tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market dan strategi investasinya melalui berita market update berikut.
Ringkasan Market Update:
- IHSG turun tipis 0,22% ke 8.925 akibat profit taking teknikal, namun asing tetap net buy selektif di saham big caps.
- SUN melemah tipis dengan yield naik terbatas dipicu sentimen global (UST & CDS naik), bersifat temporer.
- Emas XAU naik tipis 0,5% didukung pelemahan dolar dan ekspektasi pelonggaran suku bunga AS.
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per tanggal 9 Januari 2026.
IHSG Terkoreksi Tipis, Asing Tetap Net Buy di Saham Big Caps
IHSG turun 0,22% ke 8.925,47 pada hari Kamis 8 Januari 2026 kemarin, dengan nilai transaksi sekitar Rp28,8 triliun; beberapa indeks utama ikut melemah (LQ45 -0,43%, IDX30 -0,72%, SRI Kehati -0,62%, Bisnis27 -0,57%, ISSI -0,17%). Koreksi ini cenderung temporer/teknikal setelah reli beruntun sejak awal tahun, dengan tekanan terutama datang dari sektor barang baku (-3,22%), disusul teknologi (-1,10%), keuangan (-0,45%), dan perindustrian (-0,9%).
Meski indeks melemah, investor asing masih net buy sekitar Rp950 miliar, menunjukkan asing tetap akumulasi selektif meski pasar terkoreksi. Kontan mencatat net buy asing ditopang arus beli di pasar reguler dan negosiasi, sehingga tekanan jual di beberapa sektor bisa tertutup oleh pembelian di saham tertentu.
Saham yang paling banyak dibeli asing hari itu adalah AMMN (Rp411 miliar), BBRI (Rp197 miliar), dan ASII (Rp164 miliar), pola yang konsisten dengan strategi asing memilih saham likuid dan berkapitalisasi besar saat pasar “tarik napas”. Jadi, pelemahan IHSG lebih mencerminkan rotasi & profit taking jangka pendek, sementara arus beli asing mengindikasikan minat terhadap saham-saham pilihan masih terjaga. (Kontan, Bloomberg Technoz, Kontan)
SUN Melemah Tipis Yield Naik Terbatas
Pada 8 Januari 2026, harga SUN terkoreksi tipis seiring kenaikan yield yang terbatas (Indo 10Y ke 6,17%; 3Y 5,30%), dengan volume SBN Rp21,0 triliun; pergerakan ini terutama dipicu sentimen global—yield US Treasury dan Credit Default Swap (CDS) Indonesia naik serta rupiah yang melemah, bukan perubahan fundamental domestik.
Di tahun 2026, SUN diproyeksikan konstruktif bila inflasi terjaga dan arah suku bunga global melandai; dengan katalis utama: kebijakan Fed/UST, keputusan BI mengenai BI Rate, stabilitas rupiah, dan suplai SBN sepanjang tahun, juga risiko dari lonjakan yield global dan volatilitas nilai tukar. (PHEI, BNI Sekuritas; Reuters; Bloomberg Technoz)
Emas Naik Tipis 8 Jan 2026, Sentimen Suku Bunga Masih Menopang
Harga emas XAU naik 0,5% ke 4.476,7 pada hari Kamis 8 Januari 2026 kemarin, memantul setelah koreksi sehari sebelumnya, terutama karena pelemahan dolar AS dan pergerakan yield US Treasury di tengah pasar yang menunggu arah kebijakan suku bunga The Fed. Kenaikan ini dinilai lebih bersifat temporer/sentimen (take profit), bukan perubahan fundamental harian.
Secara fundamental, emas tetap didukung pembelian bank sentral, World Gold Council mencatat bank sentral masih net buy hingga akhir 2025, serta prospek pelonggaran suku bunga global. Untuk 2026, analis melihat emas berpeluang bertahan kuat hingga moderat naik jika Fed mulai memangkas suku bunga dan risiko global berlanjut, meski koreksi jangka pendek tetap mungkin. (Investing, WGC)
Factors to Watch
Pasar akan mencermati arah penurunan suku bunga global (khususnya The Fed), pergerakan yield US Treasury dan dolar AS, stabilitas rupiah, serta dinamika geopolitik dan data inflasi—faktor-faktor ini akan menentukan selera risiko dan aliran dana ke aset berisiko maupun safe-haven.
Tips Investasi
- Investor Reksa Dana disarankan fokus pada reksa dana saham/pendapatan tetap berfundamental kuat dengan strategi bertahap (DCA), memanfaatkan sentimen awal tahun dan potensi suku bunga lebih rendah.
- Emas tetap relevan sebagai diversifier dan lindung nilai, terutama jika volatilitas global meningkat dan dolar cenderung melemah.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor sangat disarankan untuk memahami profil risiko pribadi dan mempelajari produk-produk investasi, terutama mengenai potensi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh masing-masing produk.
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.


