Home » 5 Faktor Umum yang Mempengaruhi Harga Emas

5 Faktor Umum yang Mempengaruhi Harga Emas

oleh | Okt 9, 2020

Harga emas selama 10 tahun terakhir terus mengalami perubahan. Sejak kuartal-III tahun 2010, kenaikan emas sekitar 119% dengan rata-rata sekitar 8,1% per tahunnya, suatu angka pertumbuhan yang cukup baik dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan yang rata-rata pertumbuhannya sekitar 5,4% per tahun.

Sejak akhir bulan Mei 2019 sampai dengan akhir September 2020 instrumen emas menunjukkan peningkatan yang signifikan, sekitar 37%, sebaliknya dalam periode yang sama harga-harga saham yang dituangkan dalam bentuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menurun sekitar 16%. Dalam periode yang sama di pasar global, kenaikan emas tumbuh sekitar 45%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan indeks Dow Jones, di bursa saham Amerika Serikat yang hanya sekitar 12%.

Pada periode akhir 2012 sampai dengan Mei 2019 indeks Dow Jones tumbuh sekitar 106% sedangkan, untuk emas turun sekitar 22%. Sementara itu, di Indonesia pada periode yang sama IHSG tumbuh sekitar 48%, sedangkan untuk emas masih dalam tren positif lebih dari 30%.

5 Faktor Umum yang Mempengaruhi Harga Emas

1. Harga Emas dalam USD

Sekitar 70% emas global ditransaksikan menggunakan mata uang USD. Pada saat harga emas dalam USD naik, umumnya nilai dari emas dalam Rupiah juga akan naik.

2. Nilai Tukar USD terhadap Rupiah

Seringkali pada saat emas dalam USD mengalami penurunan, tetapi dalam Rupiah relatif tidak ikut turun. Kenapa? Karena pada saat yang bersamaan nilai Rupiah melemah terhadap USD atau nilai USD menguat terhadap Rupiah, sehingga konversi USD menjadi Rupiah tidak membuat  emas ikut turun.

Sering pula pada saat harga emas dalam USD mengalami kenaikan tetapi kenaikan emas dalam Rupiah tidak setinggi dalam USD, karena pada saat yang bersamaan Rupiah mengalami penguatan terhadap USD. Pelemahan Rupiah terhadap USD cenderung membuat nilai emas dalam Rupiah naik.

    Baca Juga: Pengertian Emas, Jenis, Manfaat, dan Cara Membedakan Emas Asli

    3. Kebijakan Moneter US Federal Reserve Mengatasi Situasi Krisis

    Pada tahun 2008 US Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, sepanjang tahun 2008 menurunkan US Fed Rate dari 4,25% pada awal tahun 2008 menjadi 0,25% pada bulan November 2008. Harga emas meningkat tajam sekitar 60% dalam setahun sejak November 2008 dan sekitar 170% dalam waktu 3 tahun.

    Pada awal tahun 2020 US Fed menurunkan bunga dari 1,75% padabulan Januari menjadi 1,00% di bulan Februari dan menjadi 0,25% pada bulan Maret 2020. Sejak itu nilai emas naik sekitar 17% dalam waktu 6 bulan.

      4. Demand and Supply

      Pada semester 1 tahun 2016 permintaan terhadap emas secara global naik sekitar 15%, sedangkan supply emas tumbuh hanya sekitar 10%, hal ini mendorong harga emas global naik sekitar 27% di periode yang sama.

      5. Uncertainty atau Ketidakpastian

      Sepanjang tahun 2019 harga emas global naik sekitar 19% karena naiknya permintaan yang dipicu oleh ketidakpastian ekonomi akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang berkepanjangan dan meningkat intensitasnya.

      Sejak awal tahun 2020 sampai dengan artikel ini ditulis pada awal Oktober 2020, pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan drastis kegiatan ekonomi yang ditandai dengan penurunan secara drastis demand dan supply yang mengakibatkan ketidakpastian ekonomi meningkat secara signifikan. Pada periode yang sama harga emas dalam USD naik sekitar 27% sedangkan dalam Rupiah naik sekitar 19%.

      Dalam situasi ketidakpastian yang tinggi, umumnya harga saham dan obligasi tertekan karena investor beramai-ramai mengurangi portofolio surat berharga. Sebaliknya harga emas naik secara signifikan. Emas adalah kelas aset yang dapat digunakan sebagai bumper atau penyangga dari penurunan harga portofolio saham atau reksa dana pada saat krisis. Pada bulan Januari sampai dengan September 2020 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 22% sementara harga emas naik sekitar 19%.

      Jadi, emas adalah kelas aset yang dapat diandalkan sebagai instrumen investasi untuk  jangka panjang. Hal ini dikarenakan kinerja emas dalam kondisi normal lebih tinggi dari inflasi. Selain itu volatilitasnya lebih rendah dari volatilitas harga portofolio saham atau reksa dana saham. Kenaikan harga emas saat krisis dapat menekan kerugian yang berasal dari portofolio saham.

      Penulis: Muhammad Hanif

      tanamduit Team
      tanamduit Team

      tanamduit adalah aplikasi investasi dengan beragam produk seperti reksa dana, SBN, emas dan asuransi. tanamduit telah terdaftar dan diawasi oleh OJK.

      banner-download-mobile