tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito. Sebelum berinvestasi, kenali kondisi market pada pekan 25-29 Agustus dan strategi investasinya melalui berita market update berikut.
Ringkasan Weekly Market Recap:
- IHSG Berfluktuasi di Tengah Sentimen Global dan Gejolak Domestik
- IHSG Agustus 2025: Optimisme Global Tertahan Gejolak Domestik
- Pergerakan Harga Emas Global dan Domestik
- Sentimen Politik Domestik: Risiko Nyata bagi Pasar Keuangan
- Tekanan Global dari Wall Street dan Treasury
Berikut adalah rangkuman kinerja indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi pada pekan 25-29 Agustus 2025, beserta data kinerja terbaru per tanggal 29 Agustus 2025.
IHSG Berfluktuasi di Tengah Sentimen Global dan Gejolak Domestik
Pada pekan 25–29 Agustus 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif dan akhirnya ditutup melemah tipis 0,36% ke level 7.830,49.
Awal pekan, indeks sempat menguat hampir 1% hingga menembus 7.926, seiring optimisme global setelah muncul sinyal The Fed berpotensi memangkas suku bunga. Dorongan sentimen eksternal ini bahkan membawa IHSG sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran 8.022 pada Kamis (28/8).
Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Menjelang akhir pekan, tekanan jual kembali muncul tajam, dipicu kekhawatiran terhadap ketidakstabilan politik dan aksi protes besar yang merebak di sejumlah kota di Indonesia.
Kondisi ini menimbulkan kepanikan investor yang memilih mengurangi eksposur, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar. Alhasil, IHSG terkoreksi cukup dalam pada perdagangan Jumat.
Meski IHSG berakhir melemah, aktivitas pasar justru meningkat signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian melonjak hingga 40% menjadi Rp25,2 triliun, mencerminkan tingginya volatilitas sepanjang pekan.
Investor asing tercatat aktif, meski pergerakannya berlawanan arah pada beberapa sesi. Kombinasi faktor eksternal yang positif dan risiko domestik yang meningkat menjadi penentu utama arah pergerakan IHSG pada pekan terakhir Agustus. (Liputan6, Bloomberg Technoz, Bisnis, Kontan)
IHSG Agustus 2025: Optimisme Global Tertahan Gejolak Domestik
Sepanjang Agustus 2025, IHSG bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menurun di akhir bulan.
Indeks sempat menembus rekor baru di atas 8.000, didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang meningkatkan aliran modal ke emerging markets. Namun, euforia itu meredup. Penyebabnya adalah gejolak politik dan aksi protes sosial di dalam negeri, yang memicu aksi ambil untung dan tekanan jual, terutama di saham-saham berkapitalisasi besar.
Ketidakpastian domestik inilah yang menahan potensi penguatan lebih lanjut, meski sentimen global sebenarnya cukup mendukung.
Dari sisi perdagangan, total nilai transaksi IHSG selama Agustus mencapai Rp435,7 triliun, mencerminkan tingginya minat dan volatilitas pasar. Investor asing tercatat membukukan net buy sebesar Rp12,3 triliun, didorong oleh keyakinan terhadap prospek jangka menengah ekonomi Indonesia, stabilitas makro, serta imbal hasil obligasi dan ekuitas yang relatif menarik dibanding negara lain.
Pergerakan asing ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan politik domestik, faktor global seperti arah kebijakan moneter AS dan daya tarik fundamental Indonesia tetap menjadi penopang aliran dana masuk. (Kontan, CNBC Indonesia)
SUN Bergerak Fluktuatif di Tengah Sentimen Global dan Tekanan Domestik
Pada minggu 25–29 Agustus 2025, harga Surat Utang Negara (SUN) bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di akhir pekan.
Yield SUN sempat turun di awal pekan seiring ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga, sehingga imbal hasil obligasi AS menurun dan memberikan ruang bagi aliran dana masuk ke pasar obligasi domestik.
Namun, menjelang akhir pekan, tekanan kembali muncul akibat ketidakpastian politik dan aksi protes sosial di dalam negeri yang meningkatkan premi risiko Indonesia. Kondisi ini mendorong investor melakukan aksi jual, sehingga yield SUN kembali naik.
Sepanjang pekan, nilai transaksi SUN tercatat sekitar Rp159 triliun, mencerminkan tingginya aktivitas di tengah volatilitas pasar.
