Ringkasan Market Recap Mei 2026:
- Nasdaq naik 8,6% dan Nikkei melonjak 11,9%, didorong optimisme teknologi dan ekonomi global yang tetap solid.
- IHSG turun tajam 11,9% ke 6.127; asing mencatat net sell Rp54 triliun sejak awal tahun.
- Rupiah melemah ke Rp17.870/USD, menjadi salah satu mata uang dengan tekanan terbesar di kawasan.
- BI menaikkan BI Rate menjadi 5,25% untuk menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan domestik.
- Yield SUN 10Y naik ke 6,86%, tenor pendek naik lebih tajam, mencerminkan kehati-hatian investor.
- Emas XAU turun 1,8%, profit taking, namun masih mencatat kenaikan 5,2% YTD.
- Harga minyak turun lebih dari 16% sepanjang Mei seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan global.

Mei vs April 2026: Divergensi Semakin Lebar
Jika April merupakan fase tekanan berkepanjangan, maka Mei menjadi bulan ketika perbedaan arah antara pasar global dan Indonesia semakin terlihat jelas.
Di pasar global, sentimen membaik didorong meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah, turunnya harga minyak, serta optimisme terhadap sektor teknologi AS. Nasdaq melonjak 8,6%, Dow Jones naik 2,8%, dan Nikkei menguat 11,9%.
Sebaliknya, pasar domestik masih menghadapi tekanan. Rupiah melemah hingga Rp17.870/USD, investor asing terus mencatat arus keluar, dan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25% untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Akibatnya, IHSG terkoreksi 11,9% dan kembali menjadi salah satu pasar saham dengan kinerja terlemah di kawasan.
IHSG Turun Tajam, Tekanan Asing Belum Mereda
IHSG turun dari 6.957 menjadi 6.127 sepanjang Mei 2026. Saham-saham unggulan menjadi sumber utama tekanan, dengan LQ45 turun 8,7%, IDX30 turun 6,8%, dan SRI Kehati melemah 7,9%.
Di balik koreksi tersebut, investor asing masih mencatat net sell sepanjang bulan Mei dan Rp54 triliun secara year-to-date. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun valuasi saham Indonesia mulai menarik, kepercayaan investor global terhadap aset domestik belum sepenuhnya pulih.
Bagi investor reksa dana saham, kondisi saat ini lebih relevan dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dan selektif dibanding melakukan pembelian agresif sekaligus.
Pasar Obligasi Bertahan, Namun Yield Tetap Tinggi
Pasar obligasi Indonesia relatif lebih stabil dibanding pasar saham. Yield SUN 10 tahun naik tipis ke 6,86%, sementara yield tenor 1 tahun dan 3 tahun naik lebih besar masing-masing ke 6,62% dan 6,86%.
Kenaikan BI Rate, pelemahan rupiah, dan tingginya ketidakpastian global membuat investor masih meminta premi risiko yang relatif tinggi untuk aset rupiah.
Dalam kondisi seperti ini, reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap dengan durasi pendek-menengah masih menjadi pilihan yang lebih defensif.
Emas XAU Terkoreksi, Namun Masih Relevan Sebagai Diversifikasi
Harga emas turun 1,8% sepanjang Mei menjadi sekitar US$4.539/oz setelah sebelumnya mencatat reli kuat di awal tahun.
Koreksi terutama dipicu aksi ambil untung, penguatan dolar AS, dan meredanya ketegangan geopolitik. Meski demikian, secara year-to-date emas masih naik 5,2% dan tetap berperan sebagai instrumen diversifikasi di tengah ketidakpastian global.
Harga Minyak Turun Tajam, Tekanan Inflasi Global Mereda
Setelah melonjak pada Maret dan masih bertahan tinggi di April, harga minyak terkoreksi tajam pada Mei 2026. WTI turun 16,9% ke US$87,4 per barel, sementara Brent turun 19,3% ke US$92,1 per barel.
Penurunan ini didorong meredanya kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah serta berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga energi naik tajam.
