Home » Deposito vs Reksa Dana: Lebih Untung Mana?

Deposito vs Reksa Dana: Lebih Untung Mana?

oleh | Des 16, 2021

Kalau ngobrolin investasi bareng orang tua kita, kemungkinan besar mereka akan merekomendasikan produk emas dan deposito. Akan tetapi, belakangan ini produk reksa dana menjadi lebih populer, terutama di kalangan anak muda, baik millenials muda maupun Gen-Z. Sebenarnya, manakah yang lebih untung antara deposito vs reksa dana? Yuk, kita kupas tuntas pada artikel ini~

1. Pengertian Deposito vs Reksa Dana

Deposito adalah salah satu produk bank dalam bentuk simpanan berjangka dengan persentase bunga yang lebih besar dari tabungan biasa. Jangka waktu deposito beragam, mulai dari 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, hingga 36 bulan. Terdapat opsi untuk automatic roll over (ARO) untuk memperpanjang secara otomatis jangka waktu deposito saat jatuh tempo.

Sementara itu, reksa dana adalah sebuah wadah yang isinya dana kolektif dari masyarakat. Dana kolektif ini akan diinvestasikan oleh manajer investasi (MI) pada produk yang beragam, di antaranya deposito, obligasi (surat utang), saham, dan surat berharga lainnya. Jadi, kalau dibandingkan dengan deposito, produk ini memiliki profil risiko yang beragam. Produk reksa dana yang risikonya rendah seperti deposito adalah reksa dana pasar uang (RDPU). RDPU merupakan jenis reksa dana yang 100% dana investasinya manajer investasi alokasikan pada produk pasar uang seperti deposito dan surat berharga yang jatuh temponya <1 tahun.

Baca juga: Tutorial Lengkap: Cara Investasi Reksa Dana Untuk Pemula

2. Perbedaan dan Perbandingan Deposito vs Reksa Dana

Sebelum mengetahui produk mana di antara keduanya yang lebih menguntungkan, kamu harus mengetahui terlebih dahulu perbedaan dan perbandingan antara keduanya.

2.1. Deposito menjanjikan imbal hasil tetap (fixed)

Bank sudah menentukan sejak awal bunga atau imbal hasil dari deposito saat kamu membuka rekening deposito. Artinya, imbal hasil yang kamu dapatkan setiap bulannya tetap sesuai dengan perjanjian awal dengan bank tempat kamu menaruh deposito.

Hal ini jelas berbeda dengan reksa dana. Faktor penentu imbal hasil produk ini adalah dari kinerja produk-produk yang kelolaan oleh manajer investasi. Sebagai contoh, RDPU A mengalokasikan 100% dana kelolaannya pada produk deposito dan surat berharga yang jatuh temponya <1 tahun. Artinya, performa deposito dan surat berharga tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan nilai reksa dana dan imbal hasil yang kita dapatkan.

2.2. Imbal hasil deposito dikenakan pajak 20%, reksa dana bebas pajak

Ketika kamu menaruh uang kamu dalam bentuk tabungan atau deposito, bank akan mengenakan pajak 20% dari total imbal hasil yang kamu dapatkan. Berbeda halnya dengan reksa dana yang tidak kena pajak, karena memang tidak termasuk objek pajak. Jadi, kamu akan mendapatkan imbal hasil yang lebih optimal tanpa potongan pajak dan biaya admin, kalau menginvestasikan uangmu pada produk ini.

2.3. Deposito dikelola oleh bank, reksa dana dikelola oleh manajer investasi

Kalau kamu menginvestasikan uang dalam bentuk deposito, bank yang mengeluarkan produk deposito tersebut akan mengelola dana depositomu sepenuhnya. Biasanya, bank akan menyalurkan dana deposito untuk kredit kepada orang yang membutuhkan dana. Sementara itu, reksa dana dikelola oleh manajer investasi. Manajer investasi akan mengalokasikan dana kelolaannya ke beragam produk sesuai dengan jenisnya.

2.4. Investasi reksa dana, auto diversifikasi, sedangkan deposito tidak

Don’t put all of your eggs in one basket, peribahasa yang populer di dunia investasi ini bisa jadi pegangan buat kamu untuk tidak menaruh semua uangmu pada satu produk investasi yang sama. Penting banget untuk melakukan diversifikasi untuk meminimalisir risiko dan mengoptimalkan imbal hasil yang kamu dapatkan ketika berinvestasi. Kalau kamu menaruh seluruh uangmu dalam bentuk deposito, kamu hanya berinvestasi pada satu keranjang saja, yaitu produk deposito tersebut. 

