fb-logo
Beranda » belajar » Tanamduit Outlook » tanamduit Market Recap: Geopolitik Memanas, Pasar Global Bergejolak

tanamduit Market Recap: Geopolitik Memanas, Pasar Global Bergejolak

oleh | Mar 9, 2026

tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.

Sebelum berinvestasi, yuk, kenali kondisi market pada pekan 2 – 6 Maret 2026 dan tips investasinya melalui berita market update berikut!

Ringkasan Monthly Market Recap:

  • Konflik geopolitik Timur Tengah memicu lonjakan harga energi dan volatilitas pasar global.
  • IHSG turun sekitar 7,9% dalam sepekan di tengah tekanan global.
  • Yield SUN naik (harga turun) mengikuti kenaikan yield obligasi AS dan kekhawatiran inflasi.
  • Harga emas XAU turun sekitar 2% setelah reli panjang meskipun risiko geopolitik meningkat.
  • Dolar AS menguat sehingga menekan mata uang regional termasuk rupiah.

Tabel-Market-Update-9-Maret-2026

 

Strategic Insight Minggu Ini

Pasar global saat ini berada pada fase sensitif terhadap risiko geopolitik dan inflasi energi. Lonjakan harga minyak serta kenaikan yield obligasi AS membuat likuiditas global menjadi lebih ketat dan mendorong investor lebih selektif terhadap aset negara berkembang. Bagi investor jangka panjang, volatilitas seperti ini membuka peluang masuk secara bertahap pada aset yang fundamentalnya tetap kuat.

 

Global Market

Pasar keuangan global bergerak volatil pada pekan 2-6 Maret 2026 setelah meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dunia 28-35% dalam sepekan, dengan Brent bergerak di kisaran USD90 per barel dan WTI sekitar USD93 per barel.

Di pasar obligasi global, yield US Treasury tenor 10 tahun naik dari sekitar 3,96% menjadi sekitar 4,13% (harga UST turun), sementara indeks dolar AS (DXY) menguat dari sekitar 97,6 menjadi hampir 99. Kenaikan yield dan penguatan dolar membuat investor global lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.

 

Agenda Ekonomi dan Kebijakan

Selain geopolitik, beberapa agenda ekonomi juga mempengaruhi pasar selama minggu tersebut.

Pada 2 Maret, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi Indonesia Februari sekitar 4,7% (yoy), lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Data ini meningkatkan kekhawatiran bahwa suku bunga domestik dapat bertahan lebih tinggi lebih lama.

Bank Indonesia juga menegaskan stabilitas ekonomi domestik masih terjaga, dengan Indonesia masih mencatat surplus perdagangan sekitar USD0,9 miliar. Di tingkat global, perhatian pasar tertuju pada data tenaga kerja Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve yang mempengaruhi pergerakan yield global.

 

Indonesian Market

Sentimen global tersebut berdampak pada pasar domestik. IHSG turun sekitar 7,9% dalam sepekan ke level 7.586, sementara indeks utama seperti LQ45 dan IDX30 turun sekitar 6-7%.

Nilai transaksi IHSG selama minggu tersebut mencapai sekitar Rp124,8 triliun, menunjukkan aktivitas pasar tetap tinggi di tengah volatilitas. Investor asing mencatat net buy sekitar Rp2,2 triliun selama minggu tersebut, namun secara year-to-date masih net sell sekitar Rp7,3 triliun, menandakan arus dana asing belum sepenuhnya kembali.

Tekanan pasar terutama terjadi pada saham perbankan besar dan saham teknologi, sementara sektor energi dan komoditas relatif lebih kuat karena kenaikan harga energi global.

 

Bonds / SUN (Surat Utang Negara)

Pasar obligasi pemerintah juga mengalami tekanan. Yield SUN tenor 10 tahun naik dari sekitar 6,39% menjadi 6,55%, sementara tenor 3 tahun naik ke sekitar 5,63% dan tenor 1 tahun ke sekitar 5,15%.

Indeks obligasi pemerintah Indobex Government turun sekitar 0,66% dalam sepekan, mencerminkan penyesuaian harga obligasi terhadap kenaikan yield global serta kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi.

Meski demikian, secara fundamental kondisi domestik masih relatif stabil dengan inflasi yang terkendali dan kebijakan Bank Indonesia yang tetap fokus menjaga stabilitas pasar keuangan.

 

Currency Market

Penguatan dolar global (DXY) turut mempengaruhi mata uang negara berkembang. Rupiah bergerak di kisaran Rp16.800–Rp16.900 per dolar AS, cenderung melemah seiring meningkatnya permintaan dolar global.

Tekanan serupa juga terlihat pada beberapa mata uang regional. Yen Jepang berada di sekitar 155 per dolar, sementara baht Thailand dan peso Filipina juga mengalami pelemahan tipis, mencerminkan pergeseran dana global ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman.

 

Gold

Harga emas dunia XAU bergerak fluktuatif sepanjang minggu. Setelah sempat mencapai sekitar USD5.327 per troy ounce, harga emas kemudian terkoreksi dan ditutup di sekitar USD5.171, atau turun sekitar 2% dalam sepekan, meskipun secara year-to-date masih naik hampir 20%.

Koreksi ini dipicu oleh aksi profit taking setelah kenaikan tajam sebelumnya serta penguatan dolar AS. Namun ketidakpastian geopolitik dan pembelian emas oleh bank sentral tetap menjadi faktor pendukung tren emas dalam jangka menengah.