Bagi pasar global, turunnya harga minyak membantu meredakan tekanan inflasi dan menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan pasar saham. Namun bagi Indonesia, dampak positif tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari pelemahan rupiah dan berlanjutnya arus keluar dana asing.
Jika harga minyak bertahan di bawah US$100 per barel, tekanan inflasi global berpotensi lebih terkendali. Kondisi ini dapat menjadi sentimen positif bagi obligasi, pasar saham, dan emas dalam beberapa bulan ke depan.
Pasar Global Menguat, Namun Yield AS Tetap Jadi Risiko
Pasar saham AS melanjutkan penguatan sepanjang Mei. Dow Jones naik 2,8% dan Nasdaq naik 8,6%, didukung sektor teknologi dan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun, yield US Treasury 10 tahun naik ke 4,45%, level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar masih memperkirakan suku bunga AS akan bertahan relatif tinggi lebih lama.
Bagi Indonesia, yield AS yang tinggi berpotensi mempertahankan tekanan terhadap rupiah, membatasi penurunan yield SUN, dan membuat arus dana asing tetap selektif hingga akhir tahun.
Factors to Watch (Juni 2026)
- Arah The Fed, inflasi AS, dan yield US Treasury: Jika inflasi AS tetap tinggi dan The Fed mempertahankan sikap hawkish (kecenderungan bunga tinggi), tekanan terhadap rupiah, SUN, dan IHSG berpotensi berlanjut.
- Rupiah dan foreign flow: Jika arus keluar asing mulai mereda, peluang stabilisasi IHSG dan obligasi domestik akan membesar. Sebaliknya, jika net sell berlanjut, pasar domestik masih rentan.
- BI Rate dan stabilitas domestik: Jika rupiah belum stabil, ruang pelonggaran kebijakan moneter masih terbatas dan aset defensif cenderung lebih diuntungkan.
- Harga minyak dan geopolitik global: Jika ketegangan geopolitik kembali meningkat dan harga energi naik, tekanan inflasi global dapat kembali muncul dan mendorong volatilitas pasar keuangan.
Rekomendasi Investasi
Mei 2026 menunjukkan bahwa pasar global dan Indonesia sedang bergerak dalam arah yang berbeda. Di tengah tekanan domestik yang masih tinggi, fokus utama investor bukan mengejar return tercepat, melainkan menjaga kualitas portofolio, likuiditas, dan disiplin berinvestasi jangka panjang.
Investor Reksa Dana
Fokus pada kualitas portofolio, diversifikasi, dan akumulasi bertahap. RD Pasar Uang dan RD Pendapatan Tetap masih relevan sebagai fondasi, sementara RD Saham dapat ditambah secara bertahap untuk investor jangka Panjang dengan menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA).
Investor Surat Berharga Negara (SBN)
Investor dapat mempertimbangkan SBN seri ST016 tenor 2 tahun maupun 4 tahun yang saat ini masih dalam masa penawaran. Selain dijamin oleh pemerintah, ST016 menawarkan kupon floating with floor, sehingga kupon tidak akan turun di bawah tingkat minimum dan berpotensi meningkat apabila BI Rate kembali naik. Instrumen ini cocok bagi investor yang mengutamakan pendapatan rutin, stabilitas, dan perlindungan dari ketidakpastian pasar.
Emas
Koreksi harga emas dapat dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap. Emas tetap relevan sebagai pelindung nilai dan diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian global.
Ketidakpastian mungkin masih tinggi, tetapi bagi investor yang disiplin, volatilitas sering kali menjadi awal munculnya peluang investasi jangka panjang.
Referensi: Investing, IDX, PHEI, Bank Indonesia, Reuters, CNBC Indonesia.
Disiapkan oleh team Product Management tanamduit
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
DISCLAIMER:
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor wajib memahami profil risiko pribadi dan mempelajari karakteristik produk investasi, termasuk potensi risiko yang mungkin dihadapi. Informasi ini bersifat umum dan tidak dapat dijadikan sebagai jaminan kinerja di masa depan; kinerja historis tidak mencerminkan hasil di masa depan.
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.