Berbeda halnya kalau kamu menginvestasikan uangmu dalam bentuk reksa dana. Dana investasimu akan otomatis terdiversifikasi ke berbagai produk investasi. Sebagai contoh, kamu berinvestasi pada produk RD saham, manajer investasi akan mengalokasikan 80% dana investasimu pada saham-saham terbaik. Sementara, 20% dana kelolaan lainnya dapat manajer investasi alokasikan pada produk deposito dan surat utang (obligasi). Jadi, kamu nggak perlu bingung mau investasi di mana saja, karena portofolio investasimu otomatis terdiversifikasi pada produk-produk terbaik pilihan manajer investasi.

Baca juga: Tips Diversifikasi Investasi Untuk Pemula

2.5. Modal awal deposito vs reksa dana, mana lebih terjangkau?

Umumnya, ketika kamu mau membuka rekening deposito di bank, minimum setoran awalnya berkisar Rp500 ribu hingga Rp10 juta. Di sisi lain, investasi reksa dana jauh lebih terjangkau dengan minimum pembelian yang bervariasi, mulai dari Rp10 ribu, Rp50 ribu, hingga Rp100 ribu saja, lho. 

2.6. Kalau butuh dana darurat, mana yang lebih likuid antara deposito atau reksa dana?

Deposito memiliki jangka waktu simpan yang beragam, mulai dari 3 bulan hingga 36 bulan. Namun, bukan berarti tidak bisa dicairkan sama sekali apabila sewaktu-waktu membutuhkan dana segera. Kamu bisa mencairkan dana deposito lebih awal, dengan catatan bank akan mengenakan biaya pinalti atau denda.

Sementara itu, reksa dana lebih fleksibel, karena kamu dapat menjualnya kapan saja. Hanya saja, uang hasil penjualannya membutuhkan waktu maksimal 7 hari kerja untuk ditransfer ke rekeningmu. Setiap jenis reksa dana memiliki estimasi pengiriman dana hasil penjualan yang berbeda. Untuk produk RDPU, prosesnya membutuhkan waktu 1–2 hari kerja, sedangkan produk RD pendapatan tetap, campuran, saham, dan indeks proses membutuhkan waktu lebih lama, sekitar 3–7 hari kerja.

2.7. Risiko investasi deposito vs reksa dana

Deposito memiliki risiko rendah dan mendapat jaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) s.d. Rp2 miliar, apabila sewaktu-waktu bank penyedia deposito mengalami kebangkrutan. Sementara itu, produk reksa dana memiliki risiko beragam, tergantung jenisnya. RDPU yang isinya produk deposito dan surat berharga yang jatuh temponya jangka pendek risikonya paling rendah dibandingkan jenis lainnya. RD pendapatan tetap dan campuran memiliki tingkat risiko menengah. Jenis reksa dana yang paling tinggi risikonya adalah RD saham.

Berikut ringkasan perbedaan antara deposito vs reksa dana dalam bentuk tabel.

deposito-vs-reksa-dana

deposito-vs-reksa-dana

3. Simulasi Investasi Deposito dan Reksa Dana

Dalam simulasi investasi kali ini, produk deposito akan kita simulasikan secara langsung dengan jenis reksa dana yang berisi produk deposito juga, yaitu RDPU. Asumsikan kamu memiliki dana investasi sebesar Rp10 juta. Pilihan investasimu jatuh di antara dua produk, yaitu deposito atau RDPU. Imbal hasil rata-rata deposito bank buku IV adalah 2,75% per tahun, sementara imbal hasil RDPU kita asumsikan sebesar 4,57% yang diambil dari rata-rata kinerja satu tahun 5 produk RDPU terbaik di tanamduit berdasarkan nilai aktiva bersih (NAB) atau harga reksa dana per 15 Desember 2021. Berikut simulasi perhitungannya!

RDPU Deposito
Modal Awal Rp10.000.000 Rp10.000.000
Imbal Hasil 4,57% 2,75%
Pajak 0% 20%
Kupon Bersih 4,57% 2,20%
Imbal Hasil Bersih/bulan Rp38.083,33 Rp18.333,33
Imbal Hasil Bersih/tahun Rp457.000,00 Rp220.000,00

Berdasarkan simulasi di atas, kita dapat melihat bahwa dengan menginvestasikan jumlah dana yang sama pada dua produk berbeda, perbedaaan imbal hasil yang akan kamu dapat cukup signifikan. RDPU bisa jadi alternatif investasi yang lebih menguntungkan daripada deposito dengan tingkat risiko yang sama-sama rendah. 

Kamu bisa investasikan danamu pada produk-produk reksa dana yang tersedia di tanamduit sesuai dengan kebutuhan dan tujuan investasimu. Yuk, mulai investasimu bareng tanamduit!

Penulis: Syafira Maulida

 

 

Syafira Maulida
Syafira Maulida

Penulis lulusan Sastra Indonesia yang tertarik dengan dunia musik dan kecantikan. Saat ini, Fira juga sedang mengerjakan projek musik bersama kedua bandnya sebagai vokalis sekaligus komposer lirik.

banner-download-mobile