 

US Market

Pasar saham Amerika Serikat juga mengalami tekanan. Dow Jones turun sekitar 3% dalam sepekan, sementara Nasdaq turun sekitar 1,2%.

Penurunan ini dipicu oleh kenaikan yield obligasi AS serta kekhawatiran kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi akibat perang yang sedang berkecamuk di Timur Tengah yang mempengaruhi persediaan minyak, terutama yang melalui Selat Hormuz. Kenaikan yield juga meningkatkan daya tarik aset dolar sehingga memperkuat indeks dolar global.

 

Implikasi bagi Indonesia

Penguatan dolar dan kenaikan yield global berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini dapat memberi tekanan pada IHSG, rupiah, dan pasar obligasi domestik, terutama jika arus modal global menjadi lebih selektif.

Namun selama inflasi domestik tetap terkendali dan stabilitas makro terjaga, dampaknya cenderung bersifat sentimen jangka pendek, bukan perubahan fundamental ekonomi.

 

Factors to Watch:

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam beberapa minggu ke depan:

  • Perkembangan konflik Timur Tengah dan harga minyak. Jika konflik meluas dan harga minyak terus naik, tekanan inflasi global dapat meningkat dan pasar keuangan menjadi lebih volatil. Sebaliknya, jika ketegangan mereda, harga energi dapat stabil dan sentimen pasar berpotensi membaik.
  • Pergerakan yield US Treasury. Kenaikan yield obligasi AS cenderung menarik aliran dana global kembali ke aset dolar dan menekan pasar negara berkembang. Jika yield mulai turun, peluang arus dana kembali ke pasar emerging markets, termasuk Indonesia, akan lebih besar.
  • Arah kebijakan suku bunga The Fed. Jika suku bunga US tetap tinggi lebih lama, likuiditas global bisa tetap ketat dan pasar bergerak lebih berhati-hati. Jika muncul sinyal penurunan suku bunga, sentimen terhadap saham dan obligasi global biasanya membaik.
  • Stabilitas rupiah dan kebijakan Bank Indonesia. Pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh arah dolar global dan kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
  • Data inflasi dan indikator ekonomi domestik. Perkembangan inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta data konsumsi domestik akan menjadi penentu arah kebijakan ekonomi dan sentimen investor terhadap pasar Indonesia.

 

Tips Investasi

1. Reksa Dana

Dalam kondisi pasar yang volatil, investor disarankan menjaga diversifikasi portofolio dan masuk secara bertahap.

  • Reksa Dana Pasar Uang untuk stabilitas dan likuiditas jangka pendek.
  • Reksa Dana Pendapatan Tetap dapat mulai diakumulasi bertahap karena yield obligasi yang lebih tinggi membuka peluang imbal hasil lebih menarik untuk horizon 2–3 tahun.
  • Reksa Dana Saham tetap relevan untuk tujuan jangka panjang 3–5 tahun, terutama pada sektor dengan fundamental kuat. Terapkan strategi investasi rutin (Dollar Cost Averaging/DCA).
  • Untuk jangka pendek tidak disarankan untuk investasi di reksa dana saham, indeks saham, dan campuran karena ketegangan politik dan terganggunya pasokan energi akibat perang membuat terjadinya volatilitas pasar. Investasi di pendapatan tetap untuk jangka pendek disarankan pada reksa dana yang memiliki portofolio obligasi berdurasi pendek (cek Fund Fact Sheet).

 

2. Emas

  • Emas tetap berperan sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
  • Pembelian bertahap (DCA) saat terjadi koreksi dapat menjadi strategi yang lebih bijak.

 

3. Surat Berharga Negara (SBN)

Dalam situasi global yang saat ini penuh ketidakpastian,  manfaatkan investasi SBN seri SR024 yang sedang dalam masa penawaran pada 6 Maret – 15 April 2026.

  • SR024 tenor 3 tahun (SR024-T3) dengan kupon 5,55%
  • SR024 tenor 5 tahun (SR024-T5) dengan kupon 5,90%

SBN dijamin oleh Undang-Undang dan Negara untuk pembayaran kupon dan pokok.

 

Pesan untuk Investor tanamduit Minggu Ini

Volatilitas pasar yang terjadi saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal, terutama geopolitik dan pergerakan suku bunga global. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan investasi yang disiplin dan bertahap menjadi kunci. Menjaga diversifikasi antara saham, obligasi, dan instrumen yang lebih stabil dapat membantu investor menghadapi gejolak pasar sambil tetap memanfaatkan peluang jangka panjang.

 

Sumber berita: Bloomberg, Reuters, CNBC, Trading Economics, Bloomberg Technoz, PHEI, Bank Indonesia, BPS, IDX.

 

Yuk, investasi sekarang di tanamduit!

⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor wajib memahami profil risiko pribadi dan mempelajari karakteristik produk investasi, termasuk potensi risiko yang mungkin dihadapi. Informasi ini bersifat umum dan tidak dapat dijadikan sebagai jaminan kinerja di masa depan; kinerja historis tidak mencerminkan hasil di masa depan.

DISCLAIMER:

Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.

tanamduit Team

tanamduit adalah aplikasi investasi reksa dana, emas, Surat Berharga Negara (SBN) yang telah berizin dan diawasi oleh OJK.

banner-download-mobile