Ringkasan Market Recap Juli 2026:
- IHSG rebound 10,5% menjadi 6.236, meski investor asing masih mencatat net sell sekitar Rp17 triliun sepanjang Juli.
- The Fed mempertahankan suku bunga di 3,50%-3,75%, dan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga BI Rate di 5,75%.
- Yield SUN 10 tahun naik tipis namun yield 3 dan 1 tahun turun menandakan pasar yang mulai stabil.
- Rupiah melemah tipis ke Rp17.994/USD, dipengaruhi kenaikan yield US Treasury meski indeks dolar AS (DXY) justru melemah selama Juli.
- Harga minyak melonjak lebih dari 20% akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, sedangkan harga emas relatif stabil.
- Pasar global bergerak lebih selektif. Investor mulai menguji apakah investasi AI mampu mendorong pertumbuhan laba yang berkelanjutan.
Juli vs Juni 2026: Pasar Mulai Pulih, Fokus Beralih ke Arah Kebijakan Bank Sentral
Setelah mengalami tekanan sepanjang kuartal II, pasar keuangan global memasuki Juli dengan sentimen yang lebih positif. The Fed mempertahankan Fed Funds Rate, sejalan dengan ekspektasi pasar, sambil menegaskan masih membutuhkan bukti lebih kuat bahwa inflasi benar-benar bergerak menuju target sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga. Di Indonesia, Bank Indonesia juga mempertahankan BI Rate di 5,75%, menunjukkan fokus menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, perhatian investor sempat tertuju pada pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada akhir Juli. Namun, karena terjadi menjelang akhir bulan dan disertai komitmen pemerintah menjaga kesinambungan kebijakan moneter, dampaknya terhadap pasar relatif terbatas. Bahkan, pada 30 Juli investor asing membukukan net buy sekitar Rp8 triliun, mengindikasikan bahwa pasar lebih memperhatikan prospek kebijakan ke depan dibanding perubahan individu.
Sementara itu, konflik di Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dunia naik tajam dan meningkatkan risiko inflasi global. Di Amerika Serikat, investor mulai mengevaluasi apakah investasi besar di bidang Artificial Intelligence (AI) mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Di tengah dinamika tersebut, pasar Indonesia berhasil mencatat pemulihan, meski tantangan global belum sepenuhnya mereda.
IHSG Rebound, Asing Masih Keluar tetapi Tekanan Mulai Mereda
Pasar saham Indonesia mencatat pemulihan yang kuat sepanjang Juli. IHSG naik 10,5%, diikuti kenaikan LQ45 +12,3%, IDX30 (+11,3%), Bisnis-27 +11,4%, dan SRI-Kehati +9,8%. Kenaikan ini didorong oleh membaiknya sentimen global, valuasi saham yang semakin menarik setelah koreksi tajam, serta meningkatnya akumulasi investor domestik.
Meski demikian, investor asing masih mencatat net sell sekitar Rp17 triliun sepanjang bulan. Aksi jual tersebut lebih mencerminkan kelanjutan proses portfolio rebalancing global akibat tingginya suku bunga AS dan kuatnya dolar dibanding perubahan fundamental Indonesia. Yang menarik, tekanan jual mulai berkurang dibanding dua bulan sebelumnya, bahkan Juli ditutup dengan net buy sekitar Rp8 triliun pada 30 Juli, mengindikasikan mulai munculnya minat investor asing kembali ke pasar domestik.
Bagi investor reksa dana saham, kondisi ini mendukung strategi akumulasi bertahap pada produk dengan portofolio berkualitas. Momentum pemulihan telah dimulai, tetapi keberlanjutannya masih bergantung pada arus dana asing dan arah kebijakan global.
Pasar Obligasi Mulai Stabil, Prospek Reksa Dana Pendapatan Tetap Membaik
Pasar obligasi Indonesia menunjukkan kondisi yang lebih stabil dibanding bulan sebelumnya. Yield SUN tenor 10 tahun naik tipis menjadi 7,32% dari 7,22% pada Juni, sementara yield tenor 1 tahun turun menjadi 6,91% dari 7,17%. Penurunan yield tenor pendek mencerminkan mulai meredanya tekanan likuiditas dan ekspektasi bahwa ruang kenaikan suku bunga semakin terbatas, meski investor masih meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk obligasi berjangka panjang.
Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75% turut memberikan kepastian bagi pasar obligasi. Di tengah stabilnya nilai tukar rupiah dan meredanya volatilitas pasar keuangan, prospek Reksa Dana Pendapatan Tetap mulai membaik seiring stabilnya pasar obligasi dan masih tingginya tingkat yield yang memberikan potensi imbal hasil menarik bagi investor jangka menengah.
Investor dapat mulai meningkatkan porsi Reksa Dana Pendapatan Tetap secara bertahap untuk memanfaatkan yield obligasi yang masih menarik. Bagi investor yang mengutamakan likuiditas dan stabilitas, Reksa Dana Pasar Uang tetap layak menjadi fondasi portofolio.
Rupiah Melemah Tipis, Tekanan Eksternal Belum Sepenuhnya Reda
Rupiah ditutup di sekitar Rp17.994/USD, melemah tipis dibanding akhir Juni. Pelemahan ini terjadi meski indeks dolar AS (DXY) melemah, menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi oleh kenaikan yield US Treasury ke 4,75%, tingginya permintaan dolar AS di pasar domestik, serta arus dana asing yang belum sepenuhnya kembali ke pasar keuangan Indonesia.
