dan permintaan aset lindung nilai.
Tips Investasi
- Rekomendasi Investasi Reksa Dana 2026
- Reksa Dana Saham:
Fokus pada reksa dana saham big caps dan likuid untuk menangkap pertumbuhan, seperti Sucorinvest Maxi Fund, Sucorinvest Equity Fund Kelas A, dan TRIM Syariah Saham. Produk-produk ini diuntungkan oleh arus asing, pemulihan siklus ekonomi, serta potensi penurunan suku bunga.
- Reksa Dana Campuran: Untuk profil moderat, reksa dana campuran seperti Sucorinvest Anak Pintar, Sucorinvest Citra Dana Berimbang, dan Syailendra Balanced Equity Opportunity Fund. cocok sebagai strategi all-weather karena menyeimbangkan saham dan obligasi tanpa perlu active timing.
- Reksa Dana Pendapatan Tetap: Untuk stabilitas dan peluang capital gain, reksa dana obligasi seperti Sucorinvest Bond Fund, Manulife Obligasi Negara Indonesia II, dan BRI Melati Pendapatan Utama: menjadi pilihan menarik, terutama pada tenor menengah di tengah inflasi yang terkendali dan peluang easing 2026.
- Reksa Dana Pasar Uang: Untuk likuiditas dan dana parkir yang optimal, reksa dana pasar uang seperti Sucorinvest Money Market Fund, Syailendra Dana Kas, dan BNI AM Dana Likuid Kelas A dapat dipertimbangkan oleh investor seluruh profil risiko.
- Reksa Dana Saham:
- Rekomendasi Emas: Emas tetap relevan sebagai diversifikasi dan lindung nilai, dengan strategi akumulasi bertahap (DCA) dan rebalancing disiplin (maksimal 15% portofolio). Prospeknya masih konstruktif, meski kenaikan diperkirakan lebih moderat dibanding tahun sebelumnya.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor sangat disarankan untuk memahami profil risiko pribadi dan mempelajari produk-produk investasi, terutama mengenai potensi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh masing-masing produk.
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.