Investor asing masih menunjukkan minat beli bersih (net buy) pada instrumen SUN, terutama di seri-seri benchmark tenor menengah dan panjang, dengan pertimbangan imbal hasil yang relatif tinggi dibandingkan negara lain.
Aliran dana asing ini menegaskan daya tarik fundamental obligasi Indonesia, meski sentimen domestik sempat menahan laju penguatan harga SUN di akhir pekan.
Pergerakan Harga Emas Global dan Domestik
Sepanjang minggu 25–29 Agustus 2025, harga emas global (XAU) bergerak menguat. Harga emas bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam sebulan di kisaran US$ 3.423,16 per ons.
Kenaikan ini dipicu oleh pelemahan dolar AS serta meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, sehingga emas kembali menjadi pilihan utama investor sebagai aset lindung nilai.
Namun, pada akhir pekan, terjadi koreksi tipis sekitar 0,3% ke US$ 3.408,26 per ons akibat aksi ambil untung, meski secara bulanan emas tetap mencatat kenaikan hampir 4% (Reuters).
Kenaikan harga emas global ini juga tercermin di pasar domestik. Harga emas batangan Antam pada 29 Agustus 2025 naik sebesar Rp20.000 menjadi Rp1.964.000 per gram. Sementara itu, harga buyback naik menjadi Rp1.810.000 per gram.
Sentimen positif datang dari meningkatnya ketidakpastian politik dalam negeri serta tingginya minat terhadap aset aman, yang memperkuat daya tarik emas di pasar lokal.
Kombinasi faktor global—yakni pelemahan dolar dan kebijakan moneter AS—bersama faktor domestik. membuat harga emas Antam ikut terkerek, sejalan dengan tren penguatan emas dunia (Kontan)
Sentimen Politik Domestik: Risiko Nyata bagi Pasar Keuangan
IHSG & Rupiah Melemah:
Ekonom senior dari DBS, Radhika Rao, mengamati bahwa eskalasi aksi protes telah merusak sinyal positif terhadap aset rupiah. Sebab, investor mulai menimbang kembali potensi kerusuhan yang lebih luas dan ketidakpastian kebijakan (Reuters).
Demikian pula, Teuku Riefky, peneliti di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Indonesia, menegaskan bahwa demonstrasi saat ini “mengirim sinyal ketidakstabilan politik kepada investor asing”. Hal ini dapat menjadi faktor yang memperparah pelemahan IHSG dan Rupiah (Reuters, Financial Times)
Yield SUN & Harga Emas Menguat:
Meningkatnya ketegangan politik turut memicu aksi flight-to-safety.
Daniel Tan, manajer portofolio di Grasshopper Asset Management, menyuarakan optimisme jangka panjang terhadap obligasi Indonesia—menganggap likuiditas dan kompetitifnya yield masih menarik bagi investor—meski dalam jangka pendek pasar mengalami tekanan volatilitas.
Sebagai safe-haven tradisional, harga emas di dalam negeri pun naik seiring meningkatnya permintaan lindung nilai, meskipun tidak disebutkan secara spesifik oleh analis di sumber tersebut. Namun, secara umum, tren ini konsisten dengan respons pasar terhadap ketegangan politik. (Reuters)
Tekanan Global dari Wall Street dan Treasury
Pada pekan 25–29 Agustus 2025, Wall Street ditutup melemah. Dow Jones turun tipis 0,2% & Nasdaq terkoreksi 1,2% setelah aksi jual sektor teknologi.
Yield US Treasury (obligasi pemerintah AS) jangka panjang naik ke level tertinggi sejak 2022, sementara tenor pendek justru turun.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) berfluktuasi, sempat menguat lalu melemah sekitar 0,7% seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed (apnews.com, wsj.com).
Bagi Indonesia, kombinasi ini berpotensi meningkatkan volatilitas. Pelemahan Wall Street bisa menekan IHSG. Sementara itu, kenaikan yield Treasury AS dapat mendorong yield SUN lebih tinggi.
Namun, pelemahan DXY justru memberi ruang penguatan rupiah dan membuka peluang aliran dana asing masuk, terutama bila pasar yakin bahwa The Fed segera melonggarkan kebijakan moneternya.
Factors to Watch bagi Investor Reksa Dana, SBN, dan Emas
Untuk investor reksa dana dan SBN, faktor global yang patut diperhatikan adalah arah kebijakan The Fed, pergerakan yield US Treasury, serta dinamika dolar AS.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed (bank sentral AS) memberi peluang aliran modal masuk ke pasar berkembang, yang bisa mendukung kinerja reksa dana saham dan obligasi. Namun, kenaikan yield Treasury jangka panjang berpotensi menekan harga SBN dan memperlebar volatilitas pasar obligasi domestik.