Akibatnya, arus dana asing ke pasar saham dan obligasi Indonesia masih terbatas sehingga pemulihan IHSG dan penurunan yield SUN cenderung berlangsung secara bertahap.
Harga Minyak Melonjak, Risiko Inflasi Kembali Meningkat
Harga minyak Brent melonjak sekitar 20,5% sepanjang Juli akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan harga energi berpotensi kembali mendorong inflasi global dan membuat bank-bank sentral, termasuk The Fed, lebih berhati-hati dalam memulai siklus penurunan suku bunga. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Kondisi ini berpotensi menahan penguatan IHSG dan memperlambat penurunan yield SUN karena investor cenderung lebih berhati-hati terhadap risiko inflasi yang meningkat.
Harga Emas Bergerak Stabil, Tetap Menjadi Instrumen Diversifikasi
Harga emas hanya naik sekitar 0,5% sepanjang Juli. Pergerakan yang relatif terbatas mencerminkan investor masih mempertahankan emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik, namun sebagian minat terhadap aset berisiko mulai meningkat seiring membaiknya sentimen pasar global. Meski tidak mencatat kenaikan signifikan, emas tetap berperan penting sebagai instrumen diversifikasi untuk membantu menjaga stabilitas portofolio ketika volatilitas pasar kembali meningkat.
Diversifikasi tetap menjadi strategi yang relevan. Kombinasi Reksa Dana, SBN, dan emas dapat membantu menjaga keseimbangan portofolio di tengah dinamika suku bunga global dan risiko geopolitik.
Pasar AS Tetap Menjadi Penentu Arah Pasar Global
Pasar saham Amerika bergerak beragam sepanjang Juli. The Fed kembali mempertahankan suku bunga acuannya, sementara yield US Treasury 10 tahun naik ke sekitar 4,75%, mencerminkan ekspektasi bahwa suku bunga tinggi masih akan bertahan lebih lama. Di saat yang sama, musim laporan keuangan emiten teknologi menjadi perhatian utama investor yang mulai mengevaluasi apakah besarnya investasi di bidang Artificial Intelligence (AI) benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang berkelanjutan.
Bagi Indonesia, arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor eksternal paling penting. Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS, perkembangan yield US Treasury, dan sentimen terhadap saham teknologi global akan memengaruhi arus modal asing, pergerakan rupiah, yield SUN, hingga kinerja IHSG dalam beberapa bulan mendatang.
Factors to Watch (Agustus 2026)
- Arah kebijakan The Fed, inflasi AS, dan yield US Treasury. Jika The Fed tetap hawkish dan yield US Treasury naik, rupiah, IHSG, dan obligasi berpotensi kembali tertekan. Sebaliknya, jika peluang penurunan suku bunga semakin besar, pasar berpotensi melanjutkan pemulihan.
- Arus dana asing. Jika net buy asing berlanjut, pemulihan IHSG berpotensi semakin kuat. Sebaliknya, jika aksi jual kembali meningkat, volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
- Stabilitas rupiah dan kebijakan Bank Indonesia. Rupiah yang stabil akan membuka ruang bagi penurunan yield obligasi dan memperkuat sentimen pasar.
- Geopolitik dan harga minyak. Jika konflik Timur Tengah memanas, harga minyak berpotensi tetap tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi global. Sebaliknya, meredanya konflik akan menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan.
Rekomendasi Investasi
- Investor Reksa Dana Existing
Bagi investor yang saat ini masih mengalami potential loss pada Reksa Dana Saham, Reksa Dana Campuran, maupun Reksa Dana Indeks, tidak perlu terburu-buru melakukan penjualan. Selama tujuan investasi masih jangka panjang dan fundamental pasar tetap baik, koreksi dapat dimanfaatkan untuk melakukan average down secara bertahap pada produk yang memiliki rekam jejak dan kualitas pengelolaan yang baik.
- Investor yang Ingin Mulai Berinvestasi di Reksa Dana
Volatilitas pasar saat ini membuka peluang untuk membangun portofolio secara bertahap. Reksa Dana Pasar Uang dan Reksa Dana Pendapatan Tetap dapat menjadi fondasi awal, sementara Reksa Dana Saham dan Reksa Dana Indeks dapat ditambahkan secara bertahap melalui strategi dollar-cost averaging (DCA) untuk memanfaatkan potensi pertumbuhan jangka panjang.
- Investor Emas
Bagi investor yang telah memiliki emas, pertahankan sebagai instrumen diversifikasi dan pelindung nilai (hedging) di tengah ketidakpastian global. Bagi investor yang baru ingin membeli emas, lakukan akumulasi secara bertahap untuk mengurangi risiko membeli pada harga yang relatif tinggi, sambil tetap memanfaatkan potensi kenaikan harga dalam jangka panjang.
“Semester kedua 2026 masih berpotensi volatil, namun tetap membuka peluang bagi investor jangka panjang yang disiplin.”
Referensi: IDX, PHEI, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan RI (DJPPR), Federal Reserve, U.S. Treasury, Investing.com, Reuters, Bloomberg, CNBC Indonesia, Kontan, Bisnis Indonesia, Trading Economics, dan World Gold Council (WGC).
Disiapkan oleh team Product Management tanamduit
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
DISCLAIMER:
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor wajib memahami profil risiko pribadi dan mempelajari karakteristik produk investasi, termasuk potensi risiko yang mungkin dihadapi. Informasi ini bersifat umum dan tidak dapat dijadikan sebagai jaminan kinerja di masa depan; kinerja historis tidak mencerminkan hasil di masa depan.
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.


