tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
Sebelum berinvestasi, yuk, kenali kondisi market pada pekan 22-24 Desember 2025 dan tips investasinya melalui berita market update berikut!
Ringkasan Weekly Market Recap:
- IHSG naik awal tahun didorong arus asing dan saham big caps.
- SUN stabil, yield naik tipis karena rebalancing awal tahun.
- Emas melonjak karena ekspektasi Fed cut dan sentimen safe haven.
- Saham AS naik, yield US Treasury stabil, indeks dolar DXY menguat tipis.
- Rupiah melemah tipis mengikuti penguatan dolar global.
- Data makro Indonesia mixed tetapi sentimen pasar tetap positif.
IHSG Awal 2026: Tembus Rekor, Asing Masuk, Big Caps Jadi Motor
Pada minggu 5-9 Jan 2026, IHSG menguat +2,16% ke 8.936 didukung reli awal tahun yang sempat membawa indeks menembus level psikologis 9.000 (intraday) sebelum terkoreksi tipis dan kembali stabil; pergerakan ini lebih fundamental-sentimen (optimisme suku bunga global melonggar dan risk appetite membaik) namun juga ada unsur temporer (seasonal Januari/rotasi awal tahun). Penguatan juga tercermin pada LQ45 +1,88% dan ISSI +3,00%, menandakan motor utamanya tetap saham-saham besar.
Dari sisi aktivitas, nilai transaksi selama 5-9 Jan 2026 sekitar Rp139,5 triliun, dan kenaikan IHSG terutama ditopang big caps / LQ45 (bank besar dan saham komoditas) sehingga wajar IDX30 ikut menguat. Asing net buy Rp2,04 triliun sepanjang pekan karena arus masuk awal tahun dan positioning ke saham likuid; saham yang dominan diborong asing pada periode ini banyak berkisar di bank besar (BBRI/BBCA/BMRI) serta komoditas logam/energi seperti ANTM dan beberapa mineral / coal names, pola akumulasi yang juga terlihat pada hari-hari ketika IHSG sempat melemah namun asing tetap beli.
Untuk prospek 2026, katalis utama IHSG masih: (1) peluang pelonggaran BI rate jika inflasi tetap dalam sasaran dan stabilitas terjaga, (2) arah kebijakan US Fed mengenai suku bunga USD yang mempengaruhi DXY dan yield UST (kunci arus dana asing), serta (3) rotasi sektor domestik (bank, komoditas, infrastruktur/consumer) seiring pertumbuhan dan likuiditas. Sejumlah analis bahkan membuka ruang IHSG menuju 10.000-an bila tren risk-on dan arus asing membaik berlanjut, namun volatilitas tetap mungkin muncul bila DXY/yield UST mendadak naik atau terjadi risk-off global. (Kontan, IDX)
SUN Stabil, Yield Naik Tipis
Pasar SUN relatif stabil pada minggu 5-9 Januari 2026, yield Indo 10Y naik tipis ke 6,18%, sementara Indobex menguat sangat terbatas (+0,04%). Nilai transaksi sekitar Rp110 triliun, dengan pergerakan dipengaruhi rebalancing awal tahun dan kehati-hatian pasar menanti arah suku bunga 2026.
Asing tercatat net buy selektif di SBN pada awal Januari, meski arus terbagi ke instrumen lain (terutama SRBI).
Di tahun 2026, prospek SUN konstruktif jika inflasi terjaga dan BI punya ruang easing; peluang capital gain terbuka terutama di tenor menengah-panjang, dengan risiko utama bila yield UST/DXY naik tajam. (PHEI, Bank Indonesia Reuters Investing)
Emas Awal 2026 Menguat Karena Ekspektasi Pemotongan Suku Bunga US oleh The Fed
Pada pekan 5-9 Jan 2026, harga emas (XAU) naik sekitar +4,16% (dari USD 4.448 ke USD 4.510/oz), terutama didorong lonjakan permintaan safe haven akibat meningkatnya tensi geopolitik (termasuk berita penangkapan/penculikan pemimpin Venezuela), serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang menguat setelah sejumlah data tenaga kerja AS yang melemah; sempat ada profit taking di tengah pekan, namun tren mingguan tetap naik. Pergerakan ini lebih fundamental (risk-off/geopolitik dan ekspektasi suku bunga) meski volatilitas harian diperbesar oleh likuiditas awal tahun dan penyesuaian portofolio.
Di periode pekan tersebut tidak ada pengumuman transaksi harian yang besar dan spesifik, namun rilis data pada pekan itu menguatkan narasi bahwa pembelian resmi masih berlanjut. Reuters melaporkan China menambah emas pada cadangan devisa untuk bulan Desember (bulan ke-14 berturut-turut), dan World Gold Council mencatat pembelian bersih bank sentral tetap kuat pada periode terbaru yang tersedia (yaitu November 2025). Jadi, kenaikan pekan lalu lebih banyak dipicu sentimen makro dan geopolitik, sementara tren pembelian bank sentral menjadi penopang struktural. (Reuters)
Wall Street Awal 2026: Saham Menguat, Yield Stabil, Dolar Menguat Tipis
Pada minggu 5-9 Jan 2026, indeks Dow Jones naik +2,3% dan Nasdaq +1,9% menguat karena sentimen awal tahun (risk-on) dan ekspektasi penurunan suku bunga bertahap di 2026; kenaikan ini campuran fundamental (arah kebijakan Fed, prospek ekonomi) dan temporer (rebalancing portfolio di awal tahun).