Di sisi nasional, situasi politik domestik terkini menjadi faktor krusial. Aksi protes besar dan ketidakpastian stabilitas politik menambah premi risiko investasi di Indonesia, menekan IHSG dan mendorong kenaikan yield SBN.
Bagi emas, ketegangan politik justru memperkuat perannya sebagai aset lindung nilai, sejalan dengan tren global ketika ketidakpastian meningkat. Dalam kondisi ini, investor sebaiknya menjaga diversifikasi portofolio dengan kombinasi instrumen berisiko dan aset safe haven.
Rekomendasi Investasi
1. Jangka Pendek (≤ 1 tahun)
Situasi politik domestik yang penuh ketidakpastian dan volatilitas global membuat investor perlu mengedepankan instrumen defensif. SBN ritel tenor pendek–menengah (misalnya SR terbaru) layak diprioritaskan, karena menawarkan kupon tetap dan perlindungan modal.
Emas juga relevan sebagai aset lindung nilai menghadapi potensi gejolak pasar dan fluktuasi rupiah. Untuk reksa dana, alokasi ke pasar uang atau pendapatan tetap jangka pendek lebih bijak dibanding ekuitas, karena lebih stabil di tengah risiko politik dan arah suku bunga global yang belum pasti.
2. Jangka Menengah (1–5 tahun)
Jika ketegangan politik mereda dan The Fed (bank sentral AS) benar-benar melonggarkan kebijakan, peluang di pasar saham Indonesia terbuka lebih lebar.
Investor dapat mulai menambah porsi pada reksa dana saham atau campuran, fokus pada sektor domestik yang resilient (tahan banting) seperti perbankan, konsumsi, dan infrastruktur.
SBN tenor menengah masih menarik untuk strategi income, apalagi jika suku bunga BI mulai diturunkan. Emas bisa dipertahankan sebagian (10–15% portofolio) sebagai diversifikasi, mengingat risiko global (geopolitik, siklus suku bunga) cenderung berulang.
3. Jangka Panjang (> 5 tahun)
Dalam horizon panjang, reksa dana saham menjadi tulang punggung pertumbuhan portofolio, seiring potensi ekonomi Indonesia yang kuat secara demografi dan fundamental.
SBN tenor panjang bermanfaat sebagai instrumen stabilitas, menjaga keseimbangan risiko dan return dalam portofolio.
Emas tetap disarankan dalam porsi kecil sebagai “asuransi” terhadap krisis global. Namun, fokus utama investor sebaiknya diarahkan pada aset produktif berimbal hasil lebih tinggi.
Dengan disiplin diversifikasi, investor bisa memanfaatkan momentum pemulihan pasar sekaligus menjaga daya tahan terhadap gejolak siklus politik dan ekonomi.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
Sebelum melakukan keputusan investasi, investor sangat disarankan untuk memahami profil risiko pribadi dan mempelajari produk-produk investasi, terutama mengenai potensi risiko yang mungkin akan dihadapi oleh masing-masing produk.
Top 5 Kinerja 1 Bulan Terakhir Reksa Dana Semua Jenis
Top 5 Kinerja 1 Tahun Terakhir Reksa Dana Semua Jenis
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, sebuah group usaha yang terdiri dari PT Mercato Digital Asia (induk Perusahaan), PT Star Mercato Capitale yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas.
Segala informasi yang dipublikasikan pada situs dan/atau aplikasi tanamduit hanya bertujuan untuk informasi dan bukan sebagai saran, rekomendasi, atau ajakan untuk membeli atau menjual suatu produk investasi tertentu yang terdapat dalam situs dan/atau aplikasi ini. Setiap analisis, proyeksi, maupun pernyataan yang merupakan prediksi suatu produk investasi bukan merupakan indikasi kinerja di masa mendatang, karena kinerja masa lalu tidak dapat dijadikan pedoman untuk kinerja masa depan.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha dengan itikad baik untuk memberikan informasi yang akurat, namun tidak menjamin bahwa informasi yang diambil dari berbagai sumber adalah tanpa adanya kesalahan, kelalaian, ketidakakuratan teknis atau faktual ataupun kesalahan ketik. Informasi yang tersedia dalam situs dan/atau aplikasi ini bukan sebagai informasi yang mengikat namun semata-mata hanya sebagai informasi tambahan dan pelengkap.