Yield US Treasury 10Y bergerak stabil di kisaran 4,14-4,18%, sementara DXY naik ke kisaran 99, mencerminkan pasar masih berhati-hati menunggu data ekonomi AS; yield yang tidak melonjak mendukung harga saham, tetapi dolar yang menguat tipis menahan euforia.
Dampak ke Indonesia: sentimen global yang positif membantu IHSG, namun indeks DXY yang lebih kuat membuat arus asing lebih selektif. Sepanjang 2026, jika yield AS dan dolar tetap terkendali, maka Rupiah, IHSG, dan SUN berpeluang diuntungkan, sebaliknya lonjakan yield/dolar berisiko meningkatkan volatilitas. (Reuters, CNBC, Bloomberg, Investing.com, Trading Economics)
Awal Januari 2026 Rupiah Tertekan Dolar AS
Rupiah melemah tipis 0,48% pada minggu 5-9 Januari 2026 ke kisaran 16.800/USD, terutama akibat penguatan dolar AS dan sikap hati-hati pasar menjelang rilis data ekonomi AS. Faktor domestik relatif stabil sehingga pelemahan lebih dipicu sentimen global.
Pergerakan ini bersifat temporer, terkait positioning awal tahun dan dinamika dolar, bukan perubahan fundamental Indonesia; BI tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar.
Secara regional, Rupiah searah MYR, sedikit lebih lemah dari SGD, dan mirip PHP dan JPY, sementara THB dan CNY menguat tipis, menegaskan tekanan berasal dari USD global. (BI, Reuters, Bloomberg, Investing.com)
Data Makro Indonesia Awal 2026 dan Pengaruhnya ke Pasar Keuangan Indonesia
Di awal Januari 2026 rilis data makro utama menunjukkan surplus perdagangan November 2025 sebesar US$2,66 miliar, lebih rendah dari ekspektasi akibat ekspor komoditas yang melemah, serta inflasi Desember 2025 naik ke 2,92% yoy namun masih dalam target BI. Data ini memberi sinyal ekonomi tetap solid, meski momentum eksternal mulai melandai dan tekanan harga meningkat terbatas. (BPS, Reuters, CNBC Indonesia)
Dampak ke IHSG: pasar saham tetap menguat karena sentimen global yang positif dan positioning awal tahun, dengan investor menilai inflasi yang masih terkendali memberi ruang BI tetap akomodatif; namun seleksi saham makin penting seiring normalisasi kinerja komoditas. (Bloomberg Technoz, CNBC Indonesia)
Dampak ke SUN dan Rupiah: pasar SUN akan relatif stabil, sementara Rupiah masih akan tertekan oleh penguatan dolar global; BI mencatat arus asing masuk ke saham dan SRBI, namun aliran ke SBN lebih terbatas, membuat obligasi bergerak hati-hati. Ke depan, arah Rupiah dan SUN tetap sangat bergantung pada stabilitas dolar/yield global dan kebijakan BI. (Bank Indonesia, Reuters, Kontan)
Tips Investasi
Rekomendasi Investasi 2026
- Investor Reksa Dana
Jadikan reksa dana pendapatan tetap dan campuran sebagai inti, sementara reksa dana saham berperan sebagai akselerator kinerja yang ditambah secara disiplin.- Pendapatan Tetap (Core Portfolio): Khususnya dengan durasi menengah (±3-7 tahun), menjadi fondasi portofolio di 2026. Yield atau potensi return masih relatif menarik dan peluang capital gain terbuka apabila tren penurunan suku bunga global dan domestik berjalan bertahap. Instrumen ini berfungsi sebagai penopang stabilitas di tengah volatilitas pasar.
- Reksa Dana Campuran (All-Weather Allocation): Reksa dana campuran layak diposisikan sebagai pilihan “segala cuaca”, terutama bagi investor moderat. Fleksibilitas manajer investasi dalam mengatur rotasi saham dan obligasi memung-kinkan investor tetap berpartisipasi dalam kenaikan pasar, tanpa harus menanggung volatilitas penuh reksa dana saham.
- Reksa Dana Saham (Growth dengan Disiplin): Untuk reksa dana saham, pendekatan yang disarankan adalah akumulasi bertahap (DCA) dan selektif. Fokus pada fund yang bertumpu pada saham berkapitalisasi besar dan berfundamental kuat, terutama sektor perbankan dan sektor defensif-siklikal. Penambahan ideal dilakukan saat koreksi, bukan saat euforia pasar.
- Investor Emas: Peran Emas dalam Portofolio
Emas tetap relevan sebagai alat diversifikasi dan lindung nilai di tengah ketidakpastian global, siklus pelonggaran moneter yang bertahap, dan permintaan struktural dari bank sentral. Namun, kenaikan harga yang sudah signifikan menuntut pendekatan yang lebih terukur.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor wajib memahami profil risiko pribadi dan mempelajari karakteristik produk investasi, termasuk potensi risiko yang mungkin dihadapi. Informasi ini bersifat umum dan tidak dapat dijadikan sebagai jaminan kinerja di masa depan; kinerja historis tidak mencerminkan hasil di masa depan.
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.